Klip yang menampilkan Giorgia Meloni seolah menjauh dari Benjamin Netanyahu di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ramai dibahas di media sosial. Namun, sejumlah pemeriksaan justru menunjukkan bahwa video itu tidak punya dasar kuat sebagai rekaman nyata dan lebih mengarah pada konten yang dibuat dengan kecerdasan buatan.
Salah satu petunjuk paling jelas datang dari alat deteksi Hive Moderation AI-Generated Content Detection, yang menilai video tersebut 92,7 persen “likely to be AI-generated”. Hasil itu sejalan dengan temuan lain yang muncul ketika cuplikan tersebut diperiksa lebih jauh, mulai dari pencarian berita hingga pengecekan visual pada latar tempat.
Video viral itu pertama kali diposting oleh akun @MrImranPk di X. Narasi yang menyertainya menggambarkan Meloni bersikap dingin terhadap Netanyahu dalam suasana sidang resmi PBB, sehingga klip tersebut cepat menarik perhatian dan memicu perdebatan di linimasa.
Masalahnya, klaim itu tidak didukung bukti yang memadai. Penelusuran di Google News dan Yahoo! News tidak menemukan laporan yang cocok dengan kata kunci “Giorgia Meloni, Netanyahu, United Nations”, padahal momen seperti itu semestinya berpotensi besar diliput media internasional.
Ketiadaan jejak pemberitaan dari media arus utama menjadi sinyal penting dalam verifikasi semacam ini. Jika sebuah peristiwa terjadi di forum sebesar Sidang Umum PBB, biasanya ada rekaman pendukung, laporan resmi, atau liputan media yang bisa menjadi pembanding.
Pemeriksaan visual terhadap frame video juga menimbulkan pertanyaan lain. Salah satu bagian klip memperlihatkan ruang Sidang Umum PBB dengan susunan elemen yang tidak selaras dengan kondisi asli General Assembly Hall.
Dalam cuplikan yang beredar, lambang PBB tampak berada pada posisi dinding yang tidak cocok dengan tampilan nyata ruangan tersebut. Saat dibandingkan dengan gambar referensi dari General Assembly Hall, termasuk tur 360 derajat di YouTube yang diunggah PBB serta gambar lain di situs resmi PBB, terlihat perbedaan pada tata letak dan detail latar.
Perbedaan itu penting karena ruang sidang resmi PBB memiliki ciri visual yang cukup khas. Bila latarnya tidak cocok dengan referensi asli, kemungkinan adanya manipulasi digital menjadi lebih besar, apalagi ketika objek utamanya juga tampak tidak didukung konteks kejadian yang bisa diverifikasi.
Selain soal latar, arah pandang tokoh dalam video ikut dianggap janggal. Dalam hasil pemeriksaan, arah pandang Giorgia Meloni justru mengarah ke bagian dinding yang tidak menampilkan detail sebagaimana terlihat di klip viral, sehingga komposisi visualnya terasa tidak konsisten.
Rangkaian temuan tersebut membuat video ini semakin sulit dipercaya sebagai dokumentasi kejadian nyata. Deteksi AI, absennya laporan dari sumber kredibel, dan ketidaksesuaian pada latar ruangan sama-sama mengarah pada kesimpulan bahwa klip yang beredar bukan rekaman asli.
Kasus ini juga menunjukkan bagaimana konten berbasis AI bisa menyebar cepat ketika menyentuh tokoh politik dan situasi yang sensitif. Pada pandangan pertama, video semacam ini bisa terlihat meyakinkan, tetapi pemeriksaan yang lebih teliti tetap dibutuhkan sebelum narasinya diterima sebagai fakta.





