Marsch Tetap Tenang Usai Kanada Diimbangi Irlandia, Meski Celah Jelang Piala Dunia Masih Terlihat

Jesse Marsch memilih melihat hasil imbang 1-1 melawan Irlandia sebagai bahan pembacaan yang lebih luas ketimbang sekadar angka di papan skor. Ia menilai Kanada masih menunjukkan arah permainan yang menjanjikan, meski pertandingan terakhir sebelum Piala Dunia 2026 itu belum berujung kemenangan.

Di Montreal, Kanada sempat memegang kendali cukup lama dan berkali-kali menekan pertahanan Irlandia. Namun, keunggulan yang mereka dapatkan tidak bertahan sampai akhir, sehingga laga ditutup dengan pembagian poin yang membuat evaluasi tim harus berjalan lebih detail.

Kanada sebenarnya datang ke laga ini dengan modal yang tidak buruk setelah sebelumnya menang 2-0 atas Uzbekistan. Dua hasil itu memberi gambaran bahwa tim asuhan Marsch sedang membangun ritme yang cukup stabil menjelang turnamen utama.

Di pertandingan melawan Irlandia, Kanada langsung tampil agresif sejak menit awal. Liam Millar dan Ismael Kone sempat mendapat peluang, tetapi penyelesaian akhir belum cukup tajam untuk memperbesar tekanan menjadi gol.

Gol cepat datang lewat situasi tak terduga

Keunggulan Kanada justru lahir dari gol bunuh diri pemain Irlandia pada babak pertama. Sepak pojok Stephen Eustaquio mengenai Troy Parrott, lalu bola berbelok ke Jake O’Brien dan masuk ke gawang sendiri.

Jonathan David juga sempat memberi ancaman dan meminta penalti, tetapi wasit tidak mengabulkan protes tersebut. Momen itu membuat Kanada tetap harus menjaga intensitas agar dominasi mereka tidak hilang begitu saja.

Sesudah jeda, Irlandia berhasil keluar dari tekanan dan menyamakan skor pada menit ke-60. Chiedozie Ogbene menyambar bola muntah setelah kiper Kanada menepis penalti Troy Parrott, lalu mengubah jalannya pertandingan.

Irlandia membalas, ritme Kanada menurun

Gol balasan itu membuat tempo laga turun dan Kanada kesulitan menemukan kembali alur serangan mereka. Pergantian pemain dari kedua kubu juga ikut menurunkan intensitas permainan dibanding babak pertama.

Menjelang laga usai, Irlandia hampir mencuri kemenangan melalui Mason Melia dari Tottenham Hotspur. Peluang itu tidak berbuah gol, sehingga skor 1-1 bertahan sampai pertandingan selesai.

Marsch tidak menutup bahwa timnya tentu ingin hasil yang lebih baik. Meski begitu, ia tetap menilai ada banyak hal positif dari cara Kanada bermain, terutama energi sejak awal, pressing yang agresif, dan ide-ide permainan para pemain.

“Jelas kami berharap bisa mencetak lebih banyak gol dan memenangkan pertandingan. Tapi energi sejak awal laga, cara kami menekan permainan, dan ide-ide yang dijalankan para pemain sangat baik,” kata Marsch.

Ia juga mengakui masih ada detail yang perlu dibenahi sebelum Piala Dunia dimulai. Menurutnya, satu serangan balik berbahaya pada babak kedua dan kesalahan kecil bisa memberi dampak besar pada hasil pertandingan.

Fokus beralih ke tantangan yang lebih besar

Kanada kini bersiap tampil di Piala Dunia 2026 sebagai salah satu tuan rumah bersama. Mereka tergabung di Grup B bersama Bosnia-Herzegovina, Qatar, dan Swiss, dengan laga pembuka melawan Bosnia di Toronto sebelum menghadapi Qatar dan Swiss di Vancouver.

Di tengah status sebagai tuan rumah, Kanada masih membawa catatan yang belum terlalu kuat di ajang itu. Dalam dua partisipasi sebelumnya pada 1986 dan 2022, mereka kalah dalam enam pertandingan yang dijalani.

Karena itu, hasil imbang melawan Irlandia menjadi semacam pengingat bahwa proses membangun tim belum selesai. Marsch kini setidaknya punya gambaran yang lebih jelas tentang keseimbangan skuadnya saat tekanan turnamen besar mulai terasa.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version