Keterampilan Teknikal Makin Mahal, Mekanik Bisa Mendekati Gaji Rp1,8 Miliar Setahun

Kenaikan gaji di sektor keterampilan teknis kini menjadi salah satu cerita paling menonjol di pasar kerja global. Di sejumlah negara maju, pekerja skilled trade bahkan mulai mendekati, dan dalam beberapa kasus menyaingi, penghasilan karyawan kantoran.

Perubahan ini terlihat jelas dari data perusahaan rekrutmen global Randstad. Profesi seperti mekanik, teknisi robotik, teknisi HVAC, dan teknisi otomasi industri masuk ke kelompok yang semakin dicari perusahaan karena kebutuhan tenaga kerjanya terus meningkat.

Permintaan naik seiring perubahan industri

Lonjakan kebutuhan pekerja teknis tidak muncul begitu saja. Salah satu pendorong terbesarnya adalah pembangunan pusat data yang menopang pertumbuhan AI, karena fasilitas itu membutuhkan banyak tenaga kerja fisik untuk menjaga operasional tetap berjalan.

Kebutuhan tersebut mencakup teknisi listrik, pendingin ruangan, otomasi industri, hingga robotika. Randstad menilai perdebatan soal AI sering terlalu fokus pada ancaman terhadap pekerjaan kantoran, padahal AI justru tetap bergantung pada infrastruktur fisik yang tidak bisa dibangun sendiri oleh mesin.

Belanja modal besar dari perusahaan teknologi juga ikut memperkuat permintaan itu. Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon disebut menyiapkan gabungan dana hampir US$700 miliar atau sekitar Rp12.250 triliun tahun ini untuk memperluas data center.

Gaji pekerja teknis ikut terkerek

Di tengah meningkatnya kebutuhan tersebut, penghasilan pekerja skilled trade ikut naik di berbagai negara. Randstad mencatat rata-rata gaji pekerja skilled trade di Amerika Serikat melonjak hingga 30 persen sejak 2022.

Kenaikan serupa juga terlihat di negara lain. Di Belanda, rata-rata gaji pekerja skilled trade naik 21 persen, di Jerman 18 persen, dan di Inggris 9 persen.

Untuk beberapa profesi tertentu, angkanya sudah sangat tinggi. Di Belanda, mekanik bisa menerima rata-rata US$79 ribu atau sekitar Rp1,38 miliar per tahun, sementara di Jerman pendapatan mekanik mencapai US$76.600 atau setara Rp1,34 miliar per tahun.

Di Inggris, pekerja di sektor konstruksi dan perumahan juga mencatat penghasilan rata-rata lebih dari US$78.500 atau sekitar Rp1,37 miliar per tahun. Data itu menunjukkan bahwa keterampilan teknis kini tidak lagi bisa dianggap kalah dari profesi kantoran dari sisi imbal hasil.

Jalur karier teknis makin dilirik

CEO Randstad, Sander van’t Noordende, menilai pola karier konvensional sedang berubah. Ia menyebut jalur kuliah lalu masuk kantor demi mengejar karier yang menguntungkan tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan yang kuat.

Menurut Noordende, bidang teknologi dan keterampilan teknis tetap menawarkan prospek besar. Ia menegaskan pekerjaan skilled trade berkembang sangat cepat dan mampu memberikan penghasilan yang baik bagi pekerja dengan keahlian yang relevan.

Pandangan itu selaras dengan perubahan kebutuhan perusahaan yang kini mencari tenaga kerja yang bisa menjaga sistem digital dan fisik tetap stabil. Karena itu, peran teknisi lapangan semakin strategis di banyak industri.

Lowongan teknis bertambah cepat

Analisis Randstad terhadap 50 juta lowongan pekerjaan menunjukkan minat pasar pada profesi teknis terus naik. Permintaan teknisi robotika meningkat 107 persen sejak 2022.

Pada periode yang sama, lowongan teknisi HVAC tumbuh 67 persen dan teknisi otomasi industri naik 51 persen. Kenaikan tersebut menandakan profesi teknis bukan lagi pekerjaan pelengkap, melainkan bagian penting dari infrastruktur industri modern.

Keterampilan AI juga menambah nilai pekerja baru

Di sisi lain, kemampuan AI kini menjadi nilai tambah bagi lulusan baru dan pekerja level awal. Randstad mencatat pekerja pemula yang memiliki keterampilan AI bisa menerima gaji hingga 25 persen lebih tinggi.

Noordende menyebut AI dapat menjadi jalur cepat menuju promosi dan kenaikan gaji, selama dibarengi soft skill seperti penilaian, kolaborasi, dan empati. Ia menilai kemampuan teknis memang bisa dipelajari lebih cepat, tetapi kecakapan sosial tetap berpengaruh besar terhadap laju karier.

Contohnya terlihat pada bidang pengembangan software di Amerika Serikat. Gaji awal pekerja bisa naik dari US$85 ribu atau sekitar Rp1,48 miliar menjadi US$105 ribu atau setara Rp1,83 miliar jika memiliki kemampuan AI tambahan.

Perusahaan tetap mencari sisi manusiawi

Meski AI membuka peluang baru, teknologi itu juga menekan sebagian pekerjaan level pemula. Data perusahaan konsultan Challenger Gray & Christmas menyebut hampir 50 ribu PHK di Amerika Serikat tahun ini berkaitan dengan penggunaan AI.

Namun, di tengah tekanan itu, perusahaan justru makin mencari kandidat dengan kemampuan interpersonal yang kuat. Permintaan terhadap emotional intelligence naik 173 persen, sedangkan kreativitas meningkat 168 persen.

Randstad menilai kombinasi keterampilan lapangan, pemahaman digital, dan kecakapan sosial kini menjadi paket paling menarik di pasar kerja modern. Dalam kondisi seperti ini, profesi teknis tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas bersama kebutuhan industri yang terus berubah.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version