Kudus Jadi Titik Awal, Jateng Andalkan Pariwisata Dan Ekonomi Syariah Untuk Kejar 7,4 Persen

Target ekonomi Jawa Tengah pada 2027 tidak hanya bertumpu pada sektor yang sudah lama dikenal, tetapi juga pada dua penggerak baru yang kini mulai dipasang lebih serius: pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah. Pemerintah provinsi menilai kombinasi keduanya dapat membantu membawa laju pertumbuhan ekonomi daerah berada di kisaran 6 persen hingga 7,4 persen.

Arah itu muncul dari keyakinan bahwa struktur ekonomi Jateng masih bisa terus diperkuat. Pada triwulan I 2026, ekonomi Jawa Tengah tercatat tumbuh 5,89 persen, sementara pada 2025 pertumbuhannya berada di 5,37 persen.

Pariwisata jadi pengungkit utama

Sektor pariwisata mendapat porsi besar dalam strategi tersebut karena dinilai memberi efek berantai ke banyak lini usaha. Salah satu indikator yang menunjukkan peran itu adalah pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencapai 10,60 persen pada 2025.

Kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah juga terus menanjak. Angkanya bergerak dari 3,29 persen pada 2022, menjadi 3,40 persen pada 2023, lalu 3,56 persen pada 2024, dan mencapai 3,74 persen pada 2025.

Kenaikan itu sejalan dengan meningkatnya arus wisatawan ke Jawa Tengah. Jumlah kunjungan tercatat 46,6 juta orang pada 2022, kemudian naik tajam menjadi 74,4 juta orang pada 2025.

Wilayah eks Karesidenan Pati ikut dipacu

Di dalam peta pengembangan itu, pemerintah provinsi memberi perhatian khusus pada Kudus, Jepara, Rembang, Pati, dan Blora. Masing-masing daerah diminta mengejar target kunjungan yang sudah ditetapkan sesuai kapasitas dan potensi wilayahnya.

Kudus dipasang dengan target tertinggi, yaitu sekitar 3,7 juta kunjungan wisatawan. Rembang menargetkan hampir 3 juta kunjungan, Jepara sekitar 2,4 juta, Blora 1,2 juta, dan Pati 1,1 juta wisatawan.

Dorongan yang sama juga diberikan lewat pembangunan desa wisata. Kudus, Pati, Rembang, dan Blora masing-masing menargetkan pembentukan 30 desa wisata, sedangkan Jepara menargetkan tiga desa wisata baru.

Ekonomi syariah diposisikan sebagai mesin baru

Selain pariwisata, ekonomi syariah juga masuk ke dalam strategi pertumbuhan Jawa Tengah. Pemerintah provinsi menempatkannya sebagai salah satu sektor yang diharapkan ikut menopang kinerja daerah pada 2027.

Kehadiran ekonomi syariah dipandang penting karena memberi ruang bagi penguatan struktur ekonomi yang tidak hanya bergantung pada sektor tradisional. Dengan begitu, pertumbuhan diharapkan bisa lebih stabil dan punya sumber dorong yang lebih beragam.

Pangan dan investasi tetap dijaga

Meski menonjolkan dua sektor baru, pemerintah provinsi tidak meninggalkan sektor yang selama ini sudah menjadi penopang. Ketahanan pangan tetap diperkuat, sementara realisasi investasi juga terus didorong agar tetap bergerak naik.

Arah kebijakan itu dibahas dalam Rembug Pembangunan Jawa Tengah 2026 di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (26/5/2026). Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan langsung target pertumbuhan ekonomi tersebut dalam forum itu.

Acara tersebut turut dihadiri Sekda Jateng Sumarno, perwakilan Forkopimda Jateng, bupati atau wakil bupati, serta Forkopimda eks karesidenan Pati yang meliputi Jepara, Kudus, Pati, Rembang, dan Blora. Kehadiran para pemangku daerah itu menunjukkan bahwa strategi pertumbuhan Jateng kini diarahkan lebih spesifik melalui pariwisata, ekonomi syariah, dan pemerataan desa wisata.

Source: indoraya.news

Baca Juga

Back to top button