Sun V tidak hanya menarik perhatian karena statusnya sebagai mikro SUV listrik, tetapi juga karena cara proyek ini dibangun untuk pasar Indonesia. Di balik perakitannya di dalam negeri, ada pertimbangan produksi, evaluasi teknis, dan pembagian peran yang membuat kerja sama Solarky dan PT Mobil Anak Bangsa terlihat lebih serius daripada sekadar mencari rekan kerja.
Pilihan Solarky menggandeng MAB berangkat dari kebutuhan untuk merakit kendaraan secara lokal. PT Mobil Anak Bangsa disebut memiliki fasilitas produksi di Demak, Jawa Tengah, yang menjadi salah satu alasan utama kerja sama itu mengarah ke sana.
Fasilitas yang sudah siap jadi pertimbangan penting
Senior Marketing Manager Communication PT Mobil Anak Bangsa, Achmad Rofiqi, menjelaskan bahwa MAB memang membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak. Saat Solarky membutuhkan partner lokal untuk merakit kendaraan tersebut, penjajakan kemudian mengarah ke fasilitas yang dimiliki MAB di Demak.
Pertimbangan lain yang ikut mendorong langkah itu adalah tingginya skema pajak untuk kendaraan CBU di Indonesia. Karena itu, perakitan lokal dinilai lebih relevan untuk pengembangan Sun V dan lebih sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
Tidak semua kerja sama langsung diterima
Meski sudah ada kecocokan awal, kerja sama ini tetap melewati pemeriksaan internal. MAB menilai lebih dulu apakah fasilitas yang ada benar-benar sanggup menangani perakitan model yang dibawa Solarky.
Rofiqi menegaskan perusahaan tidak bisa sembarangan menerima order. Evaluasi dilakukan dari sisi teknis, tujuan proyek, dan kesiapan operasional pabrik sebelum keputusan diambil.
Tim riset dan pengembangan atau R&D juga ikut menilai proyek tersebut. Dari hasil penilaian itu, proses perakitan dinilai tidak terlalu rumit dan pabrik disebut siap secara operasional.
Peran masing-masing pihak sudah jelas sejak awal
Dalam proyek Sun V, MAB berperan sebagai perakit lokal. Posisi itu sejalan dengan karakter perusahaan yang selama ini berfokus pada kendaraan listrik, mulai dari bus listrik, truk listrik, hingga kendaraan penumpang.
Sementara itu, Solarky membawa teknologi yang menjadi dasar pengembangan Sun V. Model ini tampil berbeda karena menggabungkan baterai dengan panel surya di atap, sehingga memberi identitas yang tidak umum di kelas mikro SUV listrik.
PT Fortuna Ventura Investindo kemudian ditunjuk sebagai distributor resmi di Indonesia. Susunan ini menunjukkan bahwa proyek Sun V tidak hanya bertumpu pada produksi, tetapi juga pada rantai distribusi yang sudah disiapkan.
Dari penjajakan ke tahap impor komponen
Kerja sama antara MAB dan Solarky mulai dirintis pada akhir 2025. Setelah melalui diskusi dan evaluasi, kesepakatan resmi kemudian tercapai pada tahun lalu.
Sejak penandatanganan itu, kolaborasi terus berjalan dan sudah masuk ke tahap impor komponen untuk proses perakitan di Indonesia. Langkah tersebut menandakan proyek Sun V telah bergerak dari tahap perencanaan menuju produksi.
Bagi pasar Indonesia, keberadaan Sun V penting karena membawa pendekatan yang berbeda dari kebanyakan kendaraan listrik. Panel surya di atap membuatnya menonjol di tengah pasar yang masih didominasi desain konvensional, sekaligus memperlihatkan bagaimana industri lokal dapat menjadi basis perakitan untuk kendaraan listrik dari luar negeri.
Source: otomotif.kompas.com




