Kinerja MUFG Indonesia pada 2025 menunjukkan gambaran yang tidak seragam. Di satu sisi, laba bersih tertekan dan pendapatan bunga melemah, tetapi di sisi lain penyaluran kredit justru naik, kualitas aset membaik, dan permodalan masih sangat tebal.
Situasi ini menjadi penting karena MUFG Indonesia sedang berada dalam fase menuju integrasi operasional dengan Danamon. Hingga target efektif pada 2027 tercapai, kedua bank disebut tetap menjalankan layanan seperti biasa tanpa perubahan bagi nasabah.
Tekanan paling nyata terlihat pada laba. Sepanjang periode audited per Desember 2025, laba bersih MUFG Indonesia turun 8,95% secara tahunan menjadi Rp6,31 triliun dari Rp6,93 triliun pada 2024.
Pelemahan laba itu sejalan dengan menurunnya pendapatan bunga yang terkoreksi 9,37% yoy menjadi Rp10,27 triliun. Net interest income atau NII juga ikut turun 7,87% yoy menjadi Rp9,43 triliun dari Rp10,23 triliun.
Dari aktivitas valuta asing, hasil yang dicatat bank ini bergerak campuran. Keuntungan transaksi spot dan derivatif/forward merosot menjadi Rp90,34 miliar dari Rp848,62 miliar, sedangkan keuntungan penjabaran transaksi valuta asing naik menjadi Rp1,26 triliun dari Rp667,10 miliar.
Meski profitabilitas melemah, bisnis inti justru masih bergerak positif. Total kredit yang disalurkan MUFG Indonesia mencapai Rp118,23 triliun per akhir 2025, naik 10,97% yoy dari Rp106,46 triliun pada 2024.
Pertumbuhan kredit ini menunjukkan fungsi intermediasi tetap berjalan kuat. Pada saat yang sama, giro naik 2,89% yoy menjadi Rp35,91 triliun, sementara deposito turun 7,95% yoy menjadi Rp16,07 triliun.
Di sisi aset, total aset MUFG Indonesia tercatat sedikit menurun 0,38% yoy menjadi Rp200,88 triliun dari Rp201,64 triliun pada akhir 2024. Kondisi itu menandakan ekspansi pembiayaan belum langsung mengangkat total aset secara keseluruhan.
Perbaikan justru terlihat pada kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan gross turun menjadi 0% dari 0,20% pada 2024, sedangkan NPL net juga berada di level 0% dari sebelumnya 0,12%.
Pergerakan serupa tampak pada aset produktif. Rasio aset produktif bermasalah terhadap total aset produktif turun menjadi 0%, dan rasio cadangan kerugian penurunan nilai atau CKPN terhadap aset produktif ikut turun menjadi 0,08% dari 0,15%.
Namun, kualitas aset yang lebih sehat belum cukup mengangkat efisiensi dan laba. Return on asset turun menjadi 4,41% dari 4,94%, sementara return on equity melemah menjadi 4,56% dari 5,28%.
Net interest margin juga menyusut ke 5,57% dari 6,59%, sehingga ruang pendapatan bunga bersih makin sempit. Pada saat yang sama, beban operasional masih tinggi dengan BOPO naik ke 95,28% dari 95,05% dan cost to income ratio meningkat ke 95,12% dari 94,85%.
Modal dan likuiditas masih menjadi bantalan utama
Dari sisi likuiditas, loan to deposit ratio MUFG Indonesia naik cukup tajam menjadi 185,18% dari 153,99% pada tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan penyaluran kredit jauh lebih besar dibanding dana yang dihimpun dari nasabah.
Untuk permodalan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum atau KPMM turun menjadi 74,12% dari 82,98% pada 2024. Meski menurun, posisinya masih sangat jauh di atas ketentuan minimum regulator sebesar 9%.
Fondasi itu menjadi relevan ketika melihat rencana integrasi dengan Danamon. Danamon dan MUFG Indonesia sama-sama memiliki basis aset besar, dengan aset konsolidasian Danamon mencapai Rp275,7 triliun per akhir 2025 dan MUFG Indonesia berada di kisaran Rp207 triliun.
MUFG Indonesia dikenal sebagai salah satu bank asing terbesar di Indonesia dengan fokus pada perusahaan Jepang, korporasi nasional, dan multinasional. Sementara itu, Danamon punya jaringan domestik yang lebih luas di pasar ritel dan pembiayaan lokal.
Kedua entitas sebelumnya menyebut integrasi operasional ini bertujuan menggabungkan jaringan domestik dan global. Arah akhirnya adalah membentuk salah satu institusi finansial terbesar di Indonesia dan memperluas layanan untuk nasabah korporasi, usaha kecil dan menengah, hingga retail.
Source: finansial.bisnis.com