KPR Masih Tumbuh Di Tengah Perlambatan Industri, BTN dan Bank Besar Tetap Melaju

Di sejumlah bank besar, penyaluran KPR masih bergerak lebih cepat dibandingkan arah industri secara umum. Saat pertumbuhan KPR nasional pada Maret 2026 melandai ke 4,5% secara tahunan dari 5,0% pada bulan sebelumnya, beberapa emiten perbankan justru masih mencatat kenaikan solid, bahkan sampai dua digit.

Kondisi itu menunjukkan perlambatan di level industri belum seragam dirasakan semua pemain. Kredit konsumsi yang tumbuh 5,8% YoY juga belum cukup menggambarkan dinamika yang sama di tiap bank, karena faktor program perumahan, rumah subsidi, dan strategi penyaluran masing-masing lembaga ikut membentuk hasil yang berbeda.

BTN masih memimpin pasar

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. tetap menjadi penyalur KPR terbesar di Indonesia. Hingga kuartal I/2026, total KPR BTN mencapai Rp329,93 triliun, naik 5,93% YoY dari Rp311,45 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan itu ditopang dua segmen utama. KPR subsidi BTN naik 7,71% YoY menjadi Rp193,55 triliun, sedangkan KPR nonsubsidi bertambah 5,39% YoY ke Rp112,56 triliun.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyebut capaian tersebut didukung transformasi, inovasi, dan dukungan pemerintah untuk industri pembiayaan perumahan. Ia juga menegaskan BTN ingin terus memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam memenuhi kebutuhan hunian layak bagi masyarakat.

Bank besar lain masih ikut tumbuh

Di luar BTN, sejumlah bank besar juga masih menjaga momentum penyaluran KPR. PT Bank Central Asia Tbk. mencatat KPR sebesar Rp142,40 triliun hingga Maret 2026, tumbuh 5,25% YoY dari Rp135,30 triliun.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. membukukan KPR Rp73,90 triliun, naik 9,32% YoY. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mencatat pertumbuhan 5,34% YoY menjadi Rp69,00 triliun.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. juga menorehkan pertumbuhan dua digit lewat penyaluran KPR bank only sebesar Rp67,30 triliun, naik 11,06% YoY dari Rp60,60 triliun. Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan perbaikan kualitas aset.

Rasio kredit bermasalah atau NPL BRI ikut membaik dari 3,07% pada akhir Desember 2025 menjadi 3,01% pada Maret 2026. Perbaikan ini memberi sinyal bahwa ekspansi kredit masih dijaga bersama pengendalian risiko.

Tidak semua pemain bergerak searah

Di tengah tren kenaikan yang masih terlihat di beberapa bank besar, ada pula pemain yang justru mencatat pelemahan. PT Bank Permata Tbk. membukukan penurunan KPR 7,32% YoY menjadi Rp26,60 triliun pada kuartal I/2026 dari Rp28,70 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbedaan arah itu memperlihatkan bahwa laju KPR di industri belum bergerak serempak. Basis nasabah, strategi bisnis, dan profil risiko membuat masing-masing bank menghadapi situasi yang tidak sama dalam pembiayaan rumah.

Dukungan program rumah dan payroll masih penting

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Trioksa Siahaan menilai pertumbuhan KPR di sejumlah bank masih ditopang dukungan terhadap program pemerintah di sektor perumahan. Ia juga melihat permintaan rumah subsidi masih kuat dan pertumbuhan KPR dari basis payroll bank ikut membantu menekan risiko.

Menurut Trioksa, prospek KPR masih tetap tumbuh, tetapi dengan laju yang cenderung moderat. Bank dinilai akan lebih selektif memperluas pembiayaan di tengah potensi kenaikan suku bunga dan tren kenaikan harga minyak yang dapat memicu inflasi.

Suku bunga dan aktivitas ekonomi masih memberi ruang

Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai penurunan BI Rate sebesar 125 basis poin sejak tahun lalu ikut membantu turunnya bunga KPR bank. Dampaknya memang tidak langsung, tetapi tetap memberi ruang bagi pembiayaan properti.

Ia juga melihat aktivitas ekonomi yang mulai membaik ikut menopang permintaan KPR. Selain itu, kenaikan harga komoditas global dinilai memberi dampak positif di wilayah yang bergantung pada komoditas seperti Sumatra, Kalimantan, dan Indonesia Timur karena pendapatan masyarakat di daerah tersebut cenderung ikut meningkat.

Sejumlah pengamat menilai penyaluran KPR masih berpeluang tumbuh sampai akhir 2026, meski ritmenya diperkirakan tidak agresif. Suku bunga, inflasi, dan kondisi global tetap menjadi penentu utama bagi arah pembiayaan properti pada sisa tahun ini.

Source: finansial.bisnis.com
Exit mobile version