Marketplace Juga Diawasi PP Tunas, Verifikasi Usia dan Izin Wali Jadi Kunci

Aturan perlindungan anak di ruang digital kini bergerak lebih jauh dari sekadar pengawasan media sosial. Pemerintah menempatkan e-commerce sebagai salah satu layanan yang juga harus tunduk pada PP Tunas karena aktivitas belanja daring bisa membuka risiko baru bagi pengguna di bawah umur.

Komdigi melihat anak semakin aktif menggunakan layanan digital untuk bertransaksi, sementara tanggung jawab pengawasan selama ini kerap dipersempit seolah hanya menyasar satu jenis platform. Karena itu, seluruh Penyelenggara Sistem Elektronik, baik publik maupun privat, diminta mengikuti ketentuan perlindungan anak yang sama.

Marketplace tidak luput dari pengawasan

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Mediodecci Lustarini, menegaskan masih ada kekeliruan dalam memahami PP Tunas. Menurut dia, aturan itu bukan hanya untuk media sosial, melainkan untuk semua sistem elektronik yang dapat diakses pengguna di bawah 18 tahun, termasuk marketplace.

Ia menekankan bahwa objek pengaturan mencakup seluruh penyelenggara sistem elektronik yang menyediakan akses bagi anak. Dalam acara Bisnis Indonesia Forum, Kamis (7/5/2026), Mediodecci menyebut marketplace juga masuk dalam lingkup yang harus patuh terhadap ketentuan tersebut.

Risiko transaksi anak dianggap nyata

Perhatian pemerintah tidak berhenti pada soal akses akun, tetapi juga pada kebiasaan transaksi yang melibatkan anak. Komdigi menyoroti kasus ketika anak melakukan pembelian tanpa pengawasan orang dewasa, termasuk pemesanan puluhan paket belanja daring lewat sistem Cash on Delivery atau COD.

Risiko serupa muncul saat kartu kredit orang tua atau fitur paylater terhubung ke aplikasi belanja. Dalam situasi itu, anak bisa menggunakan fasilitas pembayaran tanpa memahami konsekuensi uang digital maupun beban transaksi yang muncul.

Verifikasi usia dan persetujuan wali jadi kunci

PP Tunas mewajibkan platform menyediakan mekanisme verifikasi usia yang andal. Selain itu, setiap transaksi yang melibatkan pengguna anak harus mendapat persetujuan dari orang tua atau wali.

Aturan ini juga melarang profiling dan iklan yang dipersonalisasi untuk pengguna anak. Tujuannya adalah menghindarkan anak dari dorongan konsumtif impulsif yang dapat muncul dari promosi yang manipulatif di dalam layanan digital.

Mediodecci menilai kelompok usia ini sangat rentan terhadap pengaruh semacam itu. Ia menjelaskan bahwa anak-anak secara kognitif dan emosional belum matang, sehingga lebih mudah terdorong oleh desain layanan yang mendorong konsumsi.

Data pribadi anak ikut jadi sorotan

Komdigi juga memberi perhatian pada perlindungan data pribadi anak di ekosistem e-commerce. Risiko bisa muncul di rantai logistik, misalnya ketika kurir mengakses nama, alamat, dan nomor telepon anak.

Dalam kerangka PP Tunas, perlindungan data menjadi bagian dari tata kelola digital yang lebih luas. Platform diminta menjaga keamanan akses data sekaligus membatasi paparan informasi sensitif yang tidak diperlukan.

Setiap platform wajib menilai risikonya

Selain verifikasi dan perlindungan data, platform e-commerce juga harus melakukan penilaian mandiri untuk menentukan profil risiko layanan mereka. Jika sebuah layanan dinilai memiliki profil risiko tinggi, batas usia minimum pengguna ditetapkan sekurang-kurangnya 16 tahun dengan pengawasan ketat.

Mediodecci menjelaskan label risiko tinggi tidak otomatis berarti aplikasi berbahaya bagi publik. Istilah itu menunjukkan layanan tersebut memang tidak dirancang untuk anak, sehingga penyaringan usia harus berjalan efektif.

Dengan kerangka tersebut, pemerintah meminta seluruh PSE memastikan anak di bawah batas usia yang ditetapkan tidak dapat mengakses layanan secara bebas. Untuk pelanggaran, pemerintah menyiapkan sanksi administratif yang bersifat kumulatif, mulai dari teguran tertulis, denda administratif, pembatasan layanan, hingga pemutusan akses permanen.

Komdigi menempatkan perlindungan anak di e-commerce sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem digital tetap aman tanpa menghambat inovasi. Fokus utamanya adalah memastikan transaksi, akses data, dan desain layanan berada dalam batas yang melindungi anak dari risiko yang belum mereka pahami sepenuhnya.

Source: teknologi.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button