Ketegangan AS-Iran Menahan Rupiah Di Rp 17.142, Dukungan Domestik Masih Menopang Pasar

Ketenangan rupiah di pasar valuta asing masih belum benar-benar terbentuk karena sentimen luar negeri terus mendominasi. Pada perdagangan Selasa, mata uang Indonesia ditutup menguat tipis ke level Rp 17.142 per dollar AS, naik 26 poin atau 0,15 persen, namun pergerakan itu tetap memperlihatkan betapa rapuhnya pasar ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada konflik Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan arah jelas. Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut ketidakpastian terbesar datang dari bagaimana masa depan perang akan berkembang, terutama karena masih ada sinyal yang saling bertentangan mengenai kelanjutan pembicaraan damai kedua negara.

Menurut Ibrahim, pasar masih menunggu kepastian apakah dialog damai akan benar-benar berlanjut. Situasi itu membuat investor cenderung menjaga sikap, terlebih setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan kecil kemungkinan gencatan senjata diperpanjang.

Ketegangan geopolitik ikut membayangi pasar

Kekhawatiran pasar tidak hanya datang dari pernyataan politik, tetapi juga dari insiden militer yang terjadi pada akhir pekan lalu. AS dilaporkan menembaki dan menangkap kapal berbendera Iran, sehingga menambah lapisan risiko di tengah kekhawatiran yang sudah ada.

Dalam kondisi seperti ini, pasar keuangan biasanya bergerak hati-hati dan cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman. Tekanan itu kerap ikut menimpa mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena investor lebih sensitif terhadap ketidakpastian eksternal.

Dukungan domestik masih menjaga ruang gerak rupiah

Di tengah tekanan dari luar, faktor dalam negeri masih memberi penopang bagi stabilitas rupiah. Ibrahim menilai fondasi ekonomi Indonesia tetap cukup kuat karena pemerintah terus menjaga pertumbuhan ekonomi sambil menyesuaikan kebijakan fiskal agar sejalan dengan target pembangunan yang produktif.

Dorongan terhadap investasi juga disebut masih menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Penyesuaian kebijakan fiskal dinilai diperlukan supaya pelaksanaan di lapangan tetap mendukung perbaikan ekonomi yang berkelanjutan.

Reformasi struktural yang telah lama dijalankan Indonesia juga ikut dipandang memberi manfaat saat tekanan global menguat. Langkah itu membantu menjaga ketahanan energi dan memperkuat daya tahan ekonomi nasional ketika situasi eksternal memburuk.

Peran fiskal dan indikator makro tetap menjadi bantalan

APBN dinilai punya peran penting sebagai penahan guncangan saat harga global bergerak liar akibat konflik geopolitik. Instrumen fiskal tersebut dapat membantu menjaga daya beli masyarakat ketika tekanan di pasar internasional meningkat.

Ibrahim juga menyoroti bahwa inflasi domestik masih terjaga dan defisit fiskal tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB. Kombinasi ini membuat kredibilitas makro-finansial Indonesia masih dipandang solid di tengah gejolak eksternal.

Pasar memang mencatat adanya arus keluar devisa senilai 1,8 miliar dollar AS. Namun, selama dukungan fundamental domestik tetap terpelihara, pelaku pasar masih melihat peluang rupiah bergerak stabil meski tekanan dari luar belum mereda.

Pergerakan tipis rupiah pada akhirnya mencerminkan tarik-menarik antara risiko geopolitik dan bantalan ekonomi dalam negeri. Selama ketidakpastian hubungan AS-Iran masih berlangsung, arah rupiah akan terus bergantung pada perkembangan sentimen global dan respons pasar terhadap risiko yang menyertainya.

Exit mobile version