Kalium Naik Saat Fase Bunga, Kunci Terong Ungu Agar Akar Tetap Kuat Dan Buah Stabil

Banyak hasil terong ungu ditentukan bukan saat buah mulai terlihat, melainkan jauh sebelum itu, ketika tanaman membangun akar dan menyiapkan fase bunga. Urutan pemupukan yang tepat membantu tanaman melewati fase vegetatif dengan stabil lalu masuk ke pembungaan tanpa banyak gangguan.

Di budidaya terong ungu, langkah awal sering menjadi penentu. Karena itu, pengolahan lahan dan media tanam perlu diperhatikan sejak awal agar suplai hara bisa langsung mendukung pembentukan perakaran dan pertumbuhan berikutnya.

Fondasi awal untuk akar yang lebih kuat

Pada fase awal tanam, tanaman membutuhkan pupuk dasar untuk membantu akar berkembang lebih baik. Dua produk yang disebut sesuai untuk tahap ini adalah NPK GOLD DGW 16-10-18 dan HX DAP dari PT HEXTAR FERTILIZER INDONESIA.

NPK GOLD DGW 16-10-18 memiliki Nitrogen 16%, Phospate 10%, dan Kalium 18%. Di dalamnya terdapat teknologi AVAIL dan NutriSphere-N yang membantu meningkatkan ketersediaan Nitrogen dan Fosfor, sehingga akar lebih mudah terbentuk sekaligus mendorong pertumbuhan tunas, batang, dan daun.

Dosis yang dianjurkan adalah 200 Kg/Ha pada 7 HSbT atau tujuh hari sebelum tanam. Aplikasinya bisa dilakukan dengan cara ditugal atau ditaburkan merata di lahan.

HX DAP juga dipakai saat pengolahan lahan karena kandungan Nitrogen 18% dan Phospate 46% tergolong tinggi. Kombinasi unsur ini membantu merangsang pembentukan akar dan meningkatkan kekuatan tanaman, dengan dosis 100 Kg/Ha melalui cara ditabur.

Pertumbuhan vegetatif tetap harus seimbang

Setelah akar terbentuk, tanaman tidak boleh dibiarkan kekurangan hara. Terong ungu tetap membutuhkan komposisi yang seimbang agar tunas, batang, dan daun tumbuh baik tanpa mengorbankan kesiapan masuk fase generatif.

Pada tahap ini, NPK COMPACTION DGW 15-15-15+TE menjadi salah satu pilihan. Pupuk ini mengandung Nitrogen, Phospate, dan Kalium masing-masing 15%, ditambah Magnesium 2%, Zinc 0,05%, dan Boron 0,1%.

Teknologi Compaction Compound di dalamnya membantu pembentukan tunas, batang, dan daun agar lebih lebat. Unsur haranya juga mendukung pembentukan klorofil yang penting dalam proses fotosintesis.

Dosis aplikasinya 250 Kg/Ha. Petani dapat menebarkannya merata, menugal, atau mengocorkannya dengan takaran 2-4 Kg/200 L air setiap 10-14 hari.

Saat bunga muncul, komposisi hara ikut berubah

Memasuki fase generatif, kebutuhan tanaman bergeser. Terong ungu memerlukan pasokan yang lebih mendukung pembentukan bunga dan buah, bukan hanya pertumbuhan daun dan batang.

Di tahap ini, NPK BOOSTER DGW 12-6-22-3+TE disebut cocok karena kandungan Kalium-nya lebih tinggi, yakni 22%. Pupuk ini juga mengandung Nitrogen 12%, Phosphate 6%, Magnesium 3%, Zinc 0,05%, dan Boron 0,1%.

Kalium yang tinggi membantu meningkatkan bobot buah terong, sementara Boron berperan mencegah kerontokan bunga dan buah. Dengan begitu, hasil panen berpeluang lebih stabil saat tanaman mulai fokus membentuk buah.

Dosis aplikasinya 200 Kg/Ha. Pupuk ini bisa ditugal, ditaburkan merata, atau dikocorkan 3-6 Kg/200 L air setiap 14 hari.

Pupuk daun membantu fase pembungaan

Selain pupuk tanah, pemupukan lewat daun juga bisa mendukung pembentukan bunga dan buah. HX MKP menjadi salah satu pilihan karena mengandung Phospate 50% dan Kalium 35%.

Pupuk ini diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada dosis 2-5 Gram/L air. Penggunaannya dianjurkan saat tanaman berumur 30 HST atau ketika mulai masuk fase generatif pembentukan bunga dan buah.

Kandungan Phospate dan Kalium yang tinggi membantu pembentukan bunga, mempercepat pematangan buah, serta meningkatkan kualitas, warna, rasa, dan daya simpan buah terong.

Penyerapan hara perlu dibuat lebih efektif

Agar pupuk daun maupun pestisida bekerja lebih merata, penyerapan hara juga perlu didukung. WETCIT digunakan sebagai surfaktan superior untuk membantu proses itu berjalan lebih baik.

Produk ini menurunkan tegangan permukaan air, membentuk mikro droplet, dan membuat pupuk daun atau pestisida lebih mudah merata, merekat, serta menembus jaringan tanaman. WETCIT diaplikasikan pada umur 15 HST dengan dosis 0,5 ml/L hingga 1 ml/L.

Keunggulannya disebut berbahan organik, aman bagi lingkungan, menghemat dosis pestisida, memiliki rainfastness power, serta membantu penyerapan pupuk dan pestisida berlangsung lebih cepat dan lebih baik. Dengan pola seperti ini, terong ungu punya peluang lebih besar menghasilkan buah lebat tanpa kehilangan kekuatan akar dan kestabilan bunganya.

Exit mobile version