Keibuan Diangkat Jadi Kekuatan, Mothers Are Mothering Melaju ke Cannes

Bagi perfilman Indonesia, lolosnya Mothers Are Mothering ke Festival Film Cannes bukan sekadar kabar penayangan. Pencapaian itu menempatkan film pendek ini di ruang yang sangat selektif, sekaligus membawa cerita perempuan Indonesia ke hadapan penonton internasional.

Yang membuatnya menonjol bukan hanya tempatnya di festival bergengsi, tetapi juga cara film ini memandang perempuan. Mothers Are Mothering memilih untuk tidak menempatkan perempuan sebagai tokoh yang pasif atau hanya bertahan dalam keadaan, melainkan sebagai sosok yang utuh, berdaya, dan memegang kendali atas hidupnya sendiri.

Pendekatan seperti itu memberi warna yang berbeda di tengah banyak karya yang masih sering menaruh perempuan dalam posisi korban. Di film ini, keibuan tidak diperlakukan semata sebagai beban atau pengorbanan, melainkan sebagai sumber kekuatan yang ikut membentuk identitas dan karakter.

Kehadiran Happy Salma di proyek ini ikut mempertegas arah tersebut. Ia menyebut karya ini dibangun untuk memperlihatkan perempuan sebagai subjek yang menentukan arah hidupnya sendiri, bukan sekadar objek cerita.

Selain Happy Salma, Asmara Abigail juga terlibat dalam film tersebut. Dua aktris ini sama-sama dikenal lewat rekam jejak yang kuat di perfilman Indonesia dan kerap hadir dalam proyek yang mengangkat isu-isu perempuan.

Di balik layar, Mothers Are Mothering digarap oleh sutradara muda Indonesia Khozy Rizal bersama sineas Singapura Lam Li Shuen sebagai co-director. Kolaborasi lintas negara itu memberi lapisan baru pada proses penggarapan, baik dari sisi visual maupun penceritaan.

Perpaduan tersebut juga menunjukkan bahwa film ini tidak hanya bertumpu pada gagasan cerita. Ada rancangan artistik yang disiapkan untuk menjangkau penonton yang lebih luas, termasuk dalam konteks festival internasional yang menuntut kekuatan visi dan konsistensi sinema.

Mothers Are Mothering dijadwalkan tayang perdana sebagai salah satu dari empat film pendek dalam program La Semaine de la Critique di Cannes. Seksion itu dikenal sebagai ruang bagi sineas baru yang menghadirkan karya visioner dan berani.

Masuk ke program tersebut menjadi pengakuan atas kualitas artistik dan kekuatan narasi film ini. Kehadirannya juga memperlihatkan bahwa tema perempuan dari Indonesia memiliki resonansi yang kuat ketika dibawa ke panggung perfilman dunia.

Film ini turut terhubung dengan program pengembangan Next Step Studio Indonesia. Inisiatif itu dirancang untuk memperkuat ekosistem produksi film nasional dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan menekankan kualitas karya.

Keterlibatan dalam program tersebut membuat pencapaian Mothers Are Mothering terasa lebih luas dari sekadar keberhasilan satu judul film. Proyek ini menjadi bagian dari dorongan agar karya-karya Indonesia makin siap bersaing di tingkat global.

Bagi penonton, Mothers Are Mothering menawarkan cara pandang yang jarang ditempatkan di pusat cerita. Film ini memperlihatkan bahwa pengalaman perempuan dapat hadir dengan kuasa, ketegasan, dan kedalaman, tanpa kehilangan sisi artistik yang membuatnya layak menembus forum internasional.

Source: lifestyle.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button