Keturunan Korban Romusha Belanda Kembali Ke Pekanbaru, Menyentuh Jejak Tragedi Rel Maut

Monumen Kereta Api di Simpang Tiga kembali menjadi pusat perhatian ketika puluhan keturunan korban kerja paksa romusha asal Belanda datang berkunjung ke Pekanbaru. Mereka menapaki lokasi yang menyimpan kisah rel maut, sambil mengenang keluarga yang tidak pernah kembali pulang.

Kedatangan rombongan itu bukan sekadar perjalanan sejarah, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap para tawanan perang yang dipaksa bekerja dalam pembangunan jalur kereta api Pekanbaru-Muaro Sijunjung. Bagi mereka, tempat ini menghadirkan kembali ingatan tentang luka lama yang selama ini melekat dalam keluarga.

Jejak rel 220 kilometer yang memakan banyak korban

Jalur kereta api Pekanbaru-Muaro Sijunjung dibangun sepanjang sekitar 220 kilometer. Proyek itu semula ditujukan untuk kepentingan pengangkutan batu bara dan logistik perang, tetapi meninggalkan catatan kelam karena banyak korban jiwa.

Korban dalam pembangunan jalur ini tidak hanya berasal dari kalangan pribumi. Dalam catatan pihak terkait, ada pula tawanan perang Sekutu dan warga Belanda yang ditahan lalu dipaksa bekerja dalam kondisi yang sangat berat dan tidak manusiawi.

Salah satu tahap yang kembali disorot adalah pemindahan para tahanan perang Belanda. Mereka awalnya diangkut dari Padang dengan kereta api menuju Payakumbuh, lalu dibawa menggunakan truk ke Pekanbaru untuk dijadikan pekerja paksa.

Bab sejarah yang belum banyak dikenal

Bagi sejumlah keturunan korban, kunjungan ke Pekanbaru juga membuka kembali cerita yang selama ini belum banyak dibicarakan di Belanda. Eric dari Foundation of the Remembrance Burma and Pekanbaru Railway menyebut banyak warga Belanda belum memahami kisah romusha di Indonesia.

Eric juga mengatakan sekitar 80 ribu orang meninggal dunia akibat romusha. Pernyataan itu menunjukkan bahwa tragedi di Asia Tenggara masih belum seterkenal pengalaman pendudukan Jerman di Eropa dalam ingatan publik Belanda.

Dari sisi Belanda, kunjungan ini dipandang sebagai penghormatan kepada warga Belanda yang menjadi tahanan perang. Atase Militer Kedutaan Besar Belanda di Indonesia, Colonel Horbert Johannes Moerkens, menegaskan bahwa mereka dipaksa bekerja oleh tentara Jepang dalam situasi yang sangat buruk.

Monumen yang dijaga sebagai ruang belajar

Monumen Kereta Api di Simpang Tiga kini berdiri sebagai penanda atas tragedi tersebut. Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah menetapkan lokasi itu sebagai salah satu dari enam cagar budaya di daerah tersebut.

Kepala Bidang Pembinaan Seni Budaya Disbudpar Pekanbaru, Zulnawirawan, menyambut baik kedatangan para keturunan korban romusha Belanda. Ia juga menyebut monumen itu rutin dikunjungi pelajar dan mahasiswa untuk belajar sejarah.

Lokasi tersebut dijaga oleh juru pelihara yang digaji pemerintah kota. Status cagar budaya dan kehadiran juru pelihara membuat monumen itu tetap terawat sebagai ruang edukasi sekaligus pengingat atas peristiwa yang tidak boleh hilang dari ingatan.

Harapan agar ingatan sejarah tetap hidup

Dari pihak Kedutaan Besar Belanda, muncul harapan agar lokasi ini tidak hanya menjadi tempat ziarah sejarah. Mereka juga mengusulkan fasilitas yang lebih memadai, termasuk pembangunan museum kecil untuk menyimpan artefak Perang Dunia II dan peninggalan romusha.

Selain itu, pihak Belanda berharap ada komemorasi rutin setiap dua tahun sekali sebagai bentuk penghormatan kepada para korban. Rencana kerja sama internasional juga dibahas, termasuk kemungkinan kolaborasi dengan Australia dalam peringatan korban yang gugur.

Kunjungan puluhan keturunan korban romusha ke Pekanbaru memperlihatkan bahwa rel maut masih menyimpan beban sejarah yang kuat bagi banyak keluarga. Monumen Kereta Api tetap menjadi ruang penting untuk menjaga ingatan atas tragedi itu agar tidak lenyap dari publik.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version