Keluarga Ikut Memantau Janin dari Rumah, Detect Me Bantu Ibu Hamil di Daerah

Di banyak wilayah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas, pemantauan kehamilan sering bergantung pada jarak, waktu, dan ketersediaan tenaga medis. Dalam situasi seperti itu, Detect Me hadir dengan pendekatan yang berbeda karena memungkinkan ibu hamil memantau kondisi janin dari rumah melalui perangkat digital yang terhubung dengan layanan kesehatan.

Inovasi ini dirancang agar pemeriksaan tidak selalu menunggu kunjungan ke fasilitas kesehatan. Hasil pembacaan alat bisa masuk ke aplikasi seluler lalu diteruskan ke platform web, sehingga tenaga kesehatan dapat mengikuti data secara real-time dan menilai kondisi kehamilan lebih cepat.

Pemantauan dari rumah yang lebih dekat dengan kebutuhan ibu hamil

Detect Me bukan sekadar alat bantu baca kondisi janin, tetapi juga upaya menjembatani keterbatasan layanan di daerah. Perangkat ini memberi kesempatan kepada ibu hamil untuk melakukan pemantauan secara mandiri tanpa harus terus-menerus datang ke fasilitas kesehatan.

Model seperti ini menjadi penting karena dalam layanan kesehatan ibu, keterlambatan penanganan masih sering menjadi masalah. Jika gangguan kehamilan bisa dikenali lebih awal, tindakan medis juga dapat diambil sebelum risikonya berkembang lebih jauh.

Situasi tersebut relevan dengan kondisi di Indonesia yang masih mencatat rasio sekitar 140 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Angka itu menunjukkan bahwa akses pemantauan dan kecepatan deteksi masih menjadi tantangan besar, terutama di wilayah yang sulit dijangkau.

Lahir dari kolaborasi riset lintas negara

Detect Me dikembangkan melalui proyek riset Ultralight yang melibatkan tujuh institusi dari Indonesia dan luar negeri. Di dalamnya terdapat Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Telkom University, Poltekkes Kemenkes Kupang, Rumah Sakit Hasan Sadikin, dan University of Newcastle.

Keterlibatan banyak lembaga membuat pengembangan alat ini tidak hanya bertumpu pada aspek teknologi. Proyek ini juga diarahkan agar sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan yang beragam, terutama ketika persoalan di lapangan tidak bisa dijawab dengan satu pendekatan saja.

Kolaborasi lintas institusi memberi ruang bagi teknologi ini untuk berkembang sebagai solusi yang lebih dekat dengan praktik kesehatan ibu di berbagai daerah. Dengan begitu, alat tidak hanya menjadi prototipe, tetapi juga bagian dari upaya menjawab kesenjangan layanan yang nyata.

Diuji di wilayah dengan tantangan yang berbeda

Penelitian Detect Me dilakukan di sejumlah lokasi yang memiliki kondisi beragam, termasuk Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan komunitas pengungsi di Australia. Pemilihan wilayah tersebut menunjukkan bahwa inovasi ini memang dipersiapkan untuk menghadapi situasi pemantauan kehamilan yang tidak seragam.

Setiap daerah memiliki hambatan akses dan pola layanan yang berbeda. Karena itu, pengujian alat di berbagai konteks lapangan menjadi penting agar hasil pengembangannya benar-benar mendekati kebutuhan pengguna.

Pendekatan semacam ini juga membantu peneliti melihat bagaimana teknologi bekerja dalam kondisi riil. Dari situ, pengembangan Detect Me dapat disesuaikan agar lebih relevan bagi ibu hamil di daerah yang layanan kesehatannya tidak selalu mudah dijangkau.

Perubahan kebiasaan menjadi tantangan yang tidak kecil

Peneliti utama proyek, Restuning Widiasih, menilai hambatan terbesar tidak hanya muncul dari alatnya, tetapi juga dari kebiasaan pengguna. Masih ada ibu hamil yang terbiasa menunggu tenaga kesehatan datang, sehingga penggunaan perangkat mandiri di rumah membutuhkan penyesuaian.

Menurut Restuning, budaya pasif seperti itu membuat sebagian ibu hamil belum tentu siap mengoperasikan alat sendiri. Karena itu, penerapan teknologi kesehatan seperti Detect Me perlu disertai edukasi dan pendampingan supaya alat dapat benar-benar digunakan secara efektif.

Keluarga ikut masuk dalam proses pemantauan

Salah satu dampak yang juga terlihat dari penggunaan Detect Me adalah meningkatnya keterlibatan keluarga di rumah. Saat alat dititipkan kepada anggota keluarga, terutama suami, proses pemantauan menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya ibu hamil seorang diri.

Kondisi ini membuat keluarga lebih aktif memperhatikan perkembangan janin dan ikut terlibat dalam perawatan kehamilan. Pemantauan pun tidak lagi dipahami sebagai urusan tenaga kesehatan semata, tetapi sebagai bagian dari dukungan yang hadir setiap hari di rumah.

Detect Me pada akhirnya memperlihatkan bahwa teknologi kesehatan bisa mendorong perubahan yang lebih luas daripada sekadar kemudahan pemeriksaan. Di daerah dengan akses layanan terbatas, kehadiran inovasi ini membuka peluang pemantauan janin yang lebih cepat, lebih dekat, dan lebih melibatkan keluarga.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button