Jelang Kurban, Pengawasan Pasar Hewan Di Jatim Diperketat Karena PMK Masih Menyebar

Jelang Iduladha, perhatian terhadap hewan kurban di Jawa Timur tidak hanya tertuju pada jumlah pasokan, tetapi juga pada kondisi kesehatannya. Penyakit Mulut dan Kuku masih terdeteksi di sejumlah titik, sehingga pengawasan di pasar ternak dinilai perlu diperketat sejak awal.

DPRD Provinsi Jawa Timur menilai pasar hewan menjadi titik paling rawan dalam peredaran ternak menjelang kurban. Lalu lintas hewan yang terlalu longgar dikhawatirkan membuka ruang penyebaran penyakit lebih luas di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Anggota Komisi B DPRD Jatim, Khusnul Khuluk, meminta pemerintah daerah lebih aktif turun ke lapangan. Menurut dia, pemantauan tidak boleh dilakukan sesekali, karena sebaran penyakit di beberapa wilayah masih mengkhawatirkan.

Khusnul menyebut ada daerah yang masih terjangkit dan bahkan dinilai lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, ia mendorong pengawasan yang lebih rapat agar pergerakan ternak yang masuk dan keluar pasar bisa dipantau dengan lebih ketat.

Di sisi lain, pembeli juga diminta tidak hanya bergantung pada keterangan pedagang saat memilih hewan kurban. Pemeriksaan sederhana secara langsung dinilai penting agar masyarakat tidak salah membeli ternak yang terindikasi sakit.

Tanda yang perlu dicermati antara lain kondisi mulut hewan. Jika tampak bengkak dan mengeluarkan air liur seperti sariawan, hewan tersebut sebaiknya dihindari.

Kondisi kaki juga menjadi perhatian. Bengkak atau luka pada bagian kaki bisa menjadi indikator lain yang perlu diwaspadai sebelum transaksi dilakukan.

Pengawasan kesehatan hewan tidak berhenti setelah hewan berpindah tangan. Petugas kesehatan hewan juga diminta mendatangi titik-titik pemotongan, termasuk Rumah Pemotongan Hewan serta lokasi penyembelihan mandiri di masjid dan lingkungan pemukiman.

Langkah itu dianggap penting karena pemeriksaan harus mencakup bagian dalam hewan sebelum dikonsumsi. Tujuannya adalah menjaga keamanan pangan sekaligus menekan risiko gangguan kesehatan pada masyarakat.

Khusnul menyebut petugas peternakan dan kesehatan hewan biasanya rutin mendatangi daerah dengan pelaksanaan kurban yang padat. Jika ditemukan bagian yang membahayakan, bagian tersebut perlu dibuang.

Jeroan menjadi salah satu bagian yang disarankan tidak dikonsumsi bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya risiko. Karena itu, pengawasan berlapis di pasar hingga lokasi penyembelihan dinilai perlu agar hewan kurban yang disembelih tidak hanya layak secara fisik, tetapi juga aman saat dikonsumsi.

Source: www.malangtimes.com

Baca Juga

Back to top button