Pemulihan mangrove di Teluk Pangpang, Banyuwangi, tidak hanya dipandang sebagai pekerjaan lingkungan. Program ini juga diarahkan untuk menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi sekitar 5.000 warga pesisir yang hidup di kawasan tersebut.
BNI menjalankan rehabilitasi 50 hektare mangrove itu lewat inisiatif BNI Berbagi dengan pola kolaboratif. Perusahaan melibatkan masyarakat lokal, kelompok pengawas pesisir, dan pemerintah daerah agar kegiatan berjalan tidak hanya saat penanaman, tetapi juga berlanjut pada tahap pemeliharaan.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menegaskan bahwa Teluk Pangpang memiliki fungsi ekologis yang penting bagi pesisir Banyuwangi. Karena itu, pemulihan mangrove di kawasan ini diposisikan sebagai upaya menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus membuka manfaat jangka panjang bagi warga sekitar.
Pendekatan kolaboratif tersebut menjadi bagian penting dari program. Dengan melibatkan banyak pihak, rehabilitasi tidak berhenti pada penanaman pohon, melainkan dirancang untuk menjaga kawasan tetap terawat dalam jangka panjang.
Rehabilitasi yang menyentuh kebutuhan warga
Kegiatan di lapangan mencakup penanaman mangrove di area yang terdampak, pemeliharaan selama tiga tahun, dan pengembangan kawasan berbasis masyarakat. Skema ini dibuat agar kawasan yang dipulihkan tetap terjaga dan bisa memberi nilai manfaat berkelanjutan.
Bagi warga di Dusun Tegalpare dan sekitarnya, keberadaan mangrove yang kembali tumbuh memberi perlindungan yang lebih kuat. Vegetasi ini berfungsi sebagai benteng alami yang membantu menahan abrasi serta mengurangi risiko banjir rob.
Pemulihan tersebut menjadi penting karena Teluk Pangpang memang memiliki peran ekologis besar bagi pesisir Banyuwangi. Saat mangrove pulih, daya tahan lingkungan pesisir ikut meningkat dan perlindungan garis pantai menjadi lebih baik.
Peluang ekonomi dari kawasan yang sehat
BNI menilai manfaat program ini tidak berhenti pada konservasi. Rehabilitasi mangrove juga membuka ruang ekonomi baru melalui ekowisata, budidaya kepiting soka, pembibitan mangrove, serta produk turunan lain.
Model pengembangan itu membuat warga memiliki lebih banyak pilihan sumber penghasilan. Di saat yang sama, aktivitas ekonomi yang tumbuh tetap bergantung pada kondisi mangrove yang sehat, sehingga kepentingan lingkungan dan ekonomi berjalan searah.
Pendekatan berbasis masyarakat juga memberi peran yang lebih besar bagi warga dalam menjaga kawasan. Mangrove akhirnya tidak hanya dilihat sebagai ekosistem yang harus dipelihara, tetapi juga sebagai aset ekonomi yang bisa dikelola secara berkelanjutan.
Manfaat sosial dinilai berlipat
Untuk melihat nilai manfaat program, BNI merujuk kajian Social Return on Investment atau SROI. Dalam kajian itu, setiap Rp1 investasi dinilai menghasilkan manfaat sebesar Rp3,35 hingga akhir 2025.
Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi Rp7,23 pada periode 2026–2027 seiring makin matangnya ekosistem mangrove. Okki menyebut capaian itu menunjukkan bahwa program keberlanjutan yang dirancang dengan tepat dapat memberi dampak berlipat bagi masyarakat dan lingkungan.
BNI juga menegaskan bahwa investasi di sektor lingkungan memiliki pengaruh langsung terhadap ketahanan ekonomi masyarakat pesisir. Karena itu, perseroan menyatakan akan memperluas inisiatif serupa dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan.
Rehabilitasi 50 hektare mangrove di Teluk Pangpang kini menjadi contoh bahwa pemulihan pesisir dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi warga. Di Banyuwangi, mangrove diposisikan bukan hanya sebagai pelindung pantai, tetapi juga sebagai penggerak aktivitas ekonomi yang menopang kehidupan ribuan masyarakat pesisir.
Source: www.viva.co.id