Iran Duduki Kursi Wakil Presiden Sidang NPT, AS Sebut Kredibilitas Perjanjian Nuklir Terganggu

Ketegangan lama antara Amerika Serikat dan Iran kembali muncul di forum nuklir dunia setelah Teheran mendapat posisi Wakil Presiden dalam Konferensi Peninjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir atau NPT di markas besar PBB. Keputusan itu langsung menuai keberatan keras dari Washington yang menilai langkah tersebut mencederai kredibilitas forum yang seharusnya memperkuat pengawasan nuklir global.

Protes Amerika Serikat mencuat karena Iran masih berada dalam sorotan terkait transparansi program nuklirnya. Di tengah forum yang mestinya menjadi ruang pembahasan soal pencegahan penyebaran senjata nuklir, pemilihan Iran justru memunculkan perdebatan baru tentang kelayakan dan integritas proses di dalam konferensi tersebut.

Keberatan terbuka dari Washington

Asisten Sekretaris Biro Pengendalian Senjata dan Non-proliferasi AS, Christopher Yeaw, menyampaikan penolakannya secara langsung di hadapan para delegasi. Ia menilai pemberian peran pimpinan kepada Iran bertentangan dengan semangat dasar NPT dan memberi dampak buruk bagi wibawa konferensi.

Yeaw menegaskan bahwa Iran selama ini menunjukkan sikap yang tidak sejalan dengan komitmen non-proliferasi. Ia bahkan menyebut keputusan itu sebagai sesuatu yang sangat memalukan bagi kredibilitas forum.

Pemerintah AS juga menilai Teheran belum memberikan penjelasan yang memadai kepada badan pengawas nuklir PBB dalam beberapa tahun terakhir. Dari sudut pandang Washington, kondisi tersebut membuat Iran tidak pantas berada di posisi yang ikut memengaruhi jalannya sidang.

Sikap Iran tidak kalah keras

Iran menolak tudingan Amerika Serikat dan menilai keberatan Washington lebih bersifat politis daripada prinsipil. Duta Besar Iran untuk IAEA, Reza Najafi, membalas kritik itu dengan menyoroti posisi Amerika Serikat sendiri dalam sejarah nuklir dunia.

Najafi menyatakan bahwa sangat tidak dapat dipertahankan jika Amerika Serikat, satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir, justru ingin tampil sebagai penentu kepatuhan. Ia juga menyinggung langkah AS yang terus memperluas dan memodernisasi gudang senjata nuklirnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana pertarungan narasi antara kedua negara kembali mengemuka di ruang internasional. Iran tetap mempertahankan klaim bahwa pengayaan uraniumnya ditujukan untuk kebutuhan damai dan mendukung energi nasional.

Prosedur tetap berjalan, tetapi sorotan tidak mereda

Duta Besar Vietnam untuk PBB, Do Hung Viet, selaku ketua konferensi, memastikan bahwa pemilihan berlangsung sesuai mekanisme kelompok. Iran meraih kursi Wakil Presiden melalui dukungan kelompok negara non-blok dan sejumlah anggota lain, sehingga prosesnya tetap sah secara prosedural.

Namun, sahnya proses tidak otomatis meredakan kritik. Iran kini menempati salah satu dari 34 kursi Wakil Presiden konferensi, sebuah posisi yang memberi bobot simbolik tetapi sekaligus memicu kegelisahan negara-negara Barat yang masih curiga terhadap arah program nuklir Teheran.

Konferensi NPT sendiri digelar setiap lima tahun untuk meninjau efektivitas perjanjian yang berlaku sejak 1970. Forum ini memegang peran penting karena mengatur keseimbangan antara hak penggunaan nuklir sipil dan kewajiban mencegah penyebaran senjata nuklir.

Latar sengketa yang terus membayangi

Kecurigaan terhadap Iran tidak muncul dari ruang kosong. Amerika Serikat dan sekutu Baratnya masih memandang pengayaan uranium Iran berisiko dialihkan untuk kepentingan militer, meski Teheran berkali-kali menegaskan tujuannya bersifat damai.

Keraguan itu juga dipengaruhi laporan IAEA yang sebelumnya menyebut adanya program pengembangan senjata nuklir Iran, meskipun program tersebut diduga dihentikan pada 2003. Di sisi lain, masih ada ketidakpastian soal sisa material nuklir di situs yang tidak dideklarasikan.

Situasi tersebut membuat upaya meredakan ketegangan diplomatik tetap berjalan lambat. Jarak pandang antara Iran dan negara-negara Barat masih lebar, sementara setiap perkembangan di forum internasional kerap memicu respons baru.

Dari Gedung Putih, sikap keras juga kembali ditegaskan. Juru bicara Karoline Leavitt menyebut garis merah Presiden terhadap aktivitas nuklir Iran sudah dibuat sangat jelas, menandakan bahwa polemik di konferensi NPT ini tidak hanya soal kursi pimpinan, tetapi juga soal kepercayaan dalam pengawasan nuklir internasional.

Source: www.suara.com
Exit mobile version