Kebutuhan Kurban Jatim Kalah Jauh Dari Stok, Pengawasan Idul Adha Diperketat

Pasar hewan kurban di Jawa Timur bergerak lebih cepat dari puncak Idul Adha. Di salah satu titik penyangga utama, Koperasi Ternak Gunungrejo Makmur di Lamongan, sekitar 80 persen dari 300 ekor sapi kurban sudah lebih dulu terserap ke berbagai daerah seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.

Pergerakan itu sejalan dengan situasi pasokan yang sangat longgar di tingkat provinsi. Jawa Timur mencatat stok hewan kurban sebanyak 2.055.978 ekor, sedangkan kebutuhan untuk Idul Adha 1447 H/2026 M diproyeksikan hanya 427.060 ekor.

Ketersediaan yang besar membuat Jawa Timur berada dalam posisi aman untuk memenuhi kebutuhan kurban. Dari total stok tersebut, tercatat 629.119 ekor sapi, 940.693 ekor kambing, 484.468 ekor domba, dan 1.698 ekor kerbau.

Adapun kebutuhan kurban tahun ini diperkirakan terdiri dari 70.550 ekor sapi, 297.900 ekor kambing, 58.600 ekor domba, dan 10 ekor kerbau. Selisih antara stok dan kebutuhan itu menunjukkan pasokan sapi, kambing, dan domba masih jauh di atas permintaan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan data tersebut saat meninjau ketersediaan hewan sapi di Koperasi Ternak Gunungrejo Makmur, Desa Gunungrejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, Minggu (24/5/2026). Ia menilai kondisi ini menjadi tanda bahwa Jawa Timur tetap memegang peran penting sebagai salah satu lumbung ternak nasional.

Perhatian khusus juga tertuju pada Kabupaten Lamongan yang dinilai sebagai penyangga utama penyediaan ternak di provinsi ini. Pada 2026, populasi ternak di daerah tersebut mencapai 108.987 ekor sapi potong, 97.288 ekor kambing, 86.319 ekor domba, dan 130 ekor kerbau.

Khofifah turut menyampaikan apresiasi kepada Bupati Lamongan atas besarnya ketersediaan sapi di wilayah itu. Posisi Lamongan memperkuat rantai pasok hewan kurban di Jawa Timur, terutama saat kebutuhan masyarakat mulai meningkat menjelang Idul Adha.

Di tingkat kandang, koperasi juga sudah menyiapkan jenis sapi kurban yang beragam. Stok itu terdiri dari Peranakan Ongole, Limosin, Simental, dan Lokal, yang disiapkan untuk pasar kurban di berbagai daerah.

Selain jumlah stok yang memadai, harga juga menjadi perhatian dalam pergerakan pasar tahun ini. Khofifah menyoroti adanya peningkatan semangat masyarakat untuk berkurban di tengah berbagai dinamika ekonomi, yang tercermin dari penjualan hewan kurban yang disebut naik dibanding tahun sebelumnya.

Pemantauan di lapangan menunjukkan harga sapi kurban ikut terkerek. Harga per ekor sapi hidup naik sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta, sedangkan harga berdasarkan berat hidup meningkat sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram.

Berbeda dengan sapi, harga kambing dan domba disebut cenderung lebih stabil dibandingkan akhir 2025 hingga awal 2026. Hewan kurban kambing dan domba yang paling diminati masyarakat berada pada kisaran Rp3 juta hingga Rp5 juta per ekor.

Untuk menjaga kesehatan hewan kurban, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan ribuan petugas pemeriksa. Mereka akan melakukan pemeriksaan ante mortem dan post mortem di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.

Jumlah personel yang disiagakan cukup besar, terdiri dari 950 dokter hewan atau medik veteriner, 1.500 paramedik veteriner, 145 pengawas bibit ternak, 75 pengawas mutu pakan, dan 1.997 juru sembelih halal bersertifikat. Pengawasan itu disiapkan agar distribusi dan penyembelihan hewan kurban berjalan aman serta sesuai standar.

Dengan stok yang melimpah, pergerakan pasar yang sudah aktif, dan pengawasan kesehatan yang diperkuat, Jawa Timur menghadapi Idul Adha tahun ini dalam kondisi pasokan yang aman. Situasi tersebut sekaligus menegaskan kembali peran provinsi ini sebagai sentra ternak yang menopang kebutuhan kurban di berbagai wilayah.

Source: suryakabar.com

Baca Juga

Back to top button