Lulusan universitas kini menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi di Jawa Timur. Data Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka kelompok ini mencapai 6,04 persen pada Februari 2026, naik dari 5,60 persen pada Februari 2025.
Di saat yang sama, kondisi ketenagakerjaan di Jawa Timur justru menunjukkan perbaikan secara umum. Tingkat Pengangguran Terbuka provinsi ini turun menjadi 3,55 persen pada Februari 2026, lebih rendah dibanding 3,61 persen setahun sebelumnya dan juga berada di bawah rata-rata nasional 4,68 persen.
Perubahan komposisi pengangguran itu membuat sorotan tidak lagi tertuju pada lulusan SMK. Kelompok ini turun ke 5,73 persen dari 5,87 persen pada Februari 2025, sehingga posisinya tergeser oleh lulusan universitas yang kini berada di urutan teratas.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai tren penurunan pengangguran sebagai kabar baik bagi pemulihan ekonomi daerah. Ia menyebut aktivitas ekonomi yang bergerak lebih positif ikut memperluas penyerapan tenaga kerja di banyak sektor.
“Alhamdulillah, pengangguran di Jawa Timur semakin terkendali. Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus bergerak positif dan mampu menyerap tenaga kerja secara lebih luas,” ujar Khofifah di Surabaya, Sabtu, 23 Mei 2026.
Namun, data terbaru juga memperlihatkan bahwa pasar kerja masih menyisakan tantangan besar bagi lulusan perguruan tinggi. Kondisi ini menegaskan bahwa pertumbuhan lapangan kerja belum sepenuhnya seimbang dengan pasokan tenaga kerja berpendidikan sarjana.
Di sisi lain, angka partisipasi angkatan kerja di Jawa Timur ikut menguat. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja naik menjadi 74,78 persen, atau bertambah 0,53 persen poin dibanding Februari 2025.
Jumlah angkatan kerja di provinsi ini mencapai 25,14 juta orang. Dari jumlah itu, penduduk bekerja tercatat 24,25 juta orang dan bertambah sekitar 388 ribu orang dibanding tahun lalu.
Kenaikan jumlah penduduk bekerja memberi gambaran bahwa pasar tenaga kerja Jawa Timur masih bergerak. Fokus kebijakan kini tampak bergeser dari sekadar membuka lapangan kerja menuju kecocokan keterampilan dengan kebutuhan industri.
Pada jalur pendidikan vokasi, pemerintah provinsi juga memperluas akses kerja luar negeri untuk lulusan SMK dan lembaga kursus pelatihan atau LKP. Sepanjang 2026, sebanyak 4.920 peserta dari 112 SMK dan LKP mengikuti program magang serta peluang kerja luar negeri.
Dari jumlah tersebut, 1.617 peserta lolos seleksi dan memperoleh Perjanjian Kerja Waktu Tertentu atau PKWT. Khofifah menilai capaian itu menunjukkan lulusan SMK dan LKP Jawa Timur semakin kompetitif dan mendapat kepercayaan di pasar kerja internasional.
Kondisi itu memberi gambaran bahwa pendidikan vokasi mulai menunjukkan hasil di pasar kerja, sementara lulusan universitas masih menjadi kelompok yang paling perlu dijawab kebutuhannya oleh dunia pendidikan dan dunia usaha di Jawa Timur.
Source: memorandum.disway.id