Rencana pengembangan Kampung Haji Indonesia di Makkah kini mengarah ke lokasi yang sangat dekat dengan pusat ibadah umat Islam, yakni sekitar 400 meter dari Masjidil Haram. Target ini menjadi perhatian karena pemerintah melalui Danantara Indonesia ingin menghadirkan tempat tinggal yang lebih praktis bagi jamaah Indonesia selama berada di Tanah Suci.
Sorotan utama dari rencana ini bukan hanya soal kedekatan jarak, tetapi juga kebutuhan jamaah yang banyak berada pada usia lanjut. Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menilai kedekatan lokasi akan sangat membantu jamaah Indonesia yang kini banyak berada di rentang usia 60–70 tahun.
Fokus untuk jamaah sepuh
Kondisi fisik jamaah lanjut usia menjadi salah satu alasan kuat di balik dorongan membangun kawasan penginapan yang lebih dekat dengan Masjidil Haram. Selama ini, sebagian jamaah Indonesia disebut harus menempuh jarak hingga 9–10 kilometer untuk mencapai area ibadah.
Jarak yang jauh itu membuat kebutuhan akan hunian yang lebih dekat semakin mendesak. Dengan akses yang lebih singkat, jamaah diharapkan bisa menghemat tenaga dan lebih leluasa memusatkan perhatian pada rangkaian ibadah.
Lahan strategis yang diperebutkan
Dalam acara Economic Briefing 2026 di Jakarta, Kamis (23/4/2026), Hashim menyampaikan bahwa Danantara sedang bersaing dengan puluhan pihak lain untuk mendapatkan lahan tersebut. Informasi itu dikutip dari Antara dan menunjukkan bahwa posisi lahan menjadi nilai jual utama dalam rencana ini.
Lokasi yang hanya berjarak sekitar 400 meter dari Masjidil Haram dipandang sangat strategis. Karena itu, pengadaan lahan tersebut dinilai penting untuk mendukung kebutuhan layanan haji Indonesia yang lebih dekat dan efisien.
Bentuk kawasan Kampung Haji
Lewat proyek Kampung Haji, pemerintah tidak hanya ingin membangun tempat singgah biasa bagi jamaah. Kawasan itu dirancang sebagai ruang istirahat yang mendukung kebutuhan jamaah Indonesia selama di Makkah.
Hashim menyebut rencana pembangunan mencakup sekitar 15 menara yang akan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang. Salah satu fasilitas yang disiapkan adalah restoran khas Indonesia agar jamaah lebih mudah menemukan makanan yang akrab di lidah.
Dalam penjelasannya, ia mencontohkan kemungkinan hadirnya restoran nasi padang atau restoran Aceh di kawasan tersebut. Kehadiran fasilitas seperti ini diharapkan membuat jamaah, terutama yang lebih sepuh, merasa lebih nyaman selama menjalankan ibadah.
Dukungan dan harapan dari proyek ini
Hashim menilai proyek Kampung Haji bisa menjadi terobosan dalam pelayanan haji bagi Indonesia. Ia juga menyebut adanya dukungan dari Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, sebagai salah satu faktor penting dalam pengembangan kawasan itu.
Manfaat yang diharapkan dari proyek ini tidak berhenti pada urusan penginapan jamaah. Pemerintah juga melihat peluang yang lebih luas, termasuk penguatan ekosistem halal global dan potensi manfaat ekonomi berlipat bagi Indonesia.
Sebelumnya, pemerintah melalui Danantara telah mengamankan lahan seluas 45 hektare di Makkah untuk pengembangan Kampung Haji Indonesia. Dengan posisi yang dekat dengan Masjidil Haram, kawasan ini dipandang bisa memperkuat layanan bagi jamaah Indonesia yang membutuhkan akses ibadah yang lebih praktis dan fasilitas yang lebih sesuai kebutuhan.
Source: www.beritasatu.com