Kredit Investasi Tumbuh Paling Kencang, Dunia Usaha Masih Pilih Aman

Pertumbuhan kredit investasi menjadi sorotan karena lajunya jauh melampaui jenis kredit lain, meski perekonomian belum sepenuhnya menunjukkan perbaikan yang merata. Pada Maret 2026, Bank Indonesia mencatat kredit investasi perbankan tumbuh 20,85 persen secara tahunan, sementara kredit perbankan secara keseluruhan naik 9,49 persen.

Di balik angka yang terlihat kuat itu, para ekonom membaca sinyal yang lebih kompleks. Aliran dana yang deras ke investasi belum otomatis berarti dunia usaha sedang agresif memperluas produksi, sebab sebagian pelaku usaha justru masih berhitung cermat di tengah ketidakpastian.

Arah dana lebih banyak ke aset

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance, Tauhid Ahmad, menilai pola tersebut menunjukkan dunia usaha masih memilih langkah aman. Saat kondisi ekonomi belum pasti, perusahaan cenderung menempatkan dana pada aset tetap ketimbang menambah modal kerja.

Menurut Tauhid, pilihan itu juga berkaitan dengan upaya menjaga dana agar tidak menganggur. Ia melihat pembiayaan lebih banyak mengalir ke bangunan dan aset tetap, padahal modal kerja sangat dibutuhkan untuk bahan baku, biaya tenaga kerja, dan bahan penolong.

Ia menilai komposisi seperti ini belum ideal bagi struktur ekonomi nasional. Bagi Tauhid, arus investasi masih lebih banyak masuk ke sektor jasa dan ritel dibandingkan manufaktur, sehingga dorongan ke sektor produksi belum sekuat yang diharapkan.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk lebih tegas mengarahkan kredit ke pembangunan pabrik dan industri pengolahan. Menurut dia, penguatan sektor produksi akan memberi dampak yang lebih besar bagi ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.

Hilirisasi ikut mendorong lonjakan

Dari sisi lain, Ekonom Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, melihat ada penggerak penting di balik kencangnya kredit investasi. Proyek hilirisasi nikel dan tembaga disebut membutuhkan pembiayaan besar karena bersifat padat modal.

Yusuf menilai proyek-proyek itu menjadi motor utama pertumbuhan kredit investasi. Ia juga melihat likuiditas perbankan yang masih longgar ikut membuka ruang penyaluran pembiayaan, apalagi di tengah peluang relokasi industri dari negara lain ke Indonesia.

Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan investasi belum sepenuhnya diikuti penguatan produksi riil. Kredit modal kerja hanya tumbuh 4,38 persen, dan itu menandakan banyak pelaku usaha masih menahan ekspansi operasional.

Bagi Yusuf, kondisi tersebut memperlihatkan sikap menunggu yang masih kuat. Perusahaan tampak lebih siap membangun kapasitas daripada menjalankan produksi secara agresif.

Kredit konsumsi masih bergerak, tapi tidak dominan

Selain investasi, kredit konsumsi juga masih mencatat pertumbuhan. Pada Maret 2026, laju kredit konsumsi berada di level 5,88 persen, sehingga permintaan rumah tangga belum hilang dari peta pembiayaan perbankan.

Meski begitu, pertumbuhannya tetap tidak sekuat kredit investasi. Karena itu, perhatian utama tetap tertuju pada arah penyaluran dana, bukan hanya pada besarnya angka pertumbuhan kredit secara keseluruhan.

Jika dana lebih banyak masuk ke aset dan proyek besar, sementara modal kerja tertahan, pemulihan ekonomi berisiko bergerak tidak seimbang. Yusuf menilai dorongan kredit belum cukup bila tidak benar-benar mengalir ke aktivitas ekonomi riil yang mampu memperluas kesempatan kerja.

UMKM masih jadi pekerjaan rumah

Di sisi lain, kredit untuk segmen UMKM masih belum menjadi motor utama dalam penyaluran pembiayaan. Segmen ini masih dipandang berisiko tinggi, padahal perannya besar dalam penciptaan lapangan kerja di Indonesia.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit secara keseluruhan pada 2026 akan terjaga di kisaran 8 hingga 12 persen. Proyeksi itu bergantung pada dinamika permintaan domestik dan kesiapan perbankan dalam menyalurkan pembiayaan.

Di tengah pertumbuhan kredit investasi yang tinggi, pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa cepat pembiayaan bertambah. Yang lebih menentukan adalah apakah dana itu benar-benar memperkuat produksi, memperluas kerja, dan membuat ekonomi bergerak lebih sehat dalam jangka panjang.

Exit mobile version