Ketidakpastian Global Memicu Rekor Baru, Belanja Militer Dunia Melonjak ke 2,887 Triliun Dolar

Lonjakan anggaran pertahanan di banyak negara kini menjadi sinyal kuat bahwa rasa tidak pasti di level global masih jauh dari reda. Di tengah perang yang masih berlangsung dan ketegangan antarkawasan yang belum mereda, belanja militer dunia menembus 2,887 triliun dolar AS dan mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Data Stockholm International Peace Research Institute atau SIPRI menunjukkan kenaikan itu berlangsung selama 11 tahun berturut-turut. Besarnya belanja pertahanan global juga setara 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto dunia, level tertinggi sejak 2009.

Eropa menjadi kawasan dengan kenaikan paling tajam

Di antara kawasan utama, Eropa mencatat lonjakan terbesar dengan kenaikan 14 persen hingga mencapai 864 miliar dolar AS. Tekanan paling besar datang dari invasi Rusia ke Ukraina, yang mendorong negara-negara NATO di Eropa tengah dan barat memperkuat pertahanan mereka.

Spanyol termasuk yang paling menonjol karena anggarannya melonjak 50 persen. Peneliti Program Pengeluaran Militer dan Produksi Senjata SIPRI, Xiao Liang, menilai fokus belanja di kawasan itu kini bergeser ke Eropa tengah dan barat yang mulai menjalankan rencana militerisasi secara lebih nyata.

Jerman juga muncul sebagai salah satu motor utama dengan belanja 114 miliar dolar AS. Pemerintah negara itu mengubah aturan fiskal agar belanja militer dikecualikan dari rem utang, sebuah langkah yang diambil saat jaminan keamanan dari Amerika Serikat dinilai makin tidak pasti.

Liang menilai kenaikan anggaran tidak serta-merta langsung menaikkan kemampuan tempur dalam waktu singkat. Namun, dalam jangka panjang, ia melihat Jerman akan bergerak menuju posisi yang lebih mandiri secara militer.

Amerika Serikat masih terbesar, tetapi porsinya menyusut

Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan belanja militer terbesar di dunia meski angkanya turun 7,5 persen menjadi 954 miliar dolar AS pada 2025. Penurunan itu terjadi karena Kongres belum menyetujui bantuan militer baru untuk Ukraina yang biasanya dihitung dalam belanja donor.

Liang menyebut tren tersebut mulai berbalik. Ia juga menilai anggaran 2026 yang baru disetujui Kongres AS memberi sinyal kenaikan besar, terutama karena perang di Timur Tengah dan meningkatnya ketegangan di Asia masih menuntut biaya operasional yang tinggi.

Porsi Amerika Serikat dalam total belanja global turun bukan semata-mata karena pemangkasan besar di negara-negara teratas. SIPRI menilai penyebab utamanya adalah kenaikan yang lebih luas di banyak negara lain, terutama di kelompok kekuatan menengah.

Asia ikut memperkuat pertahanan

Di Asia, Cina tetap berada di posisi kedua dengan kenaikan belanja 7,4 persen sebagai bagian dari modernisasi militer menuju 2035. Perkembangan itu memicu respons dari Jepang, Taiwan, dan Filipina yang ikut menaikkan anggaran pertahanan.

Liang mengatakan modernisasi militer Cina dan ketegangan dengan negara-negara tetangga sudah lama mendorong peningkatan belanja di kawasan. Ia menambahkan bahwa Australia, Jepang, dan Taiwan juga berada di bawah tekanan untuk lebih mandiri dalam pertahanan.

India menempati posisi kelima dengan belanja 92,1 miliar dolar AS. Kenaikan itu dipicu ketegangan dengan Cina serta konflik perbatasan dengan Pakistan sepanjang 2025, termasuk investasi besar pada bidang dirgantara dan drone yang banyak dipakai dalam konflik tersebut.

Perang yang masih berjalan mendorong anggaran tetap naik

SIPRI menilai dorongan utama lonjakan belanja militer datang dari perang dan ketidakpastian geopolitik yang belum berhenti. Liang menyebut konflik di Ukraina, Gaza, dan Sudan ikut mendorong banyak negara mempertahankan atau menaikkan rencana belanja pertahanan yang sudah disusun sebelumnya.

Menurut Liang, pola kenaikan ini memperlihatkan respons langsung terhadap perang, ketegangan, dan ketidakpastian geopolitik. Ia memperkirakan tren seperti ini bisa terus berlanjut hingga 2026 dan seterusnya selama krisis belum mereda.

Kenaikan belanja juga membawa konsekuensi fiskal yang tidak kecil. Liang mengingatkan bahwa pemerintah di berbagai negara bisa terdorong memangkas layanan sosial atau bantuan pembangunan untuk memberi ruang pada kebutuhan pertahanan yang terus membesar.

SIPRI juga menilai penumpukan persenjataan global dapat meningkatkan risiko salah perhitungan dan menurunkan kepercayaan antarnegeri. Dalam situasi seperti ini, dunia menghadapi lanskap keamanan yang makin rumit ketika banyak pemerintah memilih memperbesar anggaran militer sebagai bentuk antisipasi.

Baca Juga

Back to top button