Kesaksian Di Filton Ungkap Taser, Palu, Dan Luka Serius Aktivis Palestine Action

Sidang di Inggris memunculkan gambaran yang lebih rinci tentang apa yang terjadi saat penangkapan aktivis Palestine Action di fasilitas Elbit Systems di Filton. Dari ruang sidang, perhatian tidak hanya tertuju pada tuduhan perusakan properti, tetapi juga pada bagaimana aparat menggunakan taser dan semprotan Pava dalam operasi itu.

Leona Kamio menjadi salah satu sosok yang paling disorot setelah ia menyebut mengalami luka serius di lengan dan pinggul akibat taser. Ia juga mengaitkan cedera lain pada tubuhnya dengan hantaman palu besar ketika penangkapan berlangsung, sementara rekaman video yang diputar di pengadilan menunjukkan petugas Peter Adams mengarahkan taser ke arahnya sebelum menjatuhkannya ke lantai.

Kamio mengatakan sengatan taser terasa sangat menyakitkan dan langsung membuat tubuhnya kaku. Ia juga menyebut lengannya diputar saat petugas berusaha menarik pergelangan tangannya, sementara dirinya berteriak kesakitan di tengah situasi yang ia gambarkan kacau.

Dalam rekaman yang sama, suaranya terdengar memprotes tindakan aparat dengan mengatakan, “Kamu benar-benar memukulku.” Adams kemudian membalas dengan menyebut rekan Kamio lebih dulu menyerang petugas menggunakan palu, meski Kamio menegaskan dirinya tidak tahu siapa yang menyebabkan luka hantaman palu pada tangannya.

Keterangan medis yang diajukan di persidangan ikut dipakai untuk menilai tingkat cedera yang dialami Kamio. Kesaksian itu membuat operasi penangkapan di Filton tidak hanya dipandang sebagai soal penegakan hukum biasa, tetapi juga sebagai peristiwa yang menimbulkan pertanyaan tentang penggunaan kekuatan oleh petugas di lapangan.

Di sisi lain, Samuel Corner juga memberi penjelasan di ruang sidang setelah mengakui telah memukul seorang petugas polisi. Ia menyatakan tindakannya terjadi ketika pandangannya terganggu oleh semprotan Pava yang membuat matanya perih dan fokusnya buyar.

Corner menggambarkan sensasi semprotan itu sangat membakar dan menyita perhatian. Ia mengatakan kondisi tersebut membuat dirinya tidak sadar bahwa orang yang dihadapinya adalah polisi berseragam, karena saat itu ia mengira sosok tersebut merupakan petugas keamanan pribadi yang bertindak agresif terhadap rekan-rekannya yang perempuan.

Ia juga menyatakan tidak berniat menyebabkan cedera serius pada siapa pun. Pernyataan itu menjadi bagian dari upaya pembelaan atas tindakan yang terjadi saat penggerebekan di pabrik senjata tersebut berlangsung.

Kamio sendiri menjelaskan bahwa keterlibatannya dengan Palestine Action berangkat dari tujuan menghentikan operasional pabrik senjata. Ia memandang perusakan fasilitas itu sebagai cara untuk mencegah kerugian yang lebih besar terhadap manusia, bukan sebagai aksi tanpa arah.

Sebagai guru TK, Kamio mengatakan keselamatan anak-anak baginya lebih penting daripada perlindungan properti perusahaan. Ia juga menyebut Elbit Systems sebagai perusahaan yang sangat jahat karena dianggap menjadi bagian penting dari kekuatan militer Israel.

Aksi di Filton disebut sebagai bagian dari kampanye global Palestine Action untuk menutup operasional Elbit Systems di berbagai lokasi. Para aktivis memandang fasilitas itu sebagai target utama karena perannya dalam produksi teknologi militer yang dikaitkan dengan konflik di Palestina.

Dalam persidangan yang sama, lima terdakwa lain juga menghadapi dakwaan perusakan properti terkait aksi masuk paksa ke pabrik tersebut. Rangkaian kesaksian dari Kamio dan Corner membuat perkara ini berkembang menjadi sorotan yang lebih luas, karena menyangkut sekaligus dugaan kekerasan saat penangkapan dan pembelaan atas aksi yang mereka lakukan.

Source: www.suara.com
Exit mobile version