Sorotan atas serangan kapal yang diduga membawa narkoba di Pasifik timur kini tidak lagi hanya tertuju pada jumlah korban, tetapi juga pada dasar hukum dan bukti yang menyertainya. Di tengah operasi yang terus berlanjut, satu serangan terbaru kembali menewaskan dua pria setelah kapal mereka dihantam ledakan di laut terbuka.
Rekaman yang dibagikan U.S. Southern Command menunjukkan kapal itu sempat mengapung sebelum ledakan terjadi. Pada detik-detik akhir video, asap dan api terlihat membubung dari badan kapal, menandai berakhirnya operasi yang dilakukan di jalur laut yang oleh militer disebut sebagai rute narco-trafficking.
Southern Command menyatakan serangan tersebut dilakukan pada hari Rabu oleh Joint Task Force Southern Spear atas arahan komandan SOUTHCOM, Jenderal Francis L. Donovan. Militer juga menyebut kapal itu dioperasikan oleh organisasi yang telah ditetapkan sebagai teroris.
Sehari sebelumnya, pasukan Amerika Serikat menyerang kapal lain yang diduga terkait narkoba di wilayah yang sama. Serangan itu menewaskan satu pria dan menyisakan dua orang selamat, lalu memicu langkah lanjutan dari pihak berwenang di laut.
Southern Command mengatakan U.S. Coast Guard segera diberi tahu agar mengaktifkan sistem pencarian dan penyelamatan untuk para penyintas. Respons itu menunjukkan operasi di perairan tersebut tidak berhenti pada ledakan saja, tetapi juga berlanjut ke upaya pencarian setelah serangan terjadi.
Rangkaian aksi ini menjadi bagian dari kampanye pemerintahan Trump untuk menghancurkan kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba di perairan Amerika Latin. Operasi itu berlangsung sejak awal September dan mencakup Pasifik timur serta Laut Karibia.
Sejauh ini, kampanye tersebut telah menewaskan sedikitnya 196 orang. Pemerintah Trump menyatakan Amerika Serikat sedang berperang melawan kartel narkoba Amerika Latin, yang menurut Gedung Putih bertanggung jawab atas gelombang overdosis mematikan di banyak komunitas AS.
Namun, operasi ini juga memunculkan pertanyaan yang makin keras dari sebagian anggota DPR dari Partai Demokrat dan pakar hukum militer. Mereka menyoroti tidak adanya bukti yang dipublikasikan bahwa kapal-kapal itu benar-benar membawa narkoba.
Kritik itu memicu kekhawatiran apakah sebagian serangan justru mengenai warga sipil yang tidak menimbulkan ancaman langsung bagi Amerika Serikat. Di saat yang sama, pengawas Pentagon pekan lalu menyatakan akan mengevaluasi apakah militer mengikuti kerangka penargetan yang sudah ditetapkan saat menyerang kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba.
Kerangka itu mencakup enam tahap, mulai dari niat komandan militer, pengembangan target, analisis, keputusan, pelaksanaan, hingga penilaian. Kantor inspektur jenderal Pentagon menegaskan peninjauan tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri, tetapi tidak akan mengusut legalitas serangan tersebut.
Di tengah perdebatan hukum dan bukti yang belum mereda, operasi militer di laut tetap berjalan. Serangan terbaru di Pasifik timur memperlihatkan bahwa kampanye ini masih terus bergerak tanpa tanda melambat.





