Ketegangan Global Dan Harga Minyak Menekan Rupiah, Pasar Masih Waspada Di Rp17.500

Tekanan terhadap rupiah belum hanya datang dari satu arah. Di saat pasar global masih dibayangi kenaikan harga minyak mentah dan ketegangan geopolitik, investor domestik juga terlihat lebih berhati-hati sehingga mata uang Indonesia makin sulit menemukan penopang.

Pada perdagangan Selasa sore, rupiah ditutup di Rp17.529 per dolar AS di pasar spot. Posisi itu menjadi rekor terburuk baru dan sekaligus membuat rupiah kembali berada di atas batas psikologis Rp17.500 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 115 poin atau 0,66 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.414. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia menempatkan rupiah di level Rp17.514 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan pada rupiah berkaitan erat dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Di saat yang sama, sentimen pasar juga tertekan oleh ketegangan geopolitik, terutama antara Amerika Serikat dan Iran.

Lukman melihat harapan perdamaian antara kedua negara itu semakin redup. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung menjauh dari aset berisiko, dan mata uang negara berkembang biasanya langsung merasakan dampaknya.

Sentimen lokal ikut memperberat

Tekanan global itu tidak berdiri sendiri karena pasar domestik juga sedang berada dalam suasana risk-off di ekuitas. Antisipasi atas pengumuman MSCI ikut membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.

Di sisi lain, data penjualan ritel Indonesia yang lebih rendah dari ekspektasi juga menambah beban sentimen. Kombinasi faktor-faktor ini membuat rupiah kehilangan dukungan tambahan dari dalam negeri.

Pasar masih menunggu pemicu baru

Lukman menyebut pasar kini menanti rilis data inflasi Amerika Serikat dan pertemuan penting antara Presiden Xi Jinping dan Donald Trump. Selama pelaku pasar memilih sikap tunggu dan lihat, ruang penguatan rupiah belum terlihat jelas dalam waktu dekat.

Ia menambahkan, belum ada katalis positif yang cukup kuat untuk membalik tekanan yang sedang berlangsung. Meski begitu, peluang penguatan tetap terbuka bila Bank Indonesia melakukan intervensi agresif di pasar.

Dalam pandangannya, rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.450 hingga Rp17.600. Rentang itu menunjukkan volatilitas masih bisa tinggi selama sentimen global belum membaik.

Tekanan juga terasa di kawasan Asia

Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang sama-sama berada di bawah tekanan. Won Korea Selatan menjadi yang paling lemah dengan depresiasi 1,11 persen.

Di bawahnya ada peso Filipina yang turun 0,56 persen, rupee India melemah 0,43 persen, dan baht Thailand terkoreksi 0,39 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan di mata uang kawasan berlangsung cukup luas dan tidak hanya menimpa rupiah.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button