Di perlintasan sebidang bawah jalan layang Lempuyangan, Kota Yogyakarta, kereta api bukan sekadar kendaraan yang lewat, melainkan tontonan sore yang selalu menarik perhatian. Menjelang senja, area di sisi timur Stasiun Lempuyangan itu kerap dipenuhi warga yang datang untuk menunggu rangkaian melintas dari dekat.
Keramaian paling terasa ketika langit mulai teduh dan cahaya sore memberi latar yang kuat bagi rel, jalan layang, dan gerbong yang bergerak. Banyak pengunjung datang bersama keluarga, anak-anak, atau sesama penggemar kereta api, lalu berdiri di tepi perlintasan sambil menunggu momen yang mereka incar.
Bagi sebagian warga, waktu sekitar pukul 16.00 WIB dianggap paling pas untuk datang. Ningsih menjadi salah satu yang rutin hadir bersama keponakannya yang berusia 2 tahun 1 bulan karena anak itu senang melihat kereta api.
Ia biasanya meninggalkan lokasi sebelum matahari terbenam, sekitar pukul 17.30 WIB. Pilihan waktu itu membuatnya bisa menikmati suasana senja tanpa terlalu lama berada di titik yang memang mulai ramai saat sore.
Di tempat yang sama, Alam juga sering datang untuk memburu foto dan video. Sebagai penggemar kereta, ia menilai perlintasan di bawah Jalan Layang Lempuyangan punya daya tarik sendiri karena kereta yang melintas cukup banyak.
Saat rangkaian lewat, suasana di lokasi berubah lebih hidup. Sebagian orang melambaikan tangan, sementara lainnya sibuk mengabadikan momen dengan ponsel atau kamera.
Senja yang memperkuat daya tarik visual
Daya tarik Lempuyangan tidak hanya datang dari kereta yang melintas, tetapi juga dari tampilan visual saat sore memudar. Siluet kereta dan infrastrukturnya terlihat lebih dramatis ketika langit mulai jingga.
Kondisi itu membuat area perlintasan bukan hanya ramai oleh penonton, tetapi juga menarik perhatian pemburu konten visual. Pemandangan senja memberi lapisan suasana yang membuat aktivitas menunggu kereta terasa berbeda dibanding waktu lain.
Di sekitar lokasi, pedagang ikut memanfaatkan arus pengunjung. Mereka menjajakan sate ayam, telur gulung, susu murni, hingga angkringan untuk warga yang datang dan bertahan hingga sore.
Di balik ramainya pengunjung, faktor keselamatan tetap dijaga
Meski menjadi titik kumpul warga, perlintasan sebidang tetap menyimpan risiko yang tidak bisa diabaikan. Karena itu, Daop 6 Yogyakarta terus memperkuat upaya keselamatan melalui sosialisasi kepada masyarakat.
Manager Humas Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, mengatakan hingga Triwulan I 2026 pihaknya telah menggelar 217 kegiatan sosialisasi. Rinciannya terdiri dari 212 kegiatan di perlintasan sebidang dan 5 kegiatan di sekolah serta lingkungan masyarakat.
Edukasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan pengguna jalan di sekitar jalur kereta api. Daop 6 juga memasang pengeras suara atau audio imbauan keselamatan di 9 titik perlintasan, yakni JPL 736, 739, 3A, 352, 351, 320, 316, 350, dan 349.
Fasilitas itu diharapkan memberi peringatan dini agar pengguna jalan lebih waspada dan tertib mematuhi rambu. Langkah ini menjadi penting karena aktivitas warga di titik Lempuyangan terus meningkat pada sore hari.
Penutupan perlintasan liar masih berjalan
Selain sosialisasi, pengurangan risiko juga dilakukan lewat penutupan perlintasan liar secara bertahap. Sepanjang periode 2023–Mei 2026, sebanyak 38 perlintasan liar telah ditutup.
Dari jumlah itu, 6 perlintasan ditutup pada 2023, 14 pada 2024, 14 pada 2025, dan 4 hingga Mei 2026. Sebarannya meliputi Wonogiri 17 perlintasan, Solo 4, Wojo 4, Wates 3, Brambanan 2, Sumberlawang 2, Sragen 2, Yogyakarta 2, Klaten 1, dan Palur 1.
Saat ini, wilayah Daop 6 Yogyakarta masih memiliki 292 perlintasan sebidang. Jumlah itu terdiri dari 97 perlintasan dijaga KAI, 29 perlintasan dijaga Pemda, 17 perlintasan dijaga pihak eksternal, dan 136 perlintasan liar.
Daop 6 juga memperkuat kompetensi petugas penjaga perlintasan atau PJL hingga Triwulan I 2026. Pembinaan PJL sudah berjalan sampai angkatan ke-7, termasuk bagi petugas yang berada di bawah pengelolaan Dinas Perhubungan di berbagai titik.
Di lapangan, manajemen Daop 6 Yogyakarta rutin melakukan monitoring melalui kegiatan Tilik Perlintasan Sebidang setiap bulan. Langkah itu dipakai untuk memastikan petugas bekerja sesuai prosedur dan menjaga kesiapsiagaan di tengah ramainya warga yang terus datang ke Lempuyangan setiap sore.
Source: mediaindonesia.com




