Langit malam Indonesia akan menampilkan Flower Moon yang bisa dinikmati tanpa alat bantu, asalkan cuaca mendukung. Momen ini menjadi perhatian karena bulan purnama tersebut tampak jelas dengan mata telanjang dan tidak memerlukan teleskop.
Waktu yang paling sering dicari bukan semata-mata saat puncak fase penuh, melainkan saat Bulan mulai terlihat dari arah timur setelah matahari terbenam. Pada fase itu, Bulan kerap tampak lebih besar karena ilusi optik, sehingga banyak orang memilihnya sebagai momen terbaik untuk melihat sekaligus memotret.
Menurut data astronomi yang dikutip dari Live Science, puncak fase penuh Flower Moon terjadi pada 2 Mei 2026 pukul 17.23 UTC. Jika disesuaikan dengan waktu Indonesia bagian barat, puncaknya jatuh pada pukul 00.23 WIB.
Tiga momen yang paling nyaman diamati
Ada tiga waktu yang dianggap paling ideal untuk menikmati Flower Moon. Setelah matahari terbenam, Bulan mulai terbit dan hadir dengan latar langit senja yang membuat tampilannya lebih menarik.
Saat tengah malam, cahaya Bulan biasanya terlihat paling kuat karena fase purnama sudah semakin mendekati sempurna. Menjelang fajar, Bulan masih dapat terlihat tinggi di langit selama kondisi langit cerah.
Ketiga momen itu sama-sama bisa dinikmati tanpa alat bantu. Perbedaannya hanya pada kesan visual yang muncul dari perubahan posisi Bulan di langit.
Makna di balik nama Flower Moon
Flower Moon adalah sebutan tradisional untuk bulan purnama yang muncul pada bulan Mei. Nama ini berasal dari penanggalan masyarakat adat di Amerika Utara yang memberi nama fase bulan berdasarkan perubahan musim.
Istilah tersebut dipakai karena bulan Mei identik dengan mekarnya bunga-bunga di belahan bumi utara. Karena itu, Flower Moon sering dikaitkan dengan pertumbuhan, keindahan, dan datangnya musim semi.
Meski namanya merujuk pada bunga, Bulan tidak berubah menjadi merah muda atau menyerupai bunga. Dari bumi, cahayanya tetap tampak putih terang atau kekuningan, tergantung kondisi atmosfer dan posisi Bulan saat terbit.
Cara terbaik mengamatinya
Pengamatan Flower Moon tidak memerlukan teleskop. Cukup cari lokasi terbuka seperti halaman rumah, lapangan, atau rooftop agar pandangan ke langit tidak terhalang.
Tempat dengan polusi cahaya yang minim biasanya membuat Bulan terlihat lebih terang dan lebih nyaman diamati. Faktor cuaca juga menentukan, karena langit berawan atau hujan akan mengurangi kejernihan penampakan.
Bagi yang ingin mengabadikannya, kamera ponsel dengan mode malam bisa digunakan. Namun, daya tarik utamanya tetap ada pada kemudahan untuk menikmatinya langsung dengan mata telanjang.
Fenomena rutin yang tetap menarik
Flower Moon muncul setiap tahun sebagai bagian dari fase bulan purnama di bulan Mei. Walaupun tidak tergolong langka, fenomena ini tetap banyak dinantikan dari tahun ke tahun.
Daya tariknya terletak pada perbedaan posisi Bulan dan kondisi langit setiap kali muncul. Itulah yang membuat Flower Moon tetap menjadi momen menarik bagi pecinta astronomi maupun masyarakat umum yang ingin menikmati langit malam.
Source: www.suara.com




