Kasus spionase yang menyeret nama Iran di Israel kini menyorot cara perekrutan yang memanfaatkan ruang digital sehari-hari. Facebook dan WhatsApp disebut menjadi pintu masuk untuk menjangkau orang-orang yang sedang terdesak secara ekonomi maupun emosional.
Pemeriksaan aparat Israel menilai pola ini tidak berjalan acak. Jaringannya diduga diarahkan untuk mencari orang dengan akses ke lingkungan sensitif, termasuk sektor pertahanan, sehingga informasi strategis bisa dikumpulkan dari dalam.
Menurut kepolisian Israel, para agen yang dikaitkan dengan Iran menyusup ke grup-grup WhatsApp dan Facebook yang ramai diikuti pekerja lepas serta pencari kerja. Kelompok itu dianggap lebih mudah dipengaruhi karena kerap mencari tambahan penghasilan melalui jalur daring.
Kapten Seffi Berger dari unit investigasi Lahav 433 menjelaskan bahwa pendekatan semacam ini sengaja menyasar kondisi sulit korban. Tekanan psikologis dan persoalan keuangan dinilai membuat sebagian target lebih mudah menerima tawaran atau menjalankan instruksi.
Modus yang dipakai juga tidak berhenti pada janji uang. Aparat menyebut ada tekanan lain berupa pemerasan seksual setelah korban dijerat melalui situs dewasa.
Di tengah pengusutan, perhatian publik Israel meningkat setelah dua anggota Angkatan Udara Israel ditangkap dan didakwa terlibat spionase. Kasus itu memperkuat kekhawatiran bahwa jaringan tersebut sudah menembus kalangan militer.
Penyelidikan menyebut sekitar 50 tersangka diduga terlibat dalam lebih dari 20 kasus spionase selama 18 bulan terakhir. Salah satu perkara yang paling disorot melibatkan prajurit cadangan yang bertugas dalam sistem pertahanan udara Iron Dome.
Temuan itu memunculkan dugaan bahwa Iran ingin mengumpulkan intelijen strategis untuk mengenali target penting dan menyiapkan opsi serangan rudal di masa depan. Sejumlah sumber keamanan Israel menilai jaringan seperti ini dapat membuka akses ke informasi sensitif dari lingkungan militer.
Besarnya imbalan juga tidak merata bagi para pelaku yang diduga masuk jaringan. Sebuah kelompok beranggotakan tujuh orang disebut menerima hampir US$ 300.000, sementara seorang tentara dikabarkan hanya menerima US$ 21 sebelum dijatuhi hukuman penjara dua tahun.
Perbedaan itu menunjukkan bahwa tidak semua orang yang terseret memperoleh keuntungan besar. Sebagian justru masuk lewat tawaran cepat, tekanan hidup, atau ancaman yang membuat perekrutan melalui media sosial dinilai efektif oleh aparat.
Penyidik Israel masih memburu sejumlah tersangka lain yang belum tertangkap. Kekhawatiran kini tertuju pada kemungkinan jaringan perekrutan daring semacam ini masih aktif dan terus mencari korban baru melalui platform yang sama.
Source: www.beritasatu.com




