Ancaman terhadap dua jalur laut paling penting di kawasan kembali menjadi sorotan setelah Iran menghentikan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat melalui mediator. Langkah itu membuat ruang diplomasi tampak makin sempit, sementara ketegangan regional justru bergerak ke arah yang lebih berbahaya.
Perhatian utama kini tertuju pada Selat Hormuz dan Selat Bab El Mandeb. Tasnim melaporkan bahwa Iran dan Front Perlawanan telah menyusun agenda untuk menutup total Hormuz dan mengaktifkan front lain, termasuk Bab El Mandeb.
Komunikasi dengan Washington makin renggang
Keputusan menghentikan pertukaran pesan dengan Washington disampaikan di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung untuk mengakhiri perang yang telah berjalan selama tiga bulan. Jalur komunikasi yang semula diharapkan bisa membantu meredakan situasi kini justru melemah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga memberi sinyal keras lewat unggahan di X pada Senin. Ia menulis bahwa pelanggaran di satu front berarti pelanggaran gencatan senjata di semua front.
Araqchi menuduh Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran. Ia mengaitkan pernyataannya dengan operasi Israel di Lebanon.
Hormuz kembali jadi titik paling rawan
Selat Hormuz menjadi pusat kekhawatiran karena perairan itu merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Tasnim menyebut Iran secara efektif telah menutup selat tersebut, dan dampaknya sudah terlihat melalui kenaikan harga energi secara global.
Posisi Hormuz sangat strategis karena jalur sempit ini dilalui kapal tanker dan arus pasokan energi internasional. Gangguan di titik ini dapat memukul perdagangan energi dunia dalam waktu singkat.
Karena itu, ancaman terhadap Hormuz mendapat perhatian besar di tengah memanasnya konflik. Setiap eskalasi di jalur ini langsung berimbas pada stabilitas pasar energi.
Bab El Mandeb ikut masuk dalam peta eskalasi
Selain Hormuz, Selat Bab El Mandeb juga disebut sebagai front yang bisa diaktifkan. Jika Houthi, sekutu Iran di Yaman, membuka front baru, jalur di lepas pantai Yaman itu menjadi sasaran yang penting karena merupakan titik sempit menuju Terusan Suez.
Masuknya Bab El Mandeb ke dalam skenario eskalasi menunjukkan bahwa dampak konflik tidak berhenti di satu wilayah. Dua simpul laut utama sekaligus bisa tertekan jika ketegangan terus melebar.
Kombinasi ancaman di Hormuz dan Bab El Mandeb memberi gambaran betapa besar risiko bagi perdagangan maritim global. Kedua jalur itu memegang peran penting dalam arus kapal dan energi dunia.
Tuntutan Iran tetap keras
Di tengah ketegangan itu, pejabat Iran dan para negosiator disebut menegaskan satu tuntutan utama. Mereka meminta operasi militer Israel di Gaza dan Lebanon dihentikan segera.
Iran juga menuntut penarikan penuh Israel dari wilayah pendudukan di لبنان sebelum pembicaraan dapat dilanjutkan. Syarat itu menunjukkan bahwa saluran diplomasi belum tertutup sepenuhnya, tetapi posisi Teheran semakin tegas.
Perang yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari disebut telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Konflik ini juga menambah tekanan ekonomi global karena harga energi terdorong naik setelah gangguan di Selat Hormuz.





