Di balik bodinya yang sangat kecil, Rollei 35 menunjukkan bahwa kamera ringkas tidak harus identik dengan kualitas yang serba terbatas. Kamera ini justru menggabungkan ukuran yang praktis dibawa dengan format film 35mm penuh, sehingga menarik perhatian banyak pencinta fotografi.
Daya tarik itu semakin besar karena Rollei 35 lahir dari ide yang awalnya nyaris tidak mendapat tempat di jalur produksi. Konsepnya muncul dari Heinz Waaske, yang melihat peluang untuk membuat kamera kecil yang bisa menjawab kebutuhan pengguna kamera sub-miniatur dan half-frame, tetapi tetap memberi pengalaman memakai film 35mm.
Dari kebutuhan pasar ke prototipe pribadi
Waaske menilai banyak pembeli kamera 16mm dan half-frame lebih tertarik pada ukuran bodi yang mungil daripada sekadar format film. Dari pengamatan itu, ia menyimpulkan bahwa pasar membutuhkan kamera yang mudah dibawa, namun tetap fleksibel untuk penggunaan film 35mm.
Dorongan tersebut membuatnya merakit prototipe di rumah pada waktu pribadinya. Ia juga meminta bantuan bengkel prototipe di Wirgin untuk membuat sejumlah komponen, hingga tercipta kamera yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dari sebungkus rokok.
Respons yang justru memutus langkah awalnya
Pada akhir 1964, Waaske memperlihatkan prototipe fungsional itu kepada atasannya di Wirgin, Heinrich Wirgin. Sambutannya tidak positif, karena proyek tersebut dianggap sebagai pemakaian waktu kerja untuk kepentingan pribadi di bengkel prototipe perusahaan.
Situasi itu makin buruk karena Wirgin saat itu sudah memutuskan menghentikan produksi kamera. Akibatnya, rangkaian kerja panjang Waaske tidak berbuah pengembangan produk di perusahaan tersebut, melainkan berakhir dengan keluarnya ia dari Wirgin.
Pindah perusahaan, nasib kamera berubah
Setelah meninggalkan Wirgin, Waaske bergabung dengan Franke & Heidecke, perusahaan yang dikenal lewat Rolleiflex dan Rolleicord. Di tempat baru ini, direktur pelaksana Heinrich Peesel tanpa sengaja melihat prototipe kecil buatan Waaske dan langsung menangkap potensi di balik rancangan itu.
Peesel kemudian memutuskan bahwa kamera tersebut layak dikembangkan untuk produksi massal. Syaratnya, komponen yang dipakai harus berasal dari pemasok Rollei, dan keputusan itu menjadi titik balik yang mengubah proyek pribadi menjadi produk komersial.
Debut Rollei 35 dan fitur awalnya
Kamera ini kemudian diperkenalkan pada Photokina di musim gugur 1966 dengan nama Rollei 35. Model awalnya memakai lensa Zeiss Tessar 40mm f/3.5 dan unit diafragma serta rana presisi buatan Compur dengan desain paten Waaske.
Pada tahap awal, Rollei 35 belum memiliki light meter bawaan. Fitur pengukur cahaya baru hadir pada Rollei B35, yang muncul pada 1969 dengan selenium cell meter yang tidak terhubung langsung ke sistem kamera dan tidak memerlukan baterai.
Pengukuran cahaya dan pengembangan seri
Rollei B35 membawa meter cahaya yang sensitif dari 25 hingga 1600 ASA. Huruf “B” pada namanya berasal dari kata Jerman “Belichtungsmesser”, yang berarti exposure meter.
Pada model-model berikutnya, Rollei mulai memakai light meter CdS yang lebih peka. Pembaruan ini memperkuat posisi seri Rollei 35 sebagai kamera kecil yang tetap berguna dalam pemakaian praktis.
Desain ringkas, mekanisme tetap serius
Rollei 35 dibuat dengan pendekatan mekanis yang sederhana tetapi efektif. Kecepatan rana diatur lewat cincin di dasar lensa, sementara aperture dan fokus dikendalikan dari bagian depan lensa yang bisa ditarik ke dalam bodi kamera.
Kamera ini tidak memakai rangefinder, sehingga fokus dilakukan secara perkiraan. Namun lensa 40mm yang semi-wide memberi kedalaman bidang yang cukup besar, sehingga kamera relatif toleran terhadap kesalahan fokus.
Viewfinder-nya dirancang terang dan jelas, sedangkan pengisian film dilakukan dari bagian bawah dan belakang yang menyatu, mirip mekanisme pada Leica CL atau Nikon F. Detail ini menunjukkan bahwa ukuran kecil tidak membuat Rollei 35 terasa seperti kamera mainan.
Produksi panjang dan jejak yang tertinggal
Selama lebih dari 30 tahun, sekitar dua juta unit Rollei 35 diproduksi. Produksi dimulai di Jerman, lalu berlanjut di Singapura sejak 1971 hingga berhenti pada 1981, sementara seluruh unit memakai lensa buatan Jerman dari Schneider atau Carl Zeiss.
Setelah kebangkrutan Franke & Heidecke pada 1981, Rollei 35 tetap diproduksi di Jerman oleh DHW Fototechnik hingga 2015. Di tengah perubahan besar menuju era digital, keberlanjutan produksi itu menegaskan bahwa rancangan kecil buatan Waaske memang punya tempat penting dalam sejarah fotografi film.





