Investasi Asing Tetap Deras, Ekonomi Indonesia Masih Kokoh di Tengah Gejolak Dunia

Minat investor asing terhadap Indonesia masih terlihat kuat meski kondisi dunia belum stabil. Di tengah perang, ketegangan geopolitik, dan tekanan geoekonomi, arus modal dari negara-negara besar tetap masuk ke Indonesia dan memberi sinyal bahwa perekonomian domestik masih dipandang menarik.

Daya tarik itu tidak hanya datang dari besarnya pasar, tetapi juga dari kemampuan Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi. Dalam situasi global yang mudah berubah, ketahanan ekonomi dalam negeri menjadi salah satu alasan utama investor terus melirik Indonesia.

Arus modal asing masih bertahan

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, menyebut minat investasi dari Korea Selatan, Tiongkok, dan Jepang masih tinggi. Jepang tercatat menanamkan modal mendekati 30 miliar dollar AS atau setara Rp 514 triliun, disusul Korea Selatan dengan 10 miliar dollar AS atau sekitar Rp 171 triliun.

Tiongkok juga disebut tetap konsisten dengan angka investasi yang tinggi. Aliran modal dari tiga negara itu menunjukkan bahwa Indonesia masih dipandang memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan, meskipun ketidakpastian global belum mereda.

Fiskal dijaga agar tetap lentur

Di sisi lain, pemerintah masih menjaga ruang fiskal agar tetap aman. Salah satu fokus utama adalah mempertahankan defisit APBN agar tidak melewati batas 3 persen, dengan pengetatan belanja negara di berbagai lini sebagai langkah pengendalian.

Langkah itu penting karena memberi pemerintah kemampuan untuk tetap aktif menopang stabilitas ekonomi. Dalam situasi eksternal yang tidak menentu, kebijakan fiskal yang hati-hati menjadi salah satu penyangga utama agar ekonomi domestik tidak mudah terguncang.

Komoditas masih memberi bantalan

Penerimaan negara juga masih terbantu oleh komoditas. Ekspor batu bara dan minyak sawit mentah atau CPO disebut ikut menambah pemasukan yang memperkuat daya tahan ekonomi nasional.

Dukungan dari sektor ini membuat kebijakan fiskal memiliki bantalan yang lebih kuat. Selama penerimaan dari komoditas tetap mengalir, peran negara dalam menjaga stabilitas ekonomi masih bisa berjalan lebih efektif.

Harga energi dan pangan tetap terkendali

Kondisi fiskal yang terjaga juga tercermin pada kebijakan energi. Pemerintah masih bisa mempertahankan harga bahan bakar minyak subsidi agar tidak naik, sehingga tekanan biaya hidup masyarakat dapat ditekan.

Dampaknya, harga pangan di pasar tetap relatif terjangkau. Ketersediaan energi dan pangan yang stabil menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama ketika situasi global belum memberikan kepastian.

Target besar tetap dipasang

Meski tantangan eksternal masih besar, pemerintah tetap membidik realisasi investasi Rp 13.000 triliun untuk periode 2025-2029. Target itu menunjukkan keyakinan bahwa perekonomian Indonesia masih punya ruang tumbuh yang kuat.

Rosan menilai target tersebut memang menantang, tetapi masih bisa dikejar. Ia juga menegaskan bahwa sentimen positif investor tidak mudah hilang, walaupun dunia masih menghadapi tekanan perang, ketegangan geopolitik, dan geoekonomi.

Untuk memperkuat posisi Indonesia di mata investor global, pemerintah juga menyiapkan Indonesia Financial Center. Langkah ini ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperluas daya tarik Indonesia di kawasan dan menjaga aliran investasi tetap masuk.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, turut menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa pertumbuhan dan aktivitas ekonomi nasional masih terjaga. Sinyal itu memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada kombinasi penerimaan komoditas, pengendalian fiskal, kestabilan harga energi, dan masuknya investasi asing.

Exit mobile version