Jarak Antarbintang, Radiasi, Dan Biaya Energi Membuat Perjalanan Alien Ke Bumi Nyaris Tak Masuk Akal

Masalah terbesar dalam perjalanan ke Bumi bukan sekadar soal menemukan arah yang benar, melainkan bagaimana melintasi ruang antarbintang tanpa hancur di tengah jalan. Untuk sampai ke sini, peradaban asing harus melewati rangkaian hambatan yang sangat ketat, mulai dari jarak yang luar biasa jauh, kebutuhan energi yang besar, hingga paparan radiasi dan partikel kosmik yang merusak.

Perhatian publik terhadap UFO memang kembali menguat setelah Pentagon merilis batch kedua foto dan video yang sebelumnya dirahasiakan. Kesaksian para whistleblower di Kongres juga membuat laporan objek terbang tak dikenal diperlakukan lebih serius oleh pemerintah dan komunitas ilmiah.

Jarak yang membuat perjalanan nyaris tak masuk akal

Secara ilmiah, belum ada bukti kehidupan cerdas asing di tata surya. Jika ada pengunjung dari luar, mereka harus datang dari sistem bintang lain di galaksi Bima Sakti.

Bintang terdekat dengan Matahari adalah Proxima Centauri, yang berjarak 4,25 tahun cahaya atau sekitar 25 triliun mil, setara 40 triliun kilometer. Gambaran jaraknya sederhana tetapi ekstrem: jika Bumi sebesar kacang polong, jarak ke Proxima Centauri kira-kira setara perjalanan dari New York ke Sydney, Australia.

Dan itu baru bintang terdekat. Karena hanya sebagian kecil bintang yang diduga memiliki kehidupan cerdas, peradaban alien terdekat hampir pasti berada lebih jauh lagi, sehingga perjalanan makin sulit sejak awal.

Kecepatan tinggi belum otomatis menyelesaikan masalah

Perjalanan antarbintang hampir pasti memakan waktu bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Semakin lama perjalanan berlangsung, semakin besar risiko kecelakaan fatal atau kerusakan sistem yang bisa menggagalkan misi.

Itulah sebabnya wahana harus melaju sangat cepat, tetapi fisika memberi batas keras. Tidak ada objek yang bisa mencapai atau melampaui kecepatan cahaya, yakni sekitar 186.000 mil atau 300.000 kilometer per detik.

Bahkan sebelum mendekati batas itu, kendala teknik sudah muncul. Ketersediaan bahan bakar dan risiko kerusakan struktur akan membatasi kecepatan puncak wahana, dan sejumlah studi umumnya mengarah pada sekitar 19.000 mil per detik, atau 30.000 km/detik, sebagai kecepatan jelajah yang realistis.

Pada kecepatan tersebut, perjalanan sejauh 10 tahun cahaya tetap memakan waktu sekitar 100 tahun. Artinya, bahkan rute yang tampak singkat di skala kosmik tetap berubah menjadi perjalanan lintas generasi.

Mesin yang harus mendorong sekaligus memperlambat

Tantangan besar berikutnya adalah bukan hanya mempercepat pesawat, tetapi juga menghentikannya dengan aman. Di ruang antarbintang tidak ada atmosfer, sehingga tidak ada hambatan aerodinamis saat kendaraan melaju, tetapi juga tidak ada medium alami yang membantu memperlambat kapal ketika tiba.

Karena itu, sistem propulsi ideal harus mampu mengakselerasi di awal dan mendeselerasi di akhir perjalanan. Salah satu konsep paling futuristis adalah laser bertenaga tinggi untuk mendorong layar reflektif tipis di wahana, dengan foton dari berkas laser memberi tekanan radiasi dan mendorong kapal maju tanpa perlu bahan bakar di atas kapal.

Namun, kebutuhan energi dan infrastruktur untuk menjalankan laser semacam itu akan sangat besar. Selain itu, metode ini tidak menyediakan mekanisme pengereman, sehingga paling jauh cocok sebagai bagian dari strategi hibrida.

Roket, antimateri, dan fusi sama-sama punya batas

Pendekatan yang lebih praktis adalah roket, karena roket menghasilkan gaya dorong dengan menyemburkan gas buang berkecepatan tinggi dan arah dorongan itu bisa dibalik untuk memperlambat kapal. Kelemahannya, roket harus membawa bahan bakarnya sendiri selain penumpang, habitat, dan sistem penunjang kehidupan.

Beban tambahan itu menuntut bahan bakar lebih banyak lagi, sehingga kebutuhan massa membengkak seperti bola salju. Propulsi kimia yang digunakan dalam semua misi antariksa manusia sejauh ini hanya memanfaatkan sebagian kecil energi dalam bahan bakar, dan jika dipakai untuk mencapai 19.000 mil per detik, kebutuhan bahan bakarnya akan melebihi seluruh massa alam semesta yang teramati.

Antimateri tampak paling efisien secara teori. Saat antimateri bertemu materi biasa, keduanya saling memusnahkan dan 100% massa gabungan berubah menjadi energi, sehingga kecepatan jelajah yang sama bisa dicapai dengan bahan bakar kurang dari seperempat massa total pesawat.

Tetapi antimateri sangat tidak stabil dan sulit dibuat, dengan produksi sejauh ini kurang dari 20 miliar per satu gram, masa hidup hanya pecahan detik, dan biaya mencapai ratusan juta dolar. Fusi nuklir menawarkan alternatif yang lebih masuk akal daripada antimateri karena mengambil energi dari inti atom, seperti proses yang memberi tenaga pada Matahari.

Meski masih aspiratif dengan teknologi saat ini, mesin fusi secara teori bisa menghasilkan energi 10 juta kali lebih besar per kilogram dibanding roket kimia. Bahkan begitu, kapal bertenaga fusi yang melaju pada 19.000 mil per detik tetap membutuhkan bahan bakar setara 150 kali massa kapal itu sendiri.

Ruang antarbintang ikut ikut menguji batas material

Bahaya tidak berhenti pada mesin. Ruang antarbintang memang hampir kosong, tetapi tetap mengandung atom hidrogen dan butiran debu kosmik yang sangat kecil.

Pada kecepatan 19.000 mil per detik, partikel debu akan menghantam lambung kapal dengan energi setara peluru .22 kaliber. Tabrakan atom hidrogen juga bisa memicu rangkaian radiasi keras yang mengikis material teknik paling tangguh sekalipun.

Agar selamat, wahana harus seperti benteng terbang dengan pelindung magnetik kompleks. Masalahnya, perlindungan semacam itu menambah massa kapal, dan massa tambahan selalu menaikkan kebutuhan bahan bakar.

Pada akhirnya, persoalannya bukan satu hambatan tunggal, melainkan kumpulan syarat yang saling mengunci. Tangki bahan bakar, lambung, perlindungan, dan efisiensi sistem semuanya harus cocok sekaligus, padahal satu komponen dituntut sangat ringan namun juga sangat tahan.

Itulah alasan mengapa perjalanan antarbintang ke Bumi tidak secara langsung dilarang oleh hukum fisika, tetapi bisa menjadi tidak layak secara fisik karena terlalu banyak kendala teknik yang ekstrem dan saling bertentangan. Sebelum membayangkan alien benar-benar mendarat di Bumi, pertanyaan yang paling berat justru ada pada kemampuan teknologi dan sumber daya yang harus mereka miliki untuk membuat perjalanan itu mungkin.

Baca Juga

Back to top button