Mangrove Dipilih Jadi Andalan Baru Lindungi Pantura Jateng dari Abrasi, KLH Siapkan 200 Hektare

Penanganan abrasi di pantai utara Jawa Tengah kini mulai diarahkan ke pendekatan yang lebih menyeluruh. Kementerian Lingkungan Hidup menyiapkan penanaman mangrove seluas 200 hektare sebagai bagian dari perlindungan pesisir yang tidak hanya mengandalkan bangunan fisik.

Langkah itu menempatkan mangrove sebagai pelengkap penting bagi tanggul, pompa, dan polder yang selama ini dipakai untuk menahan tekanan air laut. Dengan memadukan infrastruktur keras dan solusi berbasis alam, perlindungan pantai diharapkan lebih kuat sekaligus tetap menjaga ekosistem pesisir.

KLH menunjuk Universitas Islam Sultan Agung atau Unissula sebagai penanggung jawab program penanaman mangrove tersebut. Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat meminta persiapan dimulai segera agar pemetaan lahan dan kepanitiaan bisa disusun bersama sejak awal.

Permintaan itu ia sampaikan saat mengisi Stadium General di Kampus Unissula Semarang. Dalam forum tersebut, Jumhur menekankan bahwa kolaborasi dengan pihak kampus dan unsur lain perlu dibangun sejak tahap awal agar program tidak berjalan sendiri-sendiri.

Ia juga menilai tahap pertama harus dimulai dari peta kerja yang jelas. Dari situ, pelaksanaan penanaman diharapkan bisa lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Di sisi lain, Jumhur mengingatkan bahwa perlindungan pesisir tidak cukup jika hanya bertumpu pada tanggul laut. Pompa dan polder tetap diperlukan, tetapi semua perangkat itu harus dipadukan dengan pendekatan yang lebih komprehensif.

Pandangan itu juga berkaitan dengan cara membaca pembangunan infrastruktur besar di wilayah pesisir. Dalam penilaiannya, proyek seperti giant sea wall tidak boleh dilihat semata-mata dari bentuk fisiknya.

Ia menyinggung hasil pemodelan hidrodinamika di Teluk Semarang yang menunjukkan adanya potensi perubahan pola arus, elevasi muka air, dan sedimentasi hingga radius lima kilometer. Karena itu, perlindungan pantai perlu menjaga keseimbangan ekosistem, bukan hanya menahan air laut.

Mangrove diposisikan sebagai sabuk hijau yang berfungsi sebagai tameng biologis bagi kawasan pesisir. Selain menjaga garis pantai, hutan mangrove juga mampu meredam energi gelombang laut.

Sejumlah penelitian yang disebutkan menunjukkan bahwa hutan mangrove dapat menurunkan tinggi gelombang laut antara 13 hingga 66 persen dalam jarak 100 meter. Temuan itu menjadi salah satu dasar mengapa penanaman mangrove kembali didorong di Jawa Tengah.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep blue-green infrastructure atau solusi berbasis alam. Dalam skema tersebut, tanggul, pompa, dan polder tetap masuk sebagai grey infrastructure, tetapi harus berjalan bersama pemulihan ekosistem pesisir.

Penanaman 200 hektare mangrove itu memberi arah baru bagi perlindungan pantai utara. Fokusnya bukan hanya menahan abrasi, melainkan juga memperkuat daya dukung alam agar kawasan pesisir lebih tahan menghadapi tekanan jangka panjang.

Dengan pelibatan kampus, KLH berharap program segera masuk tahap pemetaan dan pembentukan panitia. Dari sana, penanaman mangrove di Jawa Tengah diharapkan menjadi langkah nyata untuk menambah lapisan perlindungan alami di wilayah pesisir yang rawan abrasi.

Source: jateng.jpnn.com
Exit mobile version