Pencarian pusat data yang lebih dekat dengan sumber energi mulai mengarah ke laut, bukan hanya ke daratan. Panthalassa, perusahaan yang dipimpin Garth Sheldon-Coulson di Vancouver, Washington, sedang mengembangkan sistem tenaga gelombang untuk menyuplai kebutuhan komputasi kecerdasan buatan sekaligus mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik darat.
Langkah ini muncul saat kebutuhan listrik pusat data AI terus menanjak. Di sisi lain, emisi dari batu bara dan gas masih menjadi beban bagi iklim dan biaya energi, sehingga industri teknologi didorong mencari pasokan daya yang lebih bersih, stabil, dan mudah diperbesar.
Gelombang laut sebagai sumber daya yang terus tersedia
Sheldon-Coulson menilai lautan menyimpan potensi energi yang sangat besar. Ia menyebut energi gelombang berpeluang menjadi salah satu sumber listrik termurah karena tersedia luas dan terus bergerak tanpa henti.
Pandangan itu menjadi dasar pendekatan Panthalassa untuk memindahkan sebagian komputasi mendekati sumber dayanya. Dengan cara tersebut, kebutuhan infrastruktur besar di darat dapat ditekan ketika permintaan daya untuk AI terus meningkat.
Cara kerja model uji Panthalassa
Model uji yang disebut Ocean-2 dirancang seperti bendungan hidroelektrik yang mengapung. Saat perangkat naik dan turun mengikuti ombak, air di dalam tabung terdorong ke bagian atas lalu dialirkan melalui turbin untuk menghasilkan listrik.
Pendekatan ini membuat energi gelombang tidak hanya menjadi konsep pembangkit, tetapi juga bagian dari sistem yang dapat mendukung komputasi. Panthalassa kemudian mengembangkan versi yang lebih baru, yaitu Ocean-3, dengan perubahan yang cukup menonjol pada bentuk operasinya.
Ocean-3 bergerak tanpa jangkar dan tanpa kabel ke pantai
Pada Ocean-3, Panthalassa menonjolkan sistem yang tidak memakai jangkar maupun kabel penambat ke dasar laut. Unit ini bergerak sendiri di permukaan laut dan tidak tertambat di satu titik tertentu.
Sheldon-Coulson menggambarkannya sebagai “Roomba kecil, tapi sangat besar” untuk menerangkan cara kerja perangkat yang bisa bergerak mandiri. Tidak ada kabel yang menarik listrik kembali ke pantai, sehingga unit-unit ini berfungsi sebagai data center terapung yang menghasilkan listrik dari gelombang, memproses tugas AI di tempat, lalu mengirim jawaban melalui satelit.
Model yang ditawarkan untuk industri AI
Panthalassa melihat sistem ini sebagai jawaban atas kebutuhan industri AI yang berkembang cepat. Menurut Sheldon-Coulson, jika banyak unit dikerahkan bersama, sistem itu dapat bekerja layaknya satu data center besar.
Perusahaan juga menyebut sudah memiliki pendanaan swasta yang dibutuhkan. Tawaran ini dinilai menarik karena memberi jalan yang lebih cepat dan lebih bersih bagi perusahaan AI untuk memperoleh daya dibanding membangun fasilitas baru di daratan.
Keunggulan yang ditekankan perusahaan
Panthalassa menekankan bahwa konsep data center laut ini bersih, tidak memakai bahan bakar, tidak membutuhkan lahan, tidak mengganggu aktivitas di darat, dan dapat diperbesar dengan cepat. Di tengah keterbatasan lahan dan mahalnya infrastruktur, keunggulan tersebut menjadi poin penting dari rancangan yang mereka ajukan.
Konstruksi Ocean-3 sudah berlangsung, dan Sheldon-Coulson memperkirakan unit-unit itu akan mulai beroperasi di lepas pantai sekitar Agustus. Setelah itu, jumlahnya akan ditingkatkan secara bertahap.
Tekanan kebutuhan listrik membuat pendekatan ini relevan
Lonjakan kebutuhan listrik dari pusat data AI membuat persoalan energi semakin mendesak. Di banyak tempat, pembangunan fasilitas baru menghadapi kendala lahan yang terbatas, biaya infrastruktur yang tinggi, dan jaringan listrik darat yang sudah padat.
Dalam situasi seperti itu, model yang memadukan pembangkit tenaga gelombang dengan komputasi di laut dianggap sebagai salah satu cara untuk mengejar permintaan yang terus bertambah. Panthalassa bahkan menargetkan pemasangan ribuan unit di laut lepas untuk memenuhi kebutuhan daya komputasi yang terus tumbuh.
Dengan skema tersebut, satu unit tidak hanya berfungsi menghasilkan listrik, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan komputasi yang berjalan langsung di laut. Laut pun diposisikan bukan sekadar sebagai sumber energi, melainkan sebagai fondasi baru bagi data center masa depan yang lebih dekat dengan daya yang dipakainya.





