Menepi Lebih Aman Saat Mobil Listrik Bermasalah, Kuncinya Baca Indikator Sejak Awal

Menepikan mobil listrik yang bermasalah di jalan ternyata tidak selalu harus menunggu mobil derek datang. Dalam kondisi tertentu, kendaraan masih bisa dipindahkan ke sisi jalan dengan cara yang aman, asalkan pengemudi memahami tanda peringatan sejak awal dan tahu langkah yang tepat.

Kuncinya ada pada bagaimana mobil memberi sinyal ketika ada gangguan. Biasanya, sistem sudah lebih dulu menampilkan indikator atau pesan di dashboard sebelum masalah berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Menurut Founder EVSafe Indonesia, Mahaendra Gofar, warna indikator pada mobil listrik umumnya mengikuti konvensi tertentu. Warna kuning menandakan peringatan, sedangkan warna merah menunjukkan keadaan bahaya yang perlu segera ditanggapi.

Membaca arti indikator sejak awal menjadi penting karena mengabaikannya justru dapat memperburuk kerusakan. Selain itu, risiko mobil benar-benar berhenti di tengah jalan juga ikut meningkat bila pengemudi terlambat mengambil tindakan.

Saat gangguan tergolong berat, mobil listrik biasanya masuk ke mode keselamatan otomatis. Sistem ini bekerja lewat komputer kendaraan untuk mencegah kerusakan komponen yang lebih parah dan menekan risiko kecelakaan.

Di Indonesia, kondisi tersebut lebih dikenal sebagai limp mode. Dalam mode ini, mobil masih bisa dijalankan, tetapi tenaga yang tersedia dibatasi sehingga kecepatan dan akselerasinya tidak lagi normal.

Pembatasan itu bukan tanpa tujuan. Mobil diberi kesempatan untuk bergerak pelan ke tempat aman, bukan berhenti mendadak di lajur yang sedang ramai dilalui kendaraan lain.

Salah satu situasi yang paling sering membuat pengemudi panik adalah ketika baterai hampir habis. Namun, daya yang benar-benar mencapai nol persen biasanya tidak langsung membuat mobil mati tanpa peringatan.

Sebelum benar-benar habis, mobil listrik umumnya lebih dulu masuk ke limp mode. Pada tahap ini, penggunaan daya dipangkas agar kendaraan masih memiliki cukup tenaga untuk menepi.

Gofar menyebut kondisi tersebut biasanya ditandai dengan turtle mode atau ikon kura-kura. Tanda ini menjadi sinyal bahwa mobil sudah berada dalam kondisi sangat terbatas dan perlu segera diarahkan ke lokasi aman.

Jika mobil masih memiliki daya dan perlu dipindahkan, ada cara yang bisa digunakan agar kendaraan bisa didorong. Langkah umumnya adalah memasukkan mobil ke posisi netral melalui Towing Mode atau Mode Derek.

Setelah mode itu aktif, mobil dapat didorong seperti saat memindahkan kendaraan untuk parkir paralel. Fitur ini membantu proses evakuasi, terutama bila mobil harus segera disingkirkan dari badan jalan.

Gofar menjelaskan bahwa pemilik mobil listrik biasanya sudah mengenal cara masuk ke mode towing. Alasannya sederhana, fitur tersebut juga dipakai dalam kebutuhan harian, termasuk saat parkir paralel.

Situasinya menjadi lebih rumit ketika mobil mati total tanpa daya. Dalam kondisi seperti ini, kendaraan tidak mudah didorong karena sistem pemindah gigi bekerja secara elektronik dan tetap membutuhkan suplai listrik.

Aki 12V juga punya peran penting dalam proses tersebut. Jika aki 12V soak, shifter tetap memerlukan daya agar mobil bisa dinetralkan, meski mobil listrik sendiri menggunakan baterai utama untuk bergerak.

Selama dashboard masih menyala, mobil umumnya masih memiliki peluang untuk dimasukkan ke netral atau towing mode. Namun bila mobil sudah benar-benar mati total, bantuan tim towing atau first responder biasanya dibutuhkan.

Langkah yang lazim dilakukan adalah menjumper aki 12V terlebih dahulu agar sistem kembali mendapat suplai daya. Setelah itu, kendaraan baru bisa dinetralkan dan dipindahkan dengan lebih aman.

Karena itu, penanganan mobil listrik bermasalah di jalan tidak hanya soal menderek. Pemahaman terhadap warning dashboard, limp mode, turtle mode, dan towing mode menjadi bekal penting agar mobil bisa segera menepi sebelum gangguan berubah menjadi situasi yang lebih berisiko.

Source: oto.detik.com

Baca Juga

Back to top button