Arifah Fauzi menempatkan Hari Kartini sebagai pengingat bahwa kesetaraan perempuan belum benar-benar selesai dibangun. Dalam peringatan itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tersebut menyoroti masih adanya ketimpangan yang menghambat perempuan di berbagai sektor pembangunan.
Sorotan itu tidak hanya berhenti pada ajakan simbolik, tetapi juga pada kebutuhan agar perempuan memperoleh akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang setara dalam proses pembangunan. Arifah menilai, tanpa empat hal tersebut, kesetaraan akan tetap sulit diwujudkan secara utuh.
Ketimpangan masih terasa di banyak bidang
Menurut Arifah, persoalan yang dihadapi perempuan masih tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari dan dalam proses pembangunan nasional. Hambatan itu muncul bukan hanya saat perempuan berusaha ikut terlibat, tetapi juga ketika hasil pembangunan belum dirasakan secara setara oleh mereka.
Ia menyoroti bahwa ketimpangan masih muncul di tiga bidang penting, yaitu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Ketiganya dipandang menentukan sejauh mana perempuan dapat berkembang dan mengambil peran yang lebih besar di masyarakat.
Dari sudut pandang itu, Hari Kartini tidak cukup dipahami sebagai seremoni tahunan. Peringatan tersebut justru perlu dibaca sebagai ruang refleksi untuk melihat kembali apakah perempuan sudah benar-benar mendapat tempat yang adil dalam pembangunan.
Kesetaraan tidak bisa ditopang satu pihak saja
Arifah juga menegaskan bahwa upaya memperkuat kesetaraan perempuan tidak dapat dibebankan kepada satu lembaga. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan perlu bergerak bersama agar kebijakan yang dihasilkan memberi dampak nyata.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama dinas-dinas terkait di daerah disebut memiliki komitmen untuk mendorong pengarusutamaan gender. Komitmen itu dijalankan melalui kebijakan, program, dan inovasi yang lebih inklusif.
Pendekatan lintas sektor dinilai penting karena persoalan yang dialami perempuan saling berkaitan. Saat akses pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi masih timpang, maka solusi juga harus lahir dari kerja bersama antarlembaga.
Kartini sebagai simbol pilihan dan kendali
Pesan lain yang ditekankan Arifah adalah pemaknaan terhadap semangat Raden Ajeng Kartini. Menurutnya, Kartini tidak hanya menjadi simbol pembukaan akses bagi perempuan, tetapi juga lambang agar perempuan memiliki pilihan, suara, dan kendali atas hidupnya sendiri.
Pemahaman itu membuat kesetaraan tidak berhenti pada kesempatan formal. Yang lebih penting adalah memastikan perempuan benar-benar bisa mengambil keputusan, ikut berpartisipasi penuh, dan merasakan manfaat dari pembangunan yang berjalan.
Arifah juga menilai bahwa semangat Hari Kartini perlu menjadi panggilan bersama agar pembangunan menghadirkan keadilan. Refleksi tersebut penting supaya ruang kesetaraan terus diperluas, baik di lingkungan keluarga maupun di ruang publik.
Dorongan kebijakan yang lebih inklusif
Dalam pandangan Arifah, komitmen pemerintah perlu tercermin di dalam kebijakan yang sensitif gender. Program yang dibuat tidak cukup menempatkan perempuan hanya sebagai penerima manfaat, melainkan juga harus membuka ruang bagi mereka untuk ikut terlibat dalam pengambilan keputusan.
Dengan cara itu, pengarusutamaan gender diharapkan tidak berhenti sebagai slogan. Arifah menempatkannya sebagai bagian dari kerja pembangunan yang harus hadir di berbagai lini, mulai dari pusat hingga daerah.
Pesan utama yang muncul dari peringatan Hari Kartini adalah perlunya kerja bersama untuk menutup ketimpangan yang masih ada. Dalam kerangka itu, sinergi lintas sektor menjadi dasar penting agar perempuan benar-benar memperoleh kesempatan yang setara dalam pembangunan nasional.