Dana perbankan masih cukup longgar untuk menopang penyaluran kredit meski bank tetap berhati-hati di beberapa segmen. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit nasional pada Maret 2026 mencapai 9,49 persen secara tahunan, naik dari 9,37 persen pada Februari 2026 dan lebih tinggi dibanding 9,16 persen pada Maret 2025.
Pergerakan itu menunjukkan mesin pembiayaan masih berjalan, tetapi lajunya belum sepenuhnya stabil. Pertumbuhan kredit juga belum menyentuh kembali level Januari 2026 yang sempat berada di 9,96 persen, sehingga kondisi pembiayaan masih terlihat naik-turun dalam beberapa bulan terakhir.
Kredit investasi menjadi penopang utama
Di antara seluruh jenis pembiayaan, kredit investasi mencatat kinerja paling kuat dengan pertumbuhan 20,85 persen secara tahunan. Angka ini menandakan masih ada dorongan nyata dari dunia usaha untuk memperluas kapasitas, menambah aset produktif, dan menjaga kegiatan produksi tetap bergerak.
Kredit konsumsi juga ikut tumbuh 5,88 persen secara tahunan. Sementara itu, kredit modal kerja naik 4,38 persen, yang menunjukkan kebutuhan pembiayaan operasional usaha harian masih berlangsung meski kecepatannya lebih lambat dibanding kredit investasi.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit terus diperkuat untuk mendukung ekonomi. Pernyataan itu ia jelaskan dalam arahan kebijakan penyaluran pembiayaan perbankan pada Rabu (22/4/2026).
Ruang penyaluran kredit masih terbuka
Bank Indonesia menilai prospek kredit tetap positif karena likuiditas perbankan masih memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga tercatat 27,85 persen, sedangkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga mencapai 13,55 persen.
Kondisi tersebut memberi ruang bagi bank untuk terus menyalurkan dana ke sektor yang membutuhkan. Di saat yang sama, bank masih memiliki cadangan likuiditas yang cukup untuk menjaga pertumbuhan kredit tetap berjalan.
BI juga mencatat plafon kredit yang belum digunakan debitur masih sangat besar, yakni Rp 2.527,46 triliun atau setara 22,59 persen. Besarnya kapasitas itu menunjukkan bahwa ruang ekspansi pembiayaan belum sepenuhnya terserap oleh permintaan.
Bank tetap selektif di sejumlah segmen
Meski standar pemberian kredit secara umum masih tergolong longgar, perbankan tidak bergerak agresif di semua lini. BI mengatakan bank masih memberi perhatian lebih dan melakukan pengetatan pada UMKM serta konsumsi karena risiko kredit di kedua segmen tersebut masih dinilai tinggi.
Sikap selektif itu membuat pertumbuhan kredit tidak melaju seragam. Bank cenderung mendorong pembiayaan pada segmen yang dianggap prospektif, sambil tetap menjaga kualitas aset agar risiko gagal bayar tidak meningkat.
Keseimbangan antara memperluas pembiayaan dan mengendalikan risiko menjadi penting dalam situasi ini. Permintaan kredit, profil risiko debitur, dan kesiapan pendanaan bank akan ikut menentukan cepat atau lambatnya penyaluran dana ke depan.
BI menjaga mesin pembiayaan tetap bergerak
Untuk menjaga pasokan pembiayaan, Perry Warjiyo menyebut BI akan terus memperkuat kapasitas pendanaan perbankan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pengembangan instrumen non traditional funding atau non-DPK.
Bank Indonesia juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit tahun 2026 di kisaran 8 hingga 12 persen. Rentang itu menggambarkan bahwa sisi penawaran dan permintaan masih memberi dukungan, meski risiko di beberapa segmen tetap perlu dijaga.
Dengan kredit yang kembali menguat, likuiditas yang masih kuat, dan ruang pembiayaan yang belum habis terserap, arah kredit perbankan masih cenderung positif. Namun, kehati-hatian bank di segmen tertentu menegaskan bahwa pemulihan pembiayaan belum berlangsung tanpa pengawasan risiko yang ketat.