Konten Privasi Berubah Jadi Tekanan, Smartglasses Kini Dipertanyakan Lebih Keras

Kasus seorang perempuan yang tanpa sadar terekam lalu diminta membayar agar videonya dihapus membuat perdebatan soal kacamata pintar kembali memanas. Yang dipersoalkan bukan hanya perekaman diam-diam, tetapi juga dugaan bahwa konten pribadi dipakai sebagai alat tekan terhadap korban.

Perempuan itu menggunakan nama samaran Alice saat dibahas oleh BBC. Ia mengatakan tidak pernah memberi izin untuk direkam maupun dipublikasikan, dan baru tahu ada video itu setelah seorang teman mengirimkan tautannya.

Konten tersebut sudah ditonton lebih dari 40.000 kali. BBC menyebut video itu diduga masuk ke pola konten “pick up artist”, yakni saat seorang pria mendekati perempuan lalu menjadikan interaksi itu sebagai materi untuk penonton laki-laki lain.

Dalam situasi itu, batas antara percakapan biasa dan bahan publik menjadi sangat tipis. Alice mengaku merasa dipermalukan karena tidak tahu sedang difilmkan sama sekali.

Masalahnya makin serius ketika Alice meminta video itu dihapus. Balasan email yang kemudian dipublikasikan BBC menunjukkan bahwa penghapusan hanya ditawarkan jika ada pembayaran, meski tidak ada angka yang diungkapkan.

Pria yang mengunggah video itu tidak disebutkan namanya. Dalam email tersebut, ia menyatakan kontennya “sepenuhnya mematuhi hukum dan pedoman platform”, lalu menulis bahwa jika ada orang yang ingin kontennya dihapus, ia “biasanya menawarkan opsi penghapusan sebagai layanan berbayar”.

Saat BBC menghubunginya, pria itu menolak diwawancarai. Ia mengatakan ingin kontennya menampilkan interaksi yang “ringan” dan “penuh hormat”, serta membantah bahwa dirinya mewajibkan pembayaran untuk penghapusan video.

Namun penjelasan itu tidak meredakan kekhawatiran para pengamat hukum. Profesor Clare McGlynn dari Durham University di Inggris menilai situasi tersebut bahkan melampaui “pemerasan standar”.

BBC juga menyatakan mengetahui adanya satu perempuan lain yang berada dalam kondisi serupa. Itu membuat persoalan ini terlihat bukan sekadar insiden tunggal, melainkan pola yang berulang.

Sejumlah platform kemudian ikut bertindak. Meta disebut telah menghapus video itu, TikTok juga menghapusnya, dan kanal YouTube tempat konten serupa dipublikasikan kini tidak lagi aktif.

Sorotan berikutnya mengarah ke perangkat yang kemungkinan dipakai dalam perekaman. Jika pria itu memang mengenakan Ray-Ban Meta smartglasses, perangkat tersebut dapat merekam hingga tiga menit dalam sekali pengambilan.

Kacamata itu memiliki lampu indikator LED untuk memberi tahu orang di sekitar bahwa kamera sedang aktif. Secara teori, penanda itu dibuat agar perekaman tidak sepenuhnya tersembunyi.

Masalahnya, indikator tersebut bisa diakali. Dengan begitu, orang lain dapat tidak menyadari kapan kamera benar-benar merekam.

Inilah yang membuat smartglasses menimbulkan kekhawatiran berbeda dibanding ponsel. Kamera tidak perlu diangkat jelas ke arah subjek, karena perangkatnya menyatu dengan aksesori yang dipakai di wajah dan tampak seperti kacamata biasa.

Bahkan tanpa trik untuk mematikan penanda visual, banyak orang tetap bisa tidak sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan perangkat perekam. Dalam percakapan singkat di ruang publik, kesempatan untuk meminta persetujuan juga bisa hilang begitu saja.

Di sisi lain, perangkat seperti Ray-Ban Meta masih dinilai punya kegunaan bila dipakai secara bertanggung jawab. Kameranya dapat dipakai untuk visual search, sementara speakernya bisa digunakan mendengarkan podcast tanpa sepenuhnya memutus kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

Tetapi kekhawatiran soal privasi, dari perekaman diam-diam sampai cara video dipantau oleh Meta, disebut menjadi hambatan besar bagi penerimaan teknologi ini. Sebagian perusahaan bahkan memilih mengambil jarak dari risiko tersebut.

Even Realities, misalnya, memandang kamera sebagai aspek negatif dan tidak menyertakan fitur itu pada smartglasses buatannya. Pilihan itu memperlihatkan bahwa perdebatan tentang smartglasses kini tidak berhenti pada bentuk dan kenyamanan, melainkan menyentuh batas privasi di ruang publik.

Source: www.androidpolice.com

Baca Juga

Back to top button