MBG Hampir Mencapai Tiga Perempat Target, Kualitas Layanan dan Dampak Ekonomi Ikut Naik

Di balik perluasan Program Makan Bergizi Gratis, sorotan kini tidak hanya tertuju pada jumlah penerima, tetapi juga pada kualitas layanan yang menyertainya. Hingga Mei 2026, program ini telah menjangkau 61,9 juta penerima manfaat, atau 74,8 persen dari target nasional 82,9 juta orang.

Data yang disampaikan Badan Komunikasi Pemerintah di Jakarta Pusat itu menunjukkan capaian MBG sudah berada di dekat tiga perempat sasaran nasional. Kepala Bakom Pemerintah, M Qodari, menyebut jumlah penerima manfaat yang terdata mencapai 61.991.412 orang.

Di saat cakupan terus melebar, standar layanan ikut diperkuat melalui perkembangan Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis atau SPPG. Saat ini tercatat 28.390 SPPG, dan 15.735 unit di antaranya sudah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.

Porsi SPPG yang bersertifikat itu setara 55,42 persen dari total unit yang terdata. Angka tersebut memperlihatkan bahwa perluasan program tidak berjalan sendirian, melainkan diikuti penguatan aspek kebersihan dan sanitasi dapur layanan.

Kualitas konsumsi ikut bergerak naik

Badan Komunikasi Pemerintah juga mengutip hasil survei monitoring dan evaluasi program yang diterbitkan Badan Pusat Statistik. Salah satu indikator yang dipantau adalah persentase siswa yang menghabiskan seluruh porsi MBG yang diterima.

Pada Juli 2025, tingkat siswa yang menghabiskan porsi MBG tercatat 66,9 persen. Angka itu naik menjadi 69,8 persen pada November 2025, yang dinilai menunjukkan adanya perbaikan berkala pada kualitas menu dan cita rasa.

Perubahan ini penting karena menunjukkan bahwa penerimaan terhadap program tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan. Kualitas sajian tampak ikut berpengaruh pada seberapa jauh porsi yang disediakan benar-benar dikonsumsi.

Rantai pasok lokal ikut terdorong

Dari sisi ekonomi, MBG juga memberi dampak pada penyedia bahan pangan. Dalam pemantauan BPS, sebanyak 85,6 persen supplier MBG mencatat kenaikan nilai penjualan selama Januari sampai Oktober 2025.

Temuan itu menggambarkan bahwa program ini tidak berhenti pada penyaluran makanan bergizi kepada penerima. Aktivitasnya juga menciptakan permintaan yang mengalir ke rantai pasok lokal, terutama pihak-pihak yang memasok bahan pangan untuk layanan tersebut.

Efek ini membuat MBG memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar program konsumsi. Di tingkat penyedia, program turut menggerakkan transaksi dan memberi ruang pertumbuhan usaha.

Respons rumah tangga cenderung positif

Survei BPS juga memperlihatkan bahwa mayoritas rumah tangga penerima manfaat memberi penilaian positif terhadap MBG. Mereka menyatakan setuju bahwa program ini mempermudah akses terhadap makanan sehat dan memberi keuntungan ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

Tingkat persetujuan itu disebut meningkat dari Juli ke November 2025 pada seluruh aspek yang disurvei. Pola ini memperkuat gambaran bahwa program mulai diterima bukan hanya sebagai bantuan pangan, tetapi juga sebagai intervensi yang terasa manfaatnya di rumah tangga.

Dengan jumlah penerima yang sudah menembus 61,9 juta orang, pekerjaan berikutnya bukan lagi sekadar memperluas jangkauan. Pemerintah juga dituntut menjaga konsistensi kualitas layanan, kebersihan dapur, dan dampak ekonomi agar laju program tetap sejalan dengan target nasional.

Exit mobile version