Kesabaran Trump Habis, Iran Kian Terdesak Dalam Kebuntuan Negosiasi Nuklir

Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali menanjak setelah Donald Trump memberi sinyal bahwa kesabarannya terhadap Iran sudah menipis. Ia menuntut Iran segera membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat bila ingin situasi mereda, di tengah perundingan yang belum juga menghasilkan titik temu.

Pernyataan itu muncul saat kebuntuan diplomasi masih berputar di isu yang sama, yakni program nuklir Iran dan tuntutan Washington agar Teheran menghentikan langkah-langkah tertentu. Iran tetap menolak menghentikan program nuklirnya dan juga enggan menyerahkan persediaan uranium yang telah diperkaya.

Tekanan Washington makin terbuka

Dalam wawancara di program Hannity yang tayang di Fox News, Trump menyampaikan bahwa ia tidak akan menunggu lebih lama lagi. Ucapan itu menambah tekanan politik terhadap Iran setelah rangkaian upaya diplomasi untuk meredakan konflik belum menunjukkan hasil yang jelas.

Trump juga menyinggung isu uranium Iran yang disebut disembunyikan. Ia menilai pengamanan terhadap persediaan uranium lebih relevan dari sisi hubungan masyarakat, bukan semata-mata dari alasan strategis yang kerap dibicarakan di depan publik.

“Menurut saya, itu tidak perlu kecuali dari sudut pandang hubungan masyarakat. Sebenarnya saya merasa lebih baik jika mendapatkannya. Tetapi menurut saya, itu lebih untuk hubungan masyarakat daripada untuk hal lain,” ujar Trump.

Kebuntuan nuklir belum bergeser

Masalah inti tetap berkutat pada sikap Iran yang tidak berubah soal program nuklirnya. Di sisi lain, Washington terus mendorong agar Teheran menyerahkan uranium yang telah diperkaya, sesuatu yang sejauh ini masih ditolak.

Situasi itu membuat hubungan kedua negara kembali memanas, meski gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung sejak April 2026. Gencatan itu belum cukup untuk menghapus sumber ketegangan yang masih mengendap di meja perundingan.

Washington juga masih memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Kebijakan itu ikut memperkeruh suasana geopolitik di kawasan Timur Tengah dan menjaga tekanan tetap tinggi terhadap Teheran.

Dampak meluas ke kawasan

Persoalan ini tidak berhenti pada jalur diplomasi bilateral. Trump sebelumnya juga menyinggung perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran dalam pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Gedung Putih menyebut keduanya sama-sama memandang pentingnya menjaga jalur pelayaran Selat Hormuz tetap terbuka. Jalur itu sangat vital karena menjadi penghubung utama arus pasokan energi dunia, termasuk perdagangan minyak dan gas global.

China sendiri memiliki hubungan dekat dengan Iran dan dikenal sebagai salah satu pembeli utama minyak dari negara tersebut. Karena itu, stabilitas di Selat Hormuz ikut menyentuh kepentingan banyak pihak di luar Washington dan Teheran.

Di tengah kondisi yang masih rapuh, pesan politik dari Washington tampak semakin keras. Iran masih bertahan pada sikapnya soal program nuklir dan uranium, sementara Amerika Serikat terus mendorong hasil cepat agar kebuntuan yang sudah berlangsung tidak semakin dalam.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version