Keputusan Nikita Willy untuk berhijab ternyata berangkat dari proses yang panjang, bukan dorongan sesaat. Yang paling menguatkan justru datang dari momen sederhana bersama putra pertamanya, Issa, yang membuat hatinya semakin mantap menjalani perubahan itu.
Dalam percakapan di sebuah podcast bersama Atta Halilintar, Nikita menjelaskan bahwa ia tidak ingin terburu-buru mengambil langkah besar dalam hidupnya. Ia memikirkan banyak hal sebelum akhirnya benar-benar yakin mengenakan hijab.
Salah satu pertimbangan terbesarnya datang dari perannya sebagai ibu. Nikita merasa penting untuk memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya, karena apa yang ia tunjukkan di rumah juga akan menjadi bagian dari pembelajaran mereka.
Dukungan keluarga yang tidak bersifat memaksa
Di lingkungan keluarga, keputusan itu juga mendapat ruang yang sehat. Suaminya, Indra Priawan, disebut tidak pernah memaksa Nikita untuk berhijab.
Indra justru memberi pandangan dari sisi psikologis, bahwa karakter seseorang cenderung lebih menetap setelah usia 40 tahun. Dari sudut pandang itu, ia menilai masa sebelum usia tersebut bisa menjadi waktu yang tepat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Nikita menegaskan bahwa dorongan utama untuk berhijab tetap datang dari dirinya sendiri. Masukan dari Indra hanya menjadi pertimbangan, bukan tekanan yang mengarahkan keputusan akhirnya.
Peran anak-anak dalam proses hijrah
Selain dukungan pasangan, kehadiran dua putranya ikut memberi pengaruh besar dalam proses itu. Sebagai orang tua, Nikita merasa punya tanggung jawab untuk menampilkan sikap yang bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Baginya, berhijab bukan sekadar perubahan penampilan. Keputusan itu juga berkaitan dengan nilai yang ingin ia hadirkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.
Momen yang paling membekas datang dari Issa, yang kini berusia empat tahun. Nikita mengenang sepulang umroh, ketika guru mengaji Issa memberinya hijab atau kerudung sebagai hadiah karena Issa rajin mengaji.
Saat ditanya ingin hadiah apa, Issa disebut memilih agar dibelikan kerudung untuk ibunya. Sederhana, tetapi momen itu memberi dorongan emosional yang kuat bagi Nikita dan membuat langkahnya semakin mantap.
Perubahan yang dijalani tanpa tergesa-gesa
Nikita juga mengakui bahwa proses menuju hijab sudah ia pikirkan cukup lama. Ia tidak ingin menjalaninya secara tergesa-gesa, apalagi untuk keputusan yang menyentuh banyak sisi dalam hidupnya.
Perubahan itu datang setelah pertimbangan pribadi, dukungan keluarga, dan pengalaman sebagai ibu saling bertemu dalam satu titik. Dari situ, hijab menjadi bagian dari komitmen baru yang ia bangun bersama keluarganya.
Issa sendiri perlahan juga belajar memahami privasi dan bagian tubuh yang tidak boleh diperlihatkan sembarangan kepada orang lain. Dari keseharian itu, ia mulai mengenal konsep aurat dengan cara yang sederhana dan dekat dengan lingkungan rumah.
Source: www.idntimes.com




