Sengketa nuklir Iran kembali memperlihatkan betapa rapuhnya jalan kompromi yang sedang dicari. Di satu sisi, Kazakhstan membuka peluang untuk menyimpan cadangan uranium milik Teheran, tetapi di sisi lain Iran tetap menolak melepas kendali atas material yang sudah diperkaya itu.
Opsi penempatan uranium di luar wilayah Iran sejatinya bukan hal baru dalam perbincangan diplomatik. Namun, gagasan semacam ini hanya akan bergerak jika seluruh pihak utama sepakat, karena penyimpanan di negara ketiga menyentuh langsung isu kepercayaan, keamanan, dan kendali politik atas program nuklir Iran.
Kazakhstan membuka pintu
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional atau IAEA, Rafael Grossi, menyampaikan bahwa Kazakhstan telah membuka kemungkinan menjadi lokasi penyimpanan uranium Iran. Sikap itu langsung menarik perhatian karena cadangan yang dimaksud disebut berada pada tingkat pengayaan yang mendekati kebutuhan untuk pembuatan senjata nuklir, menurut Financial Times.
Grossi menilai kesiapan Kazakhstan dapat menjadi salah satu jalan tengah dalam proses negosiasi. Dalam kerangka diplomasi nuklir, tawaran seperti ini dipandang sebagai langkah teknis yang berpotensi membantu membangun kepercayaan, meski tetap bergantung pada penerimaan semua pihak yang terlibat.
Teheran menutup pintu
Di saat opsi itu mengemuka, Iran justru menunjukkan sikap sebaliknya. Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyerahkan uranium yang telah diperkaya kepada negara ketiga maupun pihak perantara.
Penolakan itu disampaikan di tengah pembahasan mengenai kemungkinan transfer uranium yang telah diperkaya hingga 60% ke China. Azizi menegaskan, “Iran tidak berencana menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya kepada negara ketiga atau pihak perantara.”
Sikap tersebut memperjelas bahwa Iran masih ingin mempertahankan kendali penuh atas material nuklirnya. Dengan posisi seperti ini, ruang bagi solusi teknis dari luar negeri menjadi sangat terbatas selama Teheran tidak mengubah pandangannya.
Jalan diplomasi masih sempit
Perbedaan sikap antara IAEA, Kazakhstan, dan Iran menunjukkan bahwa pembicaraan nuklir ini belum mendekati titik temu. Ada tawaran penyimpanan di negara ketiga yang bisa menjadi pengaman sementara, tetapi ada juga penolakan tegas dari pihak yang memegang cadangan uranium itu sendiri.
Situasi ini membuat penyelesaian tetap bergantung pada negosiasi yang sensitif. Selama belum ada kesepakatan yang disetujui bersama, skema transfer atau penyimpanan uranium di luar negeri akan terus berada di wilayah yang rapuh secara politik dan diplomatik.
Peran mediator pun menjadi semakin penting dalam kondisi seperti ini. Jalur pembicaraan masih terbuka, tetapi setiap langkah baru akan sangat ditentukan oleh sejauh mana pihak-pihak terkait bersedia menerima kompromi.
Source: www.beritasatu.com