Laba CBRE Melonjak Berkat Rebutan Lahan Pusat Data AI, Listrik dan Air Kian Jadi Kunci

Permintaan lahan, utilitas, dan ruang industri kini menjadi salah satu penentu utama pertumbuhan CBRE Group, Inc. Dorongan terbesar datang dari pembangunan pusat data kecerdasan buatan yang membuat perusahaan properti itu mencatat pendapatan kuartalan 10,53 miliar dolar AS pada Mei 2026, naik 18,1 persen secara tahunan.

Kenaikan tersebut juga mengangkat laba per saham global CBRE menjadi 1,61 dolar AS. Angka itu melampaui perkiraan awal analis yang berada di 1,13 dolar AS.

Di tengah lonjakan kebutuhan infrastruktur AI, bisnis CBRE tidak hanya bertumpu pada pusat data. Aktivitas properti industri juga bergerak kuat dan ikut menyumbang pada performa perusahaan.

Salah satu contohnya terlihat dari transaksi sewa jangka panjang untuk ruang industri seluas 150.000 kaki persegi di Gedung 4 Dakota Commerce Center, Fargo, North Dakota. Tim perantara CBRE yang terdiri dari Chance Lindsey, Kyle Ferderer, dan Levi Gross menuntaskan kesepakatan itu, dengan Horwitz, LLC sebagai penyewa tunggal fasilitas kelas A tersebut.

Bangunan itu selesai pada kuartal pertama 2026. CBRE berhasil mendapatkan kembali penyewa tunggal penuh bangunan tersebut hanya dalam waktu enam bulan setelah konstruksi rampung.

Pusat data makin berebut lokasi terbaik

Bob Sulentic, CEO CBRE, menilai seluruh bisnis perusahaan berkembang cukup cepat. Ia menekankan bahwa perusahaan teknologi besar kini semakin agresif mencari lahan dan sumber daya untuk mendukung pusat data mereka.

Menurut Sulentic, pusat data akan makin terkonsentrasi di lokasi yang punya dukungan terbaik. Fokus industri pun bergeser ke ketersediaan air dan listrik yang lebih optimal seiring berkembangnya sektor ini.

Perubahan arah itu membuat lokasi strategis semakin kompetitif. Lahan yang dekat dengan utilitas memadai dan didukung infrastruktur kuat kini memiliki nilai tawar yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Minat investor ikut menguat

Kinerja CBRE yang solid juga menarik perhatian investor institusi. Data MarketBeat menunjukkan kepemilikan institusi atas saham CBRE kini mencapai 98,41 persen.

ABN Amro Investment Solutions menambah kepemilikannya sebesar 43,4 persen setelah membeli 10.013 saham. North Dakota State Investment Board juga masuk dengan pembelian 10.201 saham senilai 1,64 juta dolar AS.

Di sisi lain, pergerakan saham dari internal perusahaan menunjukkan jual bersih 12.167 lembar dalam 90 hari terakhir. SEC mencatat CFO Emma E. Giamartino menjual 9.223 saham pada 26 Februari dan 2.250 saham pada 15 Mei melalui rencana Rule 10b5-1.

SEC juga mencatat Chad J. Doellinger menjual 471 saham pada Rabu, 11 Maret. Pergerakan ini muncul di tengah sorotan pasar terhadap arah bisnis CBRE yang semakin terkait erat dengan ekspansi pusat data AI.

Tekanan sosial tidak menghentikan ekspansi

Ekspansi fasilitas komputasi skala besar juga memunculkan kritik di sejumlah wilayah. Namun manajemen CBRE menilai kritik itu kadang dibesar-besarkan secara politik.

Sulentic menegaskan para penyewa besar tidak mengabaikan dampak sosial di sekitar proyek mereka. Ia menyebut perusahaan-perusahaan itu bekerja sangat keras untuk mencoba memecahkan masalah yang muncul di komunitas lokal.

Meski ada tekanan sosial, arah bisnis pusat data AI masih diperkirakan menjadi penopang utama CBRE untuk waktu mendatang. Sulentic juga mengatakan segmen ini kemungkinan akan tumbuh lebih cepat daripada bagian perusahaan lainnya dalam beberapa waktu ke depan.

Exit mobile version