PHE ONWJ mendapat dorongan baru dari Sumur LLA-6 di perairan utara Jawa Barat. Sumur ini menghasilkan awal produksi 1.321 barel minyak per hari dan gas dua juta standar kaki kubik per hari, dengan kadar air atau BSW 0 persen.
Yang menarik, capaian itu diraih dengan biaya yang jauh lebih hemat. Total biaya untuk Sumur LLA-6 hanya menyerap 61,5 persen dari Authorization for Expenditure yang telah disetujui SKK Migas.
Keberhasilan tersebut tidak muncul begitu saja. Senior Manager Subsurface Development & Planning PHE ONWJ, Adang Sukmatiawan, menjelaskan bahwa tim memanfaatkan lesson learned dari Sumur LLE-5ST yang dibor tahun lalu karena lapisan targetnya sama.
Dari pengalaman itu, formulasi dan strategi pengeboran disempurnakan. Hasilnya, produksi LLA-6 dinilai jauh lebih baik sekaligus lebih efisien.
Pengeboran rampung dalam 33 hari
LLA-6 mulai ditajak pada 24 Maret 2026 dengan metode directional menggunakan Rig PVD-II. Seluruh rangkaian pengeboran hingga uji alir produksi selesai pada 2 Mei 2026 dalam 33 hari.
Sumur tersebut mencapai kedalaman akhir 5.407 kaki measured depth atau setara 3.561 kaki true vertical depth. Kelancaran operasi di laut ikut membantu efisiensi waktu dan biaya selama pekerjaan berlangsung.
Mobilisasi alat sampai unloading material pendukung dari kapal ke fasilitas rig juga berjalan presisi. Tidak ada kendala cuaca atau logistik yang berarti selama proses itu.
Lapangan lama yang kembali aktif
LLA-6 menjadi sumur pengeboran pertama di Anjungan LLA setelah lebih dari 24 tahun tidak ada aktivitas pengeboran di Platform LLA. Kondisi ini membuat tim Subsurface harus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak.
Sejumlah risiko teknis sempat muncul di lokasi tersebut. Tantangan yang dihadapi antara lain bubble di dasar laut, shallow gas hazard, serta drilling fluid loss di lapisan parigi dan pre-parigi.
Adang menyebut sumur ini menembus Lapisan LL-30 lebih updip 60 kaki dibandingkan LLE-5ST. Berdasarkan data gradien tekanan dan analisis komprehensif yang disiapkan tim, Lapisan LL-30 masih berpotensi dan terbukti memproduksi minyak.
Temuan itu membuka peluang pengembangan lanjutan di area selatan. PHE ONWJ menilai lapisan tersebut masih bisa dikembangkan melalui pengeboran sumur berikutnya.
Efisiensi jadi nilai tambah operasi
General Manager PHE ONWJ, Muzwir Wiratama, menilai capaian ini mendukung ketahanan energi domestik yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa hasil tinggi perlu berjalan seiring dengan biaya yang efektif.
Muzwir juga menyoroti semangat kerja PHE ONWJ yang disebut “Safer, Faster, Better”. Menurut dia, keberhasilan LLA-6 tidak hanya terlihat dari lifting yang diperoleh, tetapi juga dari efisiensi biaya yang dicapai.
Setelah LLA-6, armada dan tim PHE ONWJ langsung mengalihkan fokus ke target berikutnya. Sumur LLA-5 dan LLA-7 kini kembali disiapkan, sementara beberapa rencana kerja bor lain diarahkan ke lapisan serupa di masa mendatang.
Source: ekonomi.republika.co.id