Lascaux Menyimpan Lebih dari Lukisan, Jejak Cerdas Manusia Paleolitikum yang Mengejutkan

Lascaux menarik perhatian bukan hanya karena usia lukisannya yang sangat tua, tetapi karena isi gua ini menunjukkan kecanggihan berpikir manusia Paleolitikum. Di balik dinding batu yang gelap, para penghuni masa lalu tampaknya sudah memahami ruang, cahaya, komposisi, dan kemungkinan makna simbolik yang rumit.

Kompleks ini memuat lebih dari 600 lukisan dan sekitar 1.500 ukiran, dengan hewan sebagai tema utama. Kuda menjadi sosok yang paling sering muncul, sementara figur manusia justru sangat jarang ditemukan di dalamnya.

Salah satu adegan paling terkenal berada di Hall of Bulls, tempat empat banteng hitam besar atau aurochs tampil mencolok. Di ruang yang sama, tersaji pula gambar hewan terbesar yang diketahui dalam seni gua, memperlihatkan betapa kuatnya penguasaan skala dan penataan gambar di Lascaux.

Para seniman prasejarah yang bekerja di sana tidak sekadar membuat gambar secara acak. Sebagian besar figur diukir langsung pada batu, sedangkan yang lain dilukis di dinding putih kalsit dengan teknik yang menunjukkan kontrol tinggi atas bahan dan permukaan.

Jejak pigmen yang masih tersisa menunjukkan pemanfaatan bahan mineral yang dicampur air. Warna merah berasal dari hematit, kuning dari goetit, dan hitam dari mangan oksida yang memang mudah ditemukan di sekitar Lascaux.

Cara mereka bekerja juga menyiratkan pengetahuan teknis yang matang. Para peneliti menduga cat dioleskan dengan gumpalan lumut atau rambut, meski tidak ada bukti kuas, dan tulang berlubang yang ditemukan di sana diduga dipakai untuk meniup pigmen ke dinding.

Sebagian gambar berada pada ketinggian 2,5 hingga 3,5 meter dari lantai gua. Kondisi itu membuat para arkeolog menduga adanya perancah, meski bukti langsung struktur semacam itu masih terbatas.

Pada awal 1950-an, André Glory menemukan sisa balok yang saling bertautan di tepi Galeri Aksial. Temuan itu dianggap mungkin berkaitan dengan perancah, dan Glory juga menemukan lampu batu pasir merah yang diperkirakan berusia sekitar 17.000 tahun.

Sisa jelaga pada lampu itu menunjukkan penggunaan sumbu dari juniper. Detail tersebut membantu menjelaskan bagaimana ruang gelap di dalam gua bisa diterangi saat proses melukis berlangsung.

Lascaux juga menyimpan jejak hunian manusia Paleolitikum dalam tiga periode berbeda. Jejak awal terlihat melalui arang di area Nave dan Shaft, sedangkan lapisan berikutnya menandai masa ketika aktivitas seni mencapai puncaknya.

Di pintu masuk, jejak lain menunjukkan hunian yang lebih singkat. Saat itu cahaya alami masih mencapai bagian dalam gua, sehingga pola aktivitas manusia tampaknya tidak berlangsung sama pada setiap periode.

Kisah modern Lascaux bermula dari penemuan tak sengaja pada September 1940. Empat remaja di dekat Montignac menemukan lubang misterius saat mencari anjing mereka, lalu masuk ke jaringan gua yang dipenuhi gambar purba.

Seorang guru yang tergabung dalam klub prasejarah lokal kemudian ikut menelusuri temuan itu. Tak lama setelahnya, Henri-Édouard-Prosper Breuil melakukan inspeksi ilmiah dan menegaskan keaslian lukisan-lukisan tersebut.

Lascaux berada di Dordogne, Prancis barat daya, tepatnya di Lembah Vézère yang dikenal kaya situs Paleolitikum. Kawasan ini memiliki 147 situs prasejarah, termasuk 25 gua berhias seni, dan wilayahnya diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1979.

Isi gua tidak hanya didominasi hewan, tetapi juga simbol abstrak. Di antara ratusan gambar itu, hanya ada satu figur mirip manusia yang lengkap, dan sosok ini justru menjadi salah satu yang paling membingungkan.

Figur tersebut digambarkan jatuh terlentang di dekat bison, berkepala seperti burung, tampak berteriak, dan memiliki ereksi. Di sampingnya ada tongkat dengan burung di atasnya, sementara seekor badak di belakangnya tampak membuang kotoran ke arahnya.

Adegan itu terus memicu tafsir karena tidak ada penjelasan tunggal yang disepakati. Norbert Aujoulat, yang meneliti Lascaux antara 1988 dan 1999, menilai urutan hewan di dalam gua mungkin berkaitan dengan perubahan musim dan berjalannya waktu.

Menurut Aujoulat, urutan yang cenderung tetap dimulai dari kuda, lalu auroch, dan kemudian rusa jantan. Ia mengaitkan kuda dengan musim semi, auroch dengan musim panas, serta rusa jantan dengan musim gugur.

Meski menjadi salah satu temuan arkeologi paling penting, Lascaux pernah mengalami kerusakan serius setelah dibuka untuk umum pada 1948. Kelembapan dan napas ribuan pengunjung memudarkan warna, memicu pertumbuhan jamur, bakteri, dan kristal mineral, serta membuat lantai gua pernah diturunkan demi aksesibilitas.

Kerusakan itu membuat gua ditutup permanen untuk umum pada 1963. Kini pengunjung masih dapat melihat replika tepat dari Hall of Bulls dan Axial Gallery melalui Lascaux II yang dibuka pada 1983 di dekat lokasi asli.

Source: www.idntimes.com

Baca Juga

Back to top button