Korut Makin Berani Uji Rudal Saat Dunia Tersita Konflik Timur Tengah, Sinyal Keras ke Washington

Di tengah perhatian Amerika Serikat yang tersita oleh konflik di Timur Tengah, Korea Utara justru mengambil langkah yang semakin agresif dalam urusan persenjataan. Lonjakan uji coba rudal itu dibaca sebagai tanda bahwa Pyongyang ingin menunjukkan program nuklirnya terus melaju dan tidak mudah dipaksa mundur.

Data AFP mencatat Korea Utara telah meluncurkan rudal lima kali sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari. Empat di antaranya terjadi sejauh April, sehingga tempo peluncuran terlihat lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.

Pesan yang ingin ditegaskan Pyongyang

Rangkaian uji coba tersebut muncul ketika Kim Jong Un kembali menegaskan arah kebijakan nuklir negaranya. Dalam Kongres Partai Buruh pada Februari, ia menyebut posisi Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir telah “dikonsolidasikan” menjadi “tak terbalikkan dan permanen”.

Pernyataan itu memberi landasan politik yang kuat bagi gelombang peluncuran rudal setelah forum lima tahunan tersebut. Bukan hanya rudal balistik yang diuji, tetapi juga rudal jelajah anti-kapal dan amunisi klaster.

Jenis senjata yang dipakai menunjukkan Korea Utara tidak sekadar mengulang demonstrasi kekuatan. Para analis melihat langkah itu sebagai upaya memperluas kemampuan teknis sekaligus membuka lebih banyak opsi senjata dwiguna, baik untuk misi nuklir maupun konvensional.

Membaca celah di situasi global yang gaduh

Sejumlah pengamat menilai kondisi internasional yang sedang tegang memberi ruang gerak lebih besar bagi Pyongyang. Lim Eul-chul, pakar Korea Utara dari Kyungnam University, menyebut situasi keamanan global kini terasa seperti “zona tanpa hukum” karena norma internasional tidak lagi bekerja efektif.

Dalam pembacaannya, Korea Utara melihat keadaan itu sebagai kesempatan untuk menyelesaikan pengembangan persenjataan nuklirnya. Lim menilai Pyongyang kini berada pada fase yang berupaya mempercepat pencegahan ofensif sambil mengembangkan kekuatan nuklir dan konvensional secara paralel.

Ia juga menilai ada indikasi Korea Utara ingin memperlihatkan kemampuan memasang hulu ledak nuklir miniatur. Di saat yang sama, Pyongyang diduga ingin menunjukkan kapasitas melakukan “serangan jenuh” lewat jumlah proyektil besar agar sistem intersepsi lawan kewalahan.

Washington, Iran, dan pesan pembeda dari Korea Utara

Korea Utara ikut mengecam serangan AS terhadap Iran dan menyebutnya sebagai tindakan “gaya gangster”. Meski begitu, tidak ada kepastian bahwa Pyongyang memberikan bantuan senjata kepada Teheran.

Pyongyang juga tidak menyerang Donald Trump secara langsung, walaupun ada spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan di tengah agenda diplomatik yang sedang dibahas. Hong Min, peneliti senior di Korea Institute for National Unification, menilai Korea Utara ingin menyampaikan pesan bahwa status deterenya tidak sama dengan Iran.

Dengan kata lain, setiap peluncuran rudal bukan hanya unjuk kemampuan militer. Aksi itu juga menjadi penegasan bahwa tekanan internasional belum cukup untuk mengubah arah program nuklir Korea Utara.

Dukungan Rusia ikut memperkuat posisi Korut

Di saat hubungan dengan Washington tetap keras, kedekatan dengan Rusia memberi ruang tambahan bagi Pyongyang. Lim menyebut hubungan itu menghadirkan bantuan ekonomi dan teknis yang penting, sebagai imbalan atas dukungan Korea Utara yang disebut telah mengirim ribuan tentara untuk membantu invasi Rusia ke Ukraina.

Dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi, Moskow dan Pyongyang merayakan tersambungnya jembatan jalan pertama, dimulainya pembangunan rumah sakit “persahabatan”, serta peresmian kompleks peringatan militer Korea Utara. Sejumlah pejabat Rusia dari berbagai bidang, termasuk kementerian pertahanan, dalam negeri, sumber daya alam, kesehatan, hingga pimpinan parlemen dan kantor berita TASS, juga telah berkunjung ke Korut.

Fyodor Tertitskiy, sarjana kelahiran Rusia di Korea University Seoul, mengatakan Korea Utara termasuk sedikit negara yang tidak takut beroperasi di wilayah Ukraina yang diduduki. Ia menilai kedua pihak sama-sama memanfaatkan situasi perang yang masih berlangsung.

Momentum yang ingin terus dipertahankan

Perang di Timur Tengah dinilai memberi keuntungan tak langsung bagi Korea Utara karena perhatian Amerika Serikat terpecah. Dalam kondisi seperti itu, Pyongyang tampak ingin memastikan program nuklirnya dipahami sebagai fakta strategis yang sudah berjalan, bukan proyek yang masih bisa dibatalkan.

Hubungan dengan Rusia juga merembet ke bidang budaya dan ekonomi, mulai dari pameran seni Korea Utara di Rusia hingga keberadaan restoran Korea Utara di Moskow. Selama kebutuhan Moskow atas amunisi tetap tinggi, Pyongyang tampaknya akan terus memakai momentum ini untuk menegaskan bahwa kekuatan nuklir dan militernya tidak sedang mundur.

Baca Juga

Back to top button