Perodua tidak sekadar menyiapkan model hybrid untuk dipajang, tetapi sudah membawa Ativa Hybrid ke tahap yang lebih jauh dengan rencana perakitan lokal di Malaysia. Langkah ini menunjukkan bahwa model tersebut mulai diposisikan sebagai produk serius, bukan lagi sebatas unit percobaan untuk membaca respons pasar.
Perubahan arah itu berangkat dari strategi yang cukup hati-hati. Perodua lebih dulu menempatkan 300 unit Ativa Hybrid di pasar Malaysia lewat skema sewa agar perusahaan bisa mengumpulkan data pemakaian nyata dari aktivitas harian pengguna.
Data lapangan jadi dasar keputusan
Program sewa tersebut dijalankan sejak 2022. Konsumen yang ikut membayar 500 Ringgit per bulan dengan masa sewa 5 tahun atau sampai 100.000 km.
Skema itu memberi Perodua gambaran langsung tentang cara masyarakat Malaysia memakai mobil hybrid dalam kondisi normal. Perusahaan dapat melihat biaya kepemilikan, pola berkendara, dan pengalaman penggunaan sehari-hari dari ratusan unit yang beroperasi.
Pendekatan itu membuat rencana produksi lokal tidak hanya bertumpu pada perkiraan pasar. Perodua punya bekal data nyata sebelum masuk ke keputusan manufaktur yang lebih besar.
Produksi lokal tinggal menunggu detail akhir
Kepastian soal pengembangan itu disampaikan oleh President & CEO Perodua, Dato Sri Zainal Abidin. Pernyataan tersebut muncul saat pabrik Perodua di Rawang menerima kunjungan Duta Besar Jepang untuk Malaysia, Noriyuki Shikata.
Zainal menyebut perusahaan masih memfinalkan beberapa detail sebelum pengumuman resmi dilakukan. Sejumlah hal yang belum dipastikan mencakup waktu produksi, harga jual, dan aspek lain yang terkait dengan peluncuran versi rakitan lokal.
Meski begitu, Perodua sudah menegaskan bahwa Ativa Hybrid versi rakitan lokal akan segera diproduksi. Sinyal itu memperlihatkan bahwa proyek ini bukan keputusan mendadak, melainkan kelanjutan dari proses yang sudah berjalan.
Spesifikasi tetap mengikuti versi Jepang
Untuk sisi teknis, Ativa Hybrid rakitan lokal disebut akan memakai spesifikasi yang sama seperti versi Jepang. Mobil ini tetap menggunakan sistem Daihatsu e-Smart Hybrid dengan mesin WA-VEX 3 silinder 1.200 cc.
Sistem tersebut dipadukan dengan baterai 177,6 volt dan transmisi hybrid Transaxle. Tenaga maksimumnya disebut mencapai 104 dk, sedangkan torsi berada di angka 170 Nm.
Dengan komposisi itu, Perodua tampak ingin menjaga konsistensi produk di pasar. Langkah ini menunjukkan bahwa versi lokal tidak diarahkan menjadi model yang disederhanakan, melainkan tetap membawa karakter teknis yang sama.
Sorotan regional karena punya kaitan dengan Daihatsu Rocky
Rencana Perodua juga menarik perhatian karena basis mobil ini sudah dikenal di Indonesia sebagai Daihatsu Rocky. Di Indonesia, Rocky yang debut di GIIAS 2025 masih berstatus impor utuh dari Jepang.
Situasi itu memperlihatkan perbedaan strategi di dua negara tetangga. Malaysia bergerak menuju produksi lokal untuk versi hybrid, sementara Indonesia baru menerima model dalam bentuk CBU.
Perbedaan tersebut juga menunjukkan bahwa elektrifikasi dijalankan secara bertahap sesuai kondisi masing-masing pasar. Perodua memilih memulai dari pengujian penggunaan sehari-hari sebelum melangkah ke produksi lokal.
Program 300 unit sewa itu akhirnya menjadi modal penting bagi Perodua. Dari sana, perusahaan bukan hanya mendapatkan minat pasar, tetapi juga data tentang biaya penggunaan, kebiasaan berkendara, dan pengalaman kepemilikan yang bisa dipakai untuk memperkuat langkah berikutnya.
Source: kabaroto.com