Bagi pasar, titik perhatian utama dari kinerja PT Medco Energi Internasional Tbk bukan hanya lonjakan laba bersihnya, tetapi juga siapa yang kembali menjadi penyumbang terbesar di belakang angka itu. Pada kuartal I 2026, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) berbalik menjadi penopang penting setelah sebelumnya justru menekan hasil Medco.
Perubahan itu ikut menjelaskan mengapa laba bersih MEDC melonjak 283 persen pada awal tahun. Di saat banyak emiten energi masih bergulat dengan tekanan harga komoditas, Medco justru mendapat dukungan dari produksi yang lebih kuat, harga minyak mentah yang menguat, dan kontribusi positif dari entitas asosiasi.
Pembalikkan dari rugi ke untung
Kelompok bisnis asosiasi Medco mencatat pendapatan positif US$45 juta pada kuartal I 2026. Setahun sebelumnya, lini yang sama masih membukukan rugi US$20 juta, sehingga pembalikan kinerjanya memberi dorongan besar bagi laba perseroan.
AMMN menjadi kontributor paling besar dalam perbaikan tersebut. Emiten tambang itu menyumbang laba bersih US$33,5 juta kepada Medco pada kuartal I 2026, berbalik dari beban rugi US$29 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
RHB Sekuritas menegaskan perubahan itu dalam risetnya. “AMMN berkontribusi sebesar US$33,5 juta ke laba bersih MEDC pada kuartal I-2026 vs periode sama tahun lalu yang menyumbang rugi US$29 juta,” tulis lembaga riset tersebut sebagaimana dikutip Investor Daily.
Kinerja operasi ikut solid
Di luar kontribusi asosiasi, kinerja operasional Medco juga terlihat kuat pada awal tahun. EBITDA perseroan mencapai US$351 juta dalam tiga bulan pertama tahun ini, naik 6 persen dan setara sekitar 28 persen dari estimasi total tahunan menurut riset RHB Sekuritas yang dikutip Investor Daily.
Angka itu memperlihatkan bahwa penguatan laba tidak hanya datang dari satu sumber. Kinerja lapangan yang lebih baik dan kondisi harga minyak yang mendukung ikut memberi ruang bagi Medco untuk mencatat hasil yang lebih sehat.
Asumsi harga minyak ikut berubah
RHB Sekuritas juga menyesuaikan sejumlah asumsi yang berkaitan langsung dengan prospek Medco. Biaya angkut atau lifting cost MEDC untuk 2026 dinaikkan menjadi US$8,8 per barel setara minyak atau boe, dari sebelumnya US$8,6 per boe.
Pada saat yang sama, proyeksi harga minyak mentah Brent untuk 2026 dinaikkan menjadi US$83 per barel dari estimasi awal US$62 per barel. Untuk 2027, harga Brent diperkirakan berada di US$72 per barel dengan target produksi hidrokarbon tetap di 171 ribu boepd.
Perubahan asumsi itu memberi gambaran bahwa ruang pendapatan Medco masih terbuka jika harga acuan bertahan lebih kuat. Dengan produksi yang dijaga dan biaya yang relatif terkendali, prospek laba perusahaan dinilai ikut membaik.
Pandangan analis ikut lebih optimistis
RHB Sekuritas kemudian merevisi naik proyeksi EBITDA MEDC untuk 2025 sebesar 15 persen menjadi US$1,5 miliar. Revisi ini menunjukkan keyakinan yang lebih tinggi terhadap kemampuan perseroan mempertahankan performa operasional di tengah kondisi pasar energi yang dinamis.
Dari sisi valuasi, saham MEDC diperdagangkan pada level 3,6 kali EV/EBITDA. Angka tersebut dinilai 18 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata perusahaan sejenis di industri energi, sehingga ruang valuasi masih dianggap menarik oleh analis.
Atas dasar itu, RHB Sekuritas menetapkan target harga saham MEDC di Rp2.200 per saham dengan rekomendasi beli. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan 28 persen dan estimasi imbal hasil dividen atau yield sekitar 4 persen bagi investor.
Dengan laba yang melonjak tajam, EBITDA yang tetap solid, serta kembalinya AMMN sebagai penyumbang untung utama, Medco memasuki tahun ini dengan posisi yang lebih kuat. Kombinasi faktor operasional, harga komoditas, dan kontribusi asosiasi kini menjadi penentu penting bagi arah kinerja perseroan berikutnya.