Kontroversi Kimmel Memukul Disney, FCC Mulai Menimbang Lisensi ABC Secara Cepat

Sorotan terhadap Disney dan ABC kini tidak lagi berhenti pada satu lelucon Jimmy Kimmel. Langkah FCC membuka peninjauan awal atas lisensi siaran milik ABC justru membuat polemik itu naik kelas menjadi persoalan yang menyentuh kebebasan berekspresi, kewenangan regulator, dan posisi pemerintah terhadap media.

Bagi Disney, tekanan ini datang di saat yang sensitif karena perusahaan harus merespons perintah FCC pada 28 Mei. Di saat yang sama, delapan stasiun ABC yang dimiliki Disney ikut masuk dalam peninjauan, yakni yang berada di Fresno, Los Angeles, Chicago, San Francisco, New York, Philadelphia, Houston, dan Durham, North Carolina.

Peninjauan yang bisa berkembang lebih jauh

FCC tidak langsung mencabut lisensi, tetapi peninjauan awal ini tetap penting karena dapat menjadi pintu menuju proses yang lebih serius. Jika regulator menilai ada pelanggaran dalam penggunaan lisensi siaran, maka masalah yang dihadapi Disney bisa berkembang lebih luas dari sekadar kritik publik.

Disney menyatakan sudah menerima perintah tersebut dan menegaskan bahwa perusahaan memiliki “rekam jejak panjang beroperasi sepenuhnya sesuai aturan FCC”. Perusahaan juga menekankan perannya dalam melayani masyarakat lokal lewat berita tepercaya, informasi darurat, dan program kepentingan publik.

Langkah itu juga memberi tekanan tambahan kepada kepemimpinan baru Disney. Josh D’Amaro, yang mulai memimpin perusahaan pada Maret, kini menghadapi ujian besar pertamanya di tengah perhatian publik yang meningkat tajam.

Lelucon Kimmel yang memantik reaksi politik

Sumber awal polemik ini berasal dari monolog Jimmy Kimmel di ABC yang dibawakan dalam konteks penghormatan terhadap jamuan tahunan White House Correspondents’ Association. Dalam segmen itu, Kimmel melontarkan candaan tentang Melania Trump yang disebut memiliki “a glow like an expectant widow.”

Ucapan tersebut segera memicu kemarahan karena muncul hanya beberapa hari sebelum jamuan resmi yang lekat dengan tema kebebasan pers dan kebebasan berbicara di Washington. Setelah kritik menguat, Kimmel menjelaskan dalam monolog berikutnya bahwa pernyataannya hanyalah lelucon soal perbedaan usia dan “It was not by any stretch of the definition a call for assassination.”

Penjelasan itu tidak cukup meredakan situasi. Presiden Donald Trump dan ibu negara Trump meminta ABC memecat Kimmel, sementara Steven Cheung, direktur komunikasi Gedung Putih, menulis di X dan menuduh Kimmel membuat “joke about assassinating the President” tanpa meminta maaf.

Tekanan melebar ke Disney

Desakan agar ABC mengambil tindakan tidak hanya datang dari Gedung Putih. Marc Beckman, yang dikenal sebagai penasihat luar dekat ibu negara, juga meminta ABC melepas Kimmel dan menyebut sang pembawa acara selama berbulan-bulan telah “spewing vile political rhetoric” ke rumah-rumah warga Amerika.

Disney belum memberi komentar langsung mengenai Kimmel, dan seorang juru bicara perusahaan juga belum dapat segera dihubungi saat permintaan komentar diajukan kembali. Dalam situasi seperti ini, sorotan publik ke Disney bukan hanya soal satu program hiburan, melainkan juga soal bagaimana perusahaan besar merespons tekanan politik dan regulator sekaligus.

Kekhawatiran soal kebebasan berbicara

Reaksi keras dari kelompok advokasi kebebasan berbicara memperlihatkan bahwa isu ini sudah melampaui urusan internal Disney. Jessica Gonzalez, co-CEO Free Press, menyebut tindakan FCC tidak sah dan menilainya sebagai upaya membungkam perbedaan pendapat.

“Ini adalah serangan luar biasa dan tidak konstitusional terhadap media,” kata Gonzalez, seraya menyebut langkah itu sebagai bentuk keberpihakan pada presiden. Committee for the First Amendment, yang didukung Jane Fonda dan beranggotakan aktor, penulis, serta jurnalis, juga mendesak Disney menolak tuntutan pemerintah untuk memecat Kimmel.

Kelompok itu menegaskan bahwa satir bukan kejahatan dan hak untuk mengejek ataupun menantang pihak berkuasa merupakan bagian penting dari demokrasi. Dari situ, perdebatan bergeser dari soal ucapan Kimmel menjadi pertanyaan yang lebih besar tentang batas humor politik dan perlindungan kebebasan berbicara di ruang publik.

Bayang-bayang lama di jamuan pers

Ketegangan semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam jamuan White House Correspondents’ Association. Acara tersebut kerap memunculkan gesekan ketika komedian atau pembawa acara memakai gaya roast yang tajam.

Stephen Colbert dan Seth Meyers pernah menuai kritik atas komentar mereka, sementara pada 2018 pemerintah Trump memprotes penampilan Michelle Wolf yang mengejek Sarah Huckabee Sanders. Pada tahun yang sama, Trump sendiri juga hampir selalu memilih absen dalam sebagian besar jamuan selama masa kepresidenannya.

Dalam perkembangannya, panitia acara belakangan lebih sering memilih pengisi acara selain komedian, termasuk sejarawan Ron Chernow pada 2019, sebagai cara menjaga acara tetap pada jalur penghormatan terhadap media meski ketegangan politik dan batas humor terus menjadi sumber gesekan.

Exit mobile version