Pencarian terhadap James “Weston” Higginbotham di Jepang terus menjadi perhatian keluarga, terutama karena jejak terakhir mahasiswa Auburn itu masih belum jelas setelah turun dari kereta di Kyoto. Di tengah upaya penyisiran yang meluas, keluarga menduga ponsel Weston sengaja dimatikan karena ia merasa terlalu sering menerima pesan dari rumah.
Weston terakhir diketahui turun dari kereta di stasiun Yamashina, Kyoto, pada 29 Mei. Polisi setempat belum memastikan apakah ia sempat naik kereta lagi setelah itu, sehingga titik pergerakannya sesudah momen tersebut masih menjadi tanda tanya.
Keith Higginbotham mengatakan kebiasaan komunikasi keluarga membuat kondisi ini terasa sangat tidak biasa. Ia menilai putranya mungkin mematikan ponsel karena kewalahan oleh pesan-pesan yang terus masuk untuk menanyakan keberadaannya.
“ Kami sangat terhubung, saling tahu selalu ada di mana,” kata Keith. Ia juga menjelaskan bahwa di Auburn, keluarga biasanya mengetahui aktivitas Weston saat ia tidak berada di rumah.
Perjalanan keluarga yang berubah jadi pencarian
Keluarga Higginbotham awalnya sedang berlibur di Jepang untuk merayakan kelulusan SMA adik laki-laki Weston. Menurut Nancy Higginbotham, mereka sempat berselisih kecil sebelum memutuskan berpisah sementara agar masing-masing bisa menjalani kegiatan sendiri.
Nancy mengatakan Weston memang ingin waktu sendiri ketika mereka tidak lagi berjalan bersama. Ia menilai keputusan itu wajar karena Weston sudah berusia 20 tahun, cukup mandiri, dan dikenal sebagai navigator yang baik.
Situasi berubah ketika Weston tidak kembali ke rombongan. Sejak saat itu, kedua orang tuanya aktif menyebarkan imbauan di media sosial dan berbicara ke media untuk membantu pencarian.
Penyisiran diperluas di Kyoto
Polisi setempat masih melakukan pencarian, sementara keluarga menerima pembaruan dari Kedutaan Besar AS setiap malam. Pada salah satu hari pencarian, Nancy mengatakan puluhan polisi Jepang menyisir lumpur setinggi pinggang untuk mencari putranya.
Ia juga menyebut anjing pelacak dan helikopter ikut dikerahkan. Di saat yang sama, cerita mengenai Weston mulai muncul di jaringan televisi Jepang dan warga setempat membantu membagikan selebaran orang hilang.
Keith menambahkan bahwa Weston suka mendaki, dan ada jalur hiking di dekat area tempat ia terakhir terlihat. Hal itu membuat keluarga menaruh perhatian lebih pada kemungkinan rute yang mungkin ditempuh Weston setelah berpisah dari rombongan.
Ciri fisik dan kondisi yang dikhawatirkan keluarga
Weston digambarkan setinggi 6 kaki 1 inci, berambut pirang panjang, dan bermata biru. Saat terakhir terlihat, ia mengenakan kaus putih bertuliskan “Save the Bees” di bagian belakang serta celana korduroi warna lavender.
Keluarga juga menilai Weston mungkin sedang mengalami tekanan emosional. Nancy mengatakan kondisi itu membuat pencarian menjadi sangat mendesak karena keluarga ingin segera mengetahui keberadaannya.
Auburn University menyampaikan belasungkawa dan mengatakan pikiran mereka bersama Weston, keluarga, teman, dan orang-orang terdekatnya. Kampus itu juga menjelaskan Weston adalah mahasiswa junior jurusan biosystems engineering yang sedang bepergian bersama keluarga ketika ia menghilang.