Isu yang paling sulit dalam rencana perundingan Amerika Serikat dan Iran bukan hanya soal nuklir. Selat Hormuz, sanksi, dan kemungkinan pemindahan cadangan uranium yang diperkaya ikut masuk ke daftar pembahasan yang membuat dialog ini jauh lebih sensitif.
Pembicaraan disebut berpeluang digelar di Pakistan paling cepat pekan depan, dengan Islamabad kembali diposisikan sebagai titik temu. Wall Street Journal melaporkan bahwa kedua pihak sedang menyiapkan nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin sebagai kerangka perundingan selama satu bulan untuk menghentikan perang.
Agenda yang paling berat ada di meja
Dalam pembicaraan itu, nasib program nuklir Iran menjadi salah satu isu inti. Selain itu, ada pembahasan tentang kemungkinan pemindahan cadangan uranium yang diperkaya milik Iran ke negara lain.
Susunan agenda seperti ini menunjukkan bahwa negosiasi tidak berdiri di atas satu persoalan saja. Setiap poin berkaitan erat dengan langkah lanjutan, sehingga kegagalan pada satu bagian dapat menggagalkan keseluruhan pembicaraan.
Sanksi masih jadi batu sandungan
Meski kerangka perundingan sedang disusun, sejumlah isu sensitif belum menemukan titik temu. Salah satu hambatan terbesar adalah besaran pengurangan sanksi terhadap Iran.
Perdebatan soal sanksi ini masih berpotensi mengganggu jalannya negosiasi. Karena itu, kedua pihak tetap mencari jalan keluar melalui mediator agar pembicaraan tidak berhenti di tengah jalan.
Hormuz ikut menambah tekanan
Selat Hormuz membuat pembicaraan ini melampaui kepentingan Washington dan Tehran. Jalur perairan itu sangat penting bagi pasokan minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan di sana langsung memicu kekhawatiran yang lebih luas.
Ketegangan kawasan meningkat setelah AS-Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas serangan tersebut, dan konflik meluas hingga mengganggu keamanan jalur pelayaran penting.
Pakistan kembali dipakai sebagai penengah
Pakistan bukan nama baru dalam upaya meredakan konflik ini. Pada 8 April, gencatan senjata disepakati melalui mediasi Pakistan, meski putaran pertama perundingan damai di Islamabad pada 11 April tidak menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Setelah itu, Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu yang ditentukan. Namun sejak 13 April, AS disebut memblokade lalu lintas maritim Iran di jalur perairan strategis itu, sehingga situasi di lapangan tetap tegang.
Perundingan baru masih bergantung pada banyak syarat
Kombinasi gencatan senjata yang rapuh, blokade maritim, dan kebuntuan soal sanksi membuat pertemuan berikutnya mendapat sorotan besar. Islamabad kini muncul lagi sebagai tempat yang diharapkan bisa membuka ruang kompromi baru.
Jika pembicaraan berjalan positif, kerangka awal selama satu bulan itu masih bisa diperpanjang. Tetapi hal itu hanya mungkin terjadi bila kedua pihak sama-sama menyepakatinya.
Source: www.viva.co.id




